Nikah Massal di Purbalingga

Ilustrasi: Pixabay

PURBALINGGA – Acara Nikah Massal yang diselenggarakan Pemkab Purbalingga, Kamis (12/12), memiliki nuansa lain. Terlihat dari 49 pasang mempelai, Mahroji (76), warga Desa Tegalpingen Kecamatan Pengadegan yang menyunting Hadirah (49), warga desa yang sama, menjadi mempelai pria tertua.

Mahroji mengaku ikut nikah massal karena tidak mengeluarkan biaya sendiri. Selain itu agar segera bisa membangun rumah tangga. Dirinya pernah berkeluarga namun bercerai dan sudah lama menduda. “Kalau sudah nikah resmi dan tercatat oleh negara merupakan kebanggaan tertib administrasi sebagai warga negara yang baik,” ungkapnya, kemarin siang usai bersanding di Pendapa Dipokusumo, Kabupaten Purbalingga.

Sedangkan mempelai termuda bernama Sollah Triyono (20) yang menikahi Sinditah (16). Keduanya warga Desa Jingkang Kecamatan Karangjambu. Sebelum di sampai di Pendapa Dipokusumo, tak kurang dari 49 pasangan mengikuti ijab qabul di Masjid Agung Daarussalaam Purbalingga. Usai pelaksanaan ijab qabul di Masjid Daarussalam, seluruh pasangan mengikuti resepsi di Pendapa Dipokusumo.

Plt Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Purbalingga, Drs Sridadi MM, sebagai penyelenggara mengatakan, pasangan mempelai berasal dari 39 desa di 14 kecamatan di Purbalingga. Awalnya terdaftar 50 pasang. Tapi belakangan satu pasang Desa Binangun mengundurkan diri karena menurut perhitungan harinya tidak cocok.
Para peserta nikah massal ini pun diberikan fasilitas dari Pemkab Purbalingga berupa biaya nikah sebesar Rp 600 ribu, bantuan transportasi sebesar Rp 160 ribu per pasangan dan mahar berupa seperangkat alat salat.

“Pemerintah juga memberikan kompor gas dua tungku untuk masing-masing pasangan, kain batik sarimbit, satu buah sprei, satu paket tuka tuku dan voucher menginap di Hotel Owabong selama satu malam,” rinci Sridadi.

Pada acara resepsi Nikah Massal juga dilaksanakan penyerahan dokumen kependudukan pada masing-masing pasangan. Dokumen kependudukan yang diserahkan yakni buku nikah, KTP dan KK yang sudah berganti status menjadi kawin.

Salah satu penghulu pada Nikah Massal Tahun 2019, Agus Musalim mengatakan, nikah massal ini merupakan satu bentuk perhatian dari Bupati Purbalingga beserta jajarannya kepada warga Purbalingga untuk mewujudkan Purbalingga yang kokoh dan kuat. Dimana Purbalingga yang kokoh dan kuat itu salah satu unsurnya yakni harus ditopang oleh keluarga yang kuat.

“Karena keluarga yang kuat itulah akan menopang pembangunan negara, sehingga Nikah Massal ini dalam rangka memfasilitasi masyarakat Purbalingga yang ingin melangsungkan akad nikah dan kebetulan mereka mempunyai keterbatasan dari berbagai segi,” kata Agus. (amr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here