SEA Games 2019: Badminton Capai Target

Pixabay

MANILA – Tim bulutangkis beregu putri Indonesia hanya meraiu medali perak pada SEA Games 2019. Kepastian itu didapt usai Gregoria Mariska Tunjung dan kawan-kawan menelan kekalahan atas Thailand di babak final.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Muntinlupa Sports Complex, Filipina, kemarin (3/12), tim putri Merah Putih kalah atas tim putri dari Negeri Gajah Putih itu 1-3.

Satu-satunya poin Indonesia didapat dari pasangan Ni Ketut Mahadewi Istarani/Apriyani Rahayu. Indonesia sudah harus tertinggal di partai pertama, dimana regoria Mariska Tunjung harus menelan kekalahan Ratchanok Intanon. Dalam laga tersebut Gregoria kalah lewat pertarungan rubber game dengan skor 21-13, 12-21, 21-14

“Saya lihat Gregoria mainnya sudah normal dan benar, tapi masih terlalu hati-hati. Cuma memang lawannya lebih berpengalaman. Lawan merubah pola sedikit, Gregoria agak kurang siap. Memang untuk lawan Ratchanok ini harus fokus dan kalau lawan bisa baca pola, harus bisa diantisipasi dengan cepat,” ungkap pelatih tunggal putri, Rionny Mainaky menanggapi pertandingan Gregoria dengan Intanon seperti dikutip situs resmi PBSI, kemarin.

Rionny juga menyebut dari sebelum pertandingan final, Gregoria mengalami masalah pada kaki kirinya.”Dari sebelum berangkat memang ada kendala sedikit kaki kirinya. Dia bisa main bagus sampai hari ini, sudah baik lah,” tambahnya.

Indonesia berhasil menyamakan kedudukan 1-1, lewat pasangan Ni Ketut Mahadewi Istarani/Apriyani Rahayu yang sukses mengalahkan Rawinda Prajongjai/Puttita Supajirakul dalam dua game langsung, 21-17, 21-18.

“Senang sekali bisa menang, bersyukur. Bisa menyumbangkan poin untuk Indonesia rasanya luar biasa. Karena akhir-akhir ini performa saya menurun, tapi saya dikasih kesempatan untuk main dan bisa membuktikannya,” ungkap Ketut usai laganya.

“Alhamdulillah, kami dikasih menang, bisa menyumbangkan poin dan dijauhkan dari cedera. Kami tadi berusaha maksimal saja. Semoga dengan kami bisa ambil poin, teman-teman setelah kami juga bisa termotivasi untuk berjuang mengambil kemenangan,” ungkap Apriyani menambahkan.

Masuk partai ketiga, Indonesia kembali tertinggal 1-2 atas Thailand. Kali ini Fitriani yang harus menelan kekalahan atas Busanan Ongbamrungphan dua game langsung 8-21, 10-21 dalam 31 menit. Dilihat dari head to headnya, Fitriani dengan skor 3-1, sebenarnya berpeluang untuk menang dari Ongbamrungphan. Di Thailand Masters 2019, Fitriani mengalahkan Ongbamrungphan dengan skor 21-12, 21-14.

Sayangnya, Fitriani tidak bisa mengulang kesuksesan seperti pertemuan terakhirnya itu. “Permainan saya tidak bisa keluar. Bukan hanya di pertandingan ini, di pertandingan sebelumnya juga saya sulit untuk menemukan pola main. Saya sudah berusaha untuk bermain maksimal, tapi hasilnya masih tidak sesuai harapan,” tuturnya.

Indonesia harus rela menyerahkan podium tertinggi kepada Thailand setelah di partai keempat Siti Fadia Silva Ramadhanti/Ribka Sugiarto juga terpaksa kalah dari Chayanit Chaladchalam/Phataimas Muenwong. Mereka kalah dalam 41 menit dengan skor 8-21, 17-21. “Kami seperti kegrebek lawan, pola kami nggak bisa keluar. Game kedua sudah ketemu polanya cuma masih kurang tenang saja di lapangan. Banyak buru-burunya,” kata Ribka.

“Tegang sih enggak, tapi kami banyak ketekan lawan. Lawan juga mungkin sudah biasa main di beregu, pemain lama juga, sementara kami baru. Masih belum ketemu feelingnya,” ujar Fadia.

Meski demikian, raihan medali perak yang diterima tim putri Indonesia tetap di apresiasai oleh Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI).

Melalui Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, raihan yang didapat tim putri Indonesia itu sudah seusai target yang dicanangkan. “Hasil ini sudah sesuai prediksi dan target dari awal. Kekuatan tim Thailand juga memang lebih unggul, khususnya di sektor tunggal,” tutur Susy.

Lebih lanjut, mantan pebulutangakis Indonesia yang bermain di sekotr tunggal putri itu juga menyoroti penampilan Gregorai dan Fitriani. Menurutya, Gregoria sudah tampil lebih baik. Sedangkan untuk Fitriani, Susy menilai bahwa sang pemain masih belum bisa mengontrol diri.

“Gregoria sudah lumayan tapi masih belum bisa konsisten dalam permainan. Sehingga belum mampu mengatasi Ratchanok. Fitriani dia belakangan kurang bisa mengembangan permainan yang seharusnya. Pola permainan agak berubah dari sebelumnya. Sekarang sering kurang sabar dan buru-buru ingin mematikan lawan,” bebernya.

“Kami harapkan pelatih bisa membenahinya, seperti permainan waktu di Thailand Open saat dia juara,” sambungnya.

Sementara itu, di nomor ganda, Susy menilai bahwa pasangan Apriyani/Ketut tampil lebih baik meski baru dipasangkan. Namun, utuk Fadia/Ribka, Susy menilai permainan mereka masih belum menujukkan seluruh kemampuannya.

“Apri/Ketut tampil cukup baik dengan mengalahkan ganda andalan Thailand. Meski mereka baru berpasangan, tapi mereka bisa saling mengisi. Sementara Fadia/Ribka mereka masih belum bisa keluar dari tekanan. Kami harapkan kedepannya bisa lebih baik lagi. Karena ini pengalaman mereka tampil di SEA Games,” pungkasnya.

Meski demikian, raihan medali perak ini tetap di apresiasi, mengingat capaian tim beregu putri berhasil meningkat dari SEA Games 2017 di Malaysia. Saat itu tim beregu putri Merah Putih hanya menempati posisi ketiga atau hanya mampu membawa pulang medali perunggu.

(gie/fin/tgr)