Beranda Pendidikan Sistem Sekolah Tiga Hari Gak Masuk Akal

Sistem Sekolah Tiga Hari Gak Masuk Akal

- Advertisement -
- Advertisement -

JAKARTA – Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) meminta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menindaklanjuti hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) dibandingkan membahas wacana tiga hari sekolah.

Sebelumnya, wacana tiga hari sekolah per minggu dilontarkan ini, diusulkan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi kepada Mendikbud.

Direktur Eksekutif CERDAS, Indra Charismiadji mengatakan, untuk membangun sumber daya manusia membutuhkan keseriusan dibandingkan wacana yang diusulkan oleh Kak Seto tersebut.

“Kemendikbud hendaknya menindaklanjuti hasil PISA 2018 ini, karena kemampuan anak-anak kita masih di bawah rata-rata Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD),” kata Indra, Jumat (6/12)

Dia menjelaskan bahwa pembenahan pendidikan bukan hanya kuantitas atau jam belajar melainkan juga kualitas pembelajaran, sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing.

“Memotong jam belajar tidak secara otomatis membuat anak-anak kita memiliki daya saing tinggi,” ujarnya.

Indra juga meminta, agar Kemendikbud fokus pada pembenahan kualitas pembelajaran, yang harus dilakukan secara holistik. Tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah.

Pernyataan senada juga dilontarkan pemerhati pendidikan, Doni Koesoema. Menurutnya, konsep tiga hari belajar tidak cocok diterapkan pada saat ini. Sebab, jika anak hanya sekolah selama tiga hari, maka apa kegiatan anak dua hari lainnya.

“Pembenahan pendidikan bukan dengan mengurangi waktu sekolah, dari lima hari menjadi tiga hari,” ujar Doni.

Menurut Doni, sekolah tiga hari akan membuat waktu anak-anak akan terbuang sia-sia karena tidak ada aktivitas pembelajaran. Perbaikan pendidikan, lanjut dia, bukan berarti mengurangi waktu sekolah menjadi tiga hari.

“Supaya pendidikan itu baik, bukan berarti terus dikurangi tiga hari. Kalau cuma Senin, Selasa, Rabu, terus hari sisanya ngapain anak-anak itu,” katanya.

Doni juga mengatakan, bahwa belum pernah menemukan kebijakan seperti ini di negara-negara lain. Menurutnya, argumentasi Kak Seto ketika mengusulkan sekolah tiga hari tidak masuk akal dan tidak bisa dijadikan patokan secara nasional.

“Banyak kok sekolah-sekolah swasta yang menerapkan sekolah lima hari memiliki prestasi, baik akademik maupun akademik, lebih baik dibanding homeschooling. Homeschooling dia kan hanya satu dari puluhan ribu homeschooling di Indonesia. Masa hanya dari satu contoh lalu kemudian dipakai secara nasional,” tuturnya.

“Menurut saya argumentasinya tidak masuk akal, karena kalau sampelnya dari homeschooling saja tidak tepat dan sangat kecil,” sambungnya.

Sebelumnya, Kak Seto mengusulkan kepada Mendikbud Nadiem Makarim agar waktu sekolah dipersingkat dari lima hari menjadi tiga hari.

Kak Seto mencontohkan homeschooling miliknya, yang hanya belajar selama tiga hari. Pemotongan jam belajar disinyalir akan meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik anak.

(der/fin)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here