Pengelola Pendidikan Salah Urus Siswa

Sejumlah Siswa SDN membuat surat untuk Bpk Presiden Indonesia Ir, Joko Widodo (JOKOWI), dari siswa SDN Sukasari Kota Tangerang, Kamis (20/6/2019). Isi dalam surat tersebut seluruh siswa SDN Sukasari memberi ucapan selamat, dan mereka meminta pendidikan di indoneisa agar lebih di perhatikan terutama bagi anak-anak yang kurang mampu untuk bersekolah karena biaya yang begitu mahal. FOTO: Faisal R Syam / FAJAR INDONEISA NETWORK

JAKARTA – Pendidikan di Indonesia perlu banyak pembenahan. Bukan hanya kompetensi para guru, namun juga perlu menjadi perhatian serius pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Siswa pada usia anak perlu dieksplore daya daya berpikir kritis, menganalisa, dan memecahkan masalah. Namun selama ini pengelola pendidikan mengabaikan hal itu semua.

Hal itu seperti disampaikan oleh ekonom sekaligus Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, di Jakarta, kemarin (14/12).

Rhenald Kasali menyebut, para pemangku kepentingan yang mengelola pendidikan selama ini lebih fokus pada capain pendidikan antartingkat sehingga lupa akan dasar utama pendidikan yakni PAUD. Padahal fase usia dini ini paling krusial dalam pendidikan.

Karena itu, Rhenal Kasali mendirikan Yayasan Rumah Perubahan,  yang salah satu kegiatannya adalah menyediakan sekolah bermutu untuk anak-anak kurang mampu pada level dasar.

Di yayasan ini, Rhenald Kasali akan membentuk anak-anak PAUD dan TK untuk melatih dengan nalar.

Metode yang akan diajarkan Rhenald adalah anak-anak akan berperan berbagai profesi seperti dokter, guru, pemadam kebakaran, maupun orangtua.

Meski terlihat sederhana, mereka belajar bagaimana berkomunikasi, berinteraksi, saling berbagi, saling menghargai, memupuk empati, bertoleransi, menekan ego ingin menang sendiri, belajar berpikir kritis, menganalisa, dan memecahkan masalah yang dihadapi, hingga belajar mencapai tujuan bersama melalui kolaborasi.

“Ini adalah nilai-nilai dasar yang membentuk seseorang. Jika nilai-nilai dasar itu tidak diajarkan sejak dini, anak-anak bisa tumbuh menjadi remaja yang beringas. Setiap menghadapi permasalahan, tidak diselesaikan dengan cara komunikasi penuh empati dan kreatif mencari solusi, tapi dengan ego tinggi. Akibatnya, tawuran pelajar pecah di mana-mana,” paparnya.

Rhenald Kasali menyebutkan, keberhasilan ini terlihat dari pencapaian anak-anak yang dibimbingnya selama 15 tahun.

“Kami berhasil membentuk apa yang biasa dikenal sebagai higher order thinking skills (HOTS) yang menjadi acuan dalam survei skor PISA (Programme for International Student Assessment, Red),” ujarnya.

Terpisah, Pengamat Pendidikan, Budi Trikorayanto mengatakan, sependapat dengan Rhenald Kasali yang menekankan pentingnya membentuk karakter sejak dini.

“PAUD itu adalah dasar pembentukan karakter yang merupakan fondasi bagi jenjang pendidikan berikutnya,” ujar Budi kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (15/12).

Karakter ketika sudah beranjak dewasa atau duduk di bangku universitas akan terbentuk. “Di tingkat SD masih lumayan bisa dibentuk, SMP dan SMA minimal sekali, di PT sudah gak berguna upaya membentuk karakter. Sudah fixed jadi demikian,” katanya.

Pemerintah juga perlu memperhatikan pada sekolah-sekolah yang mengajarkan radikal. Sebab apabila sudah diracuni ajaran demikian, maka akan kesulitan dalam meluruskannya.

“PAUD sangat strategis, jika di PAUD sudah ditanamkan karakter radikalis yang eksklusif dan memusuhi mereka yang tidak sama dengan si anak. Repotlah di pendidikan selanjutnya,” tutur dia.

Apalagi, lanjut dia, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mensinyalir dunia pendidikan PAUD sudah diracuni oleh ajaran radikalisme.

Dia juga menyoroti ada sekolah yang melarang PAUD mengajarkan baca tulis dan berhitung, namun hanya boleh bermain saja. “Lha penyajian Calistung di PAUD itu kan dengan cara bermain. Bukan duduk kaku di depan buku,” ucap dia.

Budi mencontohkan, di negara Amerika Serikat dan Cina, pengenalan huruf, buku, angka itu dilakukan sedini mungkin. Sejak umur 2-3 tahun.

“Pada masa pembentukan karakter di PAUD di negeri kita, anak-anak bolehnya bermain tidak boleh belajar Calistung, maka gak heran sampai tua juga kita senengnya main-main belaka,” tukas dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here