Pulau Seksi itu Bernama Bali

Kala senja di Tanah Lot, Bali. (Foto: Syaiful Amri/Fin)

Antara Senja, Alam dan Pluralisme

Naskah dan Foto: M. Syaiful Amri

MENGINJAKAN kaki di Pulau Dewata memang menjadi mimpi warga belahan dunia. Senja dan alamnya merayu mata. Canang atau sesajen di altar, harum luruh menyatu dengan udara Balidwipa.

Sesajen di tepian jalan, dibungkus wangi bunga Jepung, Anggrek, sampai Kamboja menghias di pelataran para pemuja dewa.

Inilah Bali, alam seraya berujar ”Selamat datang di negeri pelancong”.

Ya, dari selebriti sampai para ’kartel’ berkelas, memang memilih Kepulauan Sunda kecil itu, untuk bermanja-manja. Menghabiskan waktu dengan kolega hingga sang kekasih pujaan. Kongkong-kongko untuk sekadar gengsi merogoh kocek kecil, sampai lobi kelas tinggi, ada tempatnya, ada ruangnya.

Di Bali semua ada.

Makan malam di Jembrana, berpesta di pusat Kota Denpasar atau mencari kain sutra di Bangli, menjadi pilihan terbaik.

Pelancong bebas memilih destinasi. Dari bermain ombak di pantai Kuta hingga berkeliling dengan speed boat di Danau Beratan kawasan bukit Bedugul.

Lengkap rasanya jika melahap lezatnya durian runtuh yang dijajakan di tepi jalan.

Hotel berkelas dunia, pemandangan alam nan elok hingga senyum ramah yang ditawarkan, ternayata bukan sekadar isapan jempol. Detak jantung kagum untuk Bali.

Tentu, bukan pada sisi itu saja. Kagum kita akan terus dibuai dengan pluralismenya.

Keragaman itu, hadir di sekeliling alam. Keramahan dibalut budaya dan agama menyatu dalam ruang lestari. Ya, itulah Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here