Kesaksian Tomy Winata Terungkap Dalam Layar Kaca

Laporan: M. SYAIFUL AMRI

DENPASAR – Jarum jam menunjukan pukul 08.33 WITA. Pelataran Gedung Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (3/12) pagi, sudah ramai. Tidak hanya, masyarakat biasa, yang keluar masuk pintu gerbang hingga menuju ruang sidang. Tapi pemandangan kali ini, ada yang berbeda di tempat-tempat sidang biasanya.

Setelah masuk di pelataran parkir, kita dihadapkan pada proses sterilisasi pengamanan. Bagi mereka yang akan masuk, harus melewati proses pemeriksaan. Satu persatu, tamu harus melewati walktrough metal detector, sebuah pintu yang kabarnya memiliki 33 zona deteksi. Alat di dalamnya memiliki kekuatan mengendus benda-benda berbahaya.

Tak hanya itu, seorang security pun, memegang  handheld metal detector. Alat pendeteksi logam gengam yang menjadi pelapis, tingkat pengamanan. Ya, lumayan ketat juga.

Selepas dari proses itu, sorotan mata tertuju pada puluhan bahkan mungkin ratusan pria berbadan tegap. Terlihat mangkal di depan gedung tempat sidang berlangsung. Posisinya tepat berada di gedung utama PN Denpasar.

Tak luput dari pandangan, beberapa pria berpakaian rapi. Mengenakan jas plus dasi, sampai pecalang dengan kain pengikat kepala dibumbui sarung tenun khas Bali. Mayoritas berbadan besar.

 

Tak jarang kita pun menjumpai pria berkepala plontos berikut giwang yang melingkar di telingan kiri dan kanan. Mereka berdiri siaga. Memegang ponsel dan sesekali melepas senyum ramah menyapa koleganya. Rata-rata, selain badannya yang berotot, kulit sawo matangnya pun dibubuhi corak tinta yang akrab kita sebut tato. Ya, lumayan eksentrik.

Sekira pukul 12.15 WITA. Penjagaan ruang sidang makin diperketat. Beberapa petugas berdiri persis di pintu utama. Termasuk pintu utara, atau di belakang tempat majelis hakim memasuki ruang sidang. Sementara, orang-orang yang berbadan tegap tadi merangsek masuk.

Seakan ada komando. Setiap sisi mereka tempati. Rapi. Ada yang duduk disamping pengunjung sidang sampai rela berdiri. Tatap matanya pun tajam, penuh arti. Mengisyaratkan pengamanan. Ada orang yang sedang dijaga.

Tak berselang lama, masuklah seorang pria, ditemani sejumlah orang bermata sipit. Sosok pria yang sudah beruban itu ternyata Tomy Winata.

 

Senyumnya merekah. Bahkan beberapa kali ia terlihat menjulurkan tangan, mengajak bersalaman orang-orang yang dilintasinya. ”Maaf, permisi ya,” sapa Tomy sembari mengedipkan mata ke salah satu pengunjung.

Ya, hari itu Bos Artha Graha datang memberikan kesaksian. Hadir sebagai saksi korban. Momen ini tentu langka. Sosok Tomy mampu menyedot perhatian kalangan media. Maka wajar, jika penjagaan diperketat.

 

Sutter kamera dari pewarta foto saling beradu. Layar kaca semua tertuju padanya. Tak jarang ada yang memaksa mencari sela, untuk bisa mendekat. Agar jarang pandang lensa lebih leluasa menangkap momen-momen yang dicari.

Hanya berselang sekitar dua menit, Tomy duduk di bangku pengunjung. Setelah itu majelis hakim yang terdiri dari I Made Pasek, Koni Hartono dan diketuai Sobandi, sudah bersiap menggelar sesi sidang. Tomy pun dipanggil. Lazimnya sebuah sidang, ada beberapa tahapan awal termasuk penyampaian sumpah.

Tomy memang tampil sederhana. Mengenakan kemeja berwarna biru, padupadan dengan jelana dasar hitam. Ia duduk, tak lama panitera pembantu menghampirinya dan memberikan microphone. Tomy begitu tenang. Ruang sidang pun nyaris sunyi. Mendengarkan pemaparan Tomy. Menyaksikan dengan seksama prosesi sidang setahap demi setahap.

Dalam rangkaian penjelasan, termasuk menjawab pertanyaan dari majelis hakim, jaksa penuntut umum hingga kuasa hukum tergugat ada benang merah yang di- highlight. Tomy menegaskan upaya mengambil alih piutang CCB Indonesia terhadap PT GWP milik terdakwa Harijanto Karjadi (65) tujuannya bukan karena nilai ekonominya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here