Kendalikan Inflasi, BI Dorong Produktivitas Bawang Merah

BREBES – Dalam upaya pengendalian inflasi komoditas bawang merah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tasikmalaya melakukan capacity building ke Kabupaten Brebes Jawa Tengah Kamis-Sabtu (12-14/12). Kegiatan ini diikuti Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Se Priangan Timur dan stakeholder.

Kepala Unit Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tasikmalaya Yayat Sudrajat mengatakan, dari tahun ke tahun bawang merah menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi terbesar di Priangan Timur. Hal ini mengingat terbatasnya pasokan bawang merah di Priangan Timur. “Keterbatasan pasokan ini membuat harga bawang merah tidak stabil dan memicu inflasi,” ujarnya di Brebes Jawa Tengah Jumat (13/12).

Untuk mengatasi hal tersebut, BI dan TPID Se Priangan Timur terus menggenjot produktivitas pertanian bawang merah. “Makanya sekarang ini kita datang ke Brebes terkait pengembangan budidaya dan kerja sama antar daerah komoditas bawang merah,” katanya.

Peserta capacity building yang di dalamnya termasuk petani bawangdiajak untuk bertemu dengan kelompok tani setempat. Selain itu, peserta juga berdiskusi dengan Pemerintah Kabupaten Brebes.

“Brebes ini salah satu daerah penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Kami ingin petani dan tim TPID Priangan Timur bisa menggali potensi yang ada di daerahnya setelah melakukan kunjungan ke Brebes ini,” sambungnya. Bahkan, kata ia, setelah kunjungan ini BI menjajaki kerja sama business to business dengan Brebes dalam hal pasokan bawang merah. Dengan pasokan yang mencukupi, diharapkan harga bawang di Priangan Timur bisa stabil.

Ia menambahkan, selama ini kebutuhan bawang merah di Priangan Timur dipasok oleh kelompok tani binaan BI di Sodonghilir, Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya dan Cimerak Pangandaran. Ketika kekurangan pasokan, kebutuhan bawang merah dipasok dari luar daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal M Taufik Amrozi mengatakan Brebes merupakan salah satu sentra bawang merah terbesar. Kontribusinya lebih dari 21 persen dari produksi nasional. “Brebes memproduksi sekitar 300 ribu ton bawang merah tiap tahunnya. Ini untuk memenuhi kebutuhan Jawa Tengah dan nasional,” katanya. Dengan pasokan yang terjaga, diharapkan tercipta kestabilan harga. “Kami berupaya menjaga daya beli masyarakat, syukur-syukur harganya bisa ditekan,” katanya.

Ia menyebutkan, selain terus meningkatkan produktivitas bawang merah, Brebes juga berinovasi dengan membuat produk olahan bawang dalam bentuk pasta. “Inovasi ini diperlukan untuk menggeliatkan ekonomi dan melepaskan ketergantungan negara kita dari produk impor. Kalau segala kebutuhan kita didatangkan dari luar negeri, rupiah kita bakal terpuruk,” ujarnya.

Makanya, pemerintah dan BI mendorong para petani bawang ini untuk melakukan ekspor produk olahan bawang. “Kelompok tani di bawah pimpinan Pak Jauhari kini sudah bisa mengekspor 56 ton pasta bawang ke Arab Saudi. Ini kontribusi Brebes untuk negeri,” katanya. Kalau petani sudah bisa ekspor, sambungnya, maka diharapkan bisa menstimulasi industri-industri untuk menjadi pahlawan devisa juga. “Warna merah pada bawang merah ini dianalogikan seperti bendera sang saka merah putih yang mampu memberi semangat kepada petani untuk membangun negeri dan menyelamatkan rupiah,” katanya. Ia berharap, Priangan Timur bisa termotivasi untuk membangkitkan produktivitas petani-petani khususnya petani bawang merah. “Harus optimis bahwa ekonomi Priangan Timur bisa lebih maju dan mampu melahirkan petani-petani unggul dan produktif,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya Tedi Setiadi mengatakan, kebutuhan bawang merah di Kota Tasikmalaya terus meningkat, namun stoknya terbatas. Sehingga Kota Tasikmalaya terus mendorong agar sektor bawang merah ini terus meningkat. “Berbagai upaya akan kita tempuh termasuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) petani bawang dan stakeholder. Tak sekadar penyuluhan, lebih dari itu ada pendampingan,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here