Terkait Kasus Emirsyah Satar, KPK Akan Beberkan Keterlibatan Pejabat Lain

Febri Diansyah/ist

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan membeberkan dugaan keterlibatan pihak lain terkait kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat Garuda Indonesia. Pengungkapan tersebut rencananya akan dilakukan pada persidangan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan Dirut PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedardjo.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengungkap, perkara ini berjalan cukup kompleks. Karena, kata dia, pihaknya tak hanya berhasil mengidentifikasi adanya praktik suap melainkan juga penggunaan beberapa rekening atasnama pihak lain di beberapa negara.

“Ada suap yang diberikan melalui pihak lain. Tetapi ada penggunaan rekening-rekening dengan nama yang lain di beberapa negara dan ada kontrak yang sangat besar yang ditandatangani oleh pihak di Indonesia. Itu semua akan diuraikan,” ujar Febri di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Jumat (6/12).

Febri mengungkap, mulanya KPK mengidentifikasi dugaan aliran dana suap senilai Rp20 miliar. Seiring berjalannya penyidikan, jumlah tersebut bertambah menjadi Rp100 miliar pasca tim penyidik melakukan kroscek terhadap puluhan rekening.

Dikatakan Febri, dana berjumlah fantastis itu diduga tak hanya mengalir ke kantong Emirsyah Satar. Akan tetapi beberapa pejabat PT Garuda Indonesia saat itu juga diduga turut menikmati aliran dana.

“Semua yang terkait pada pembuktian perkara ini akan kami uraikan mulai dari dakwaan. Ini kasusnya cukup kompleks bukan sekedar suap dari pihak lain,” tutur Febri.

Sebelumnya, tim penyidik KPK telah merampungkan penyidikan dua tersangka kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat Airbus SAS serta Rolls-Royce PLC pada PT Garuda Indonesia dan dugaan pencucian uang. Kedua tersangka yakni mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dan eks Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedardjo.

KPK pun telah melimpahkan berkas perkara, barang bukti, dan tersangka ke pentuntutan tahap dua. Persidangan keduanya rencananya dilaksanakan di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam waktu dekat.

KPK membutuhkan waktu sekirar dua tahun 11 bulan untuk menangani perkara ini. Rentang tersebut dihitung sejak lembaga antirasuah menerbitkan sprindik bagi Emirsyah Satar pada 16 Januari 2017 lalu.

Selama proses penyidikan tersebut, KPK berupaya mengidentifikasikan kontrak bernilai miliaran dolar AS yang ditandatangani oleh Garuda Indonesia. Kontrak-kontrak tersebut antara lain kontrak pembelian mesin dan perawatan mesin (Total Care Program) Trent seri 700 dengan perusahaan Rolls Royce, kontrak pembelian pesawat Airbus A330 dan Airbus A320 dengan perusahaan Airbus SAS.

Selain itu, kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR) dan kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan dua tersangka yakni Emirsyah selaku Direktur Utama PT Garuda Indonesia periode 2005-2014 dan Soetikno Soedarjo selaku presiden komisaris PT Mugi Rekso Abadi pada 16 Januari 2017 lalu.

Emirsyah dalam perkara ini diduga menerima suap 1,2 juta dan $180 ribu atau senilai total Rp20 miliar serta dalam bentuk barang senilai $2 juta yang tersebar di Singapura dan Indonesia dari perusahaan manufaktur terkemuka asal Inggris, Rolls Royce. Suap diberikan terkait pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005-2014 pada PT Garuda Indonesia.

Pemberian suap itu dilakukan melalui seorang perantara Soetikno Soedarjo selaku beneficial owner dari Connaught International Pte. Ltd yang berlokasi di Singapura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here