Penderita Diabetes, Dilarang Lepas Sandal

LUBUKLINGGAU – Diabates salah satu penyakit yang disebabkan meningkatnya kadar gula darah akibat kekurangan hormon insulin. Baik secara absolut maupun relatif.

Hormon insulin dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Insulin bekerja membawa gula ke pembuluh darah dan menjadikannya energi bagi tubuh.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Siti Aisyah Lubuklinggau, dr Ahmar Kurniadi Sp.PD kepada Linggau Pos, Kamis (5/12) mengatakan gejala seseorang mengidap diabetes biasanya makan yang terus menerus tetapi berat badan tidak naik-naik, banyak minum dan sering kencing.

“Ada 3P gejala diabetes, poliuri sering buang air kecil dengan volume yang banyak pada malam hari. Polidipsi sering merasa haus dan ingin banyak minum karena dehidrasi. Polifagi nafsu makan yang meningkat, memiliki rasa lapar yang terus menerus tetapi badan tidak naik-naik,” katanya.

Lebih lanjut dr Ahmar menjelaskan ada tiga tipe diabetes yakni tipe 1 yang insulinnya absolut atau tidak ada sama sekali karena sel pankreasnya rusak. Hal inilah yang menyebabkan kadar gula darah naik dan terjadi kerusakan pada organ tubuh. Tipe 1 ini bisa menyerang anak-anak dan para remaja. Biasanya diturunkan dari orang tua.

Tipe 2, insulinnya masih ada atau relatif tetapi tidak dapat dipergunakan dengan baik. Penderita tipe ini sering tidak menyadari telah mengidap diabetes bertahun-tahun.

Tipe lainnya yakni tipe gestasional yang muncul pada masa kehamilan saja dan hanya berlangsung hingga selesai melahirkan. Diabetes tipe ini diakibatkan perubahan hormon selama hamil, termasuk hormon yang membuat tubuh kebal terhadap insulin.

Penderita diabetes rentan mengalami komplikasi. Ada dua bentuk komplikasi diabetes antara lain komplikasi jangka panjang dan komplikasi jangka pendek.

“Komplikasi jangka panjang peningkatan gula darah mendadak disebut dengan ketoasidosis diabetes. Komplikasi ini berupa Mikroangiopati, gangguan pembuluh darah yang kecil. Jika terjadi pada ginjal bisa menyebabkan gagal ginjal akhirnya si penderita harus cuci darah. Kalau gangguan pembuluh mata bisa menyebabkan kebutaan. Makroangiopati bisa menyebabkan serangan jantung, mudah terkena infeksi karena aliran darah tidak lancar. Kalau tidak cepat sembuh timbullah koreng. Satu lagi Neuropati rasa kesemutan, nyeri, sampai mati rasa yang terjadi pada kaki,” paparnya.

Komplikasi jangka pendek atau akut bisa berefek tak sadarkan diri, kejang-kejang akibat gula darah terlalu rendah disebut hipoglikemia. Komplikasi ini bisa menyebabkan kematian jika tidak cepat diatasi. Ciri khas komplikasi ini badan lemas dan keringat dingin.

Dr Ahmar Sp. PD menuturkan tidak ada istilah kencing manis basah atau kencing manis kering yang ada hanya kencing manis.

“Kalau kencing manis jangan berjalan tanpa sandal. Sering kejadian, masyarakat berpikir kalau berjalan jangan pakai sandal biar cepat sembuh. Padahal kalau tidak bersandal bisa menyebabkan lecet dan infeksi hingga terjadilah koreng,” katanya.

Adapun pengobatan diabetes berupa suntikan insulin, rutin minum obat diabetes, diet seimbang sesuai dengan berat badan. Jumlah makan tetap 3x sehari tetapi jangan berlebihan harus seimbang, 30 kalori per kg berat badan. Jika komplikasi sudah berat seperti kaki sudah membusuk harus diamputasi agar tidak menyebar ke organ tubuh lainnya.

“Kalau makan berlebihan, makan banyak, merokok kuat, minum alkohol, tidak pernah olahraga hingga menyebabkan badan gemuk bisa cepat terkena manifest. Jangan minum alkohol karena dapat merusak kelenjar pankreas,” pesannya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Musi Rawas (Mura) mendata sepanjang 2019 ada 1.288 warga terjangkit Diabetes Mellitus. Data itu dihimpun Surveilans Terpadu Penyakit (STP) Berbasis Puskesmas Dinkes Kabupaten Mura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here