Kunjungan Wisman Oktober 2019 Turun 3,28 Persen

Wisatawan menyaksikan langsung keindahan Danau Linouw yang berada di desa Lahendong, Sulawesi Utara, Jum'at (5/7). Danau Linouw salah satu tempat wisata dan cerita danau ini komposisi kimiawi yang berubah warna pada saat pergantian cuaca. FOTO: Faisal R Syam/FAJAR INDONESIA NETWORK.

JAKARTA – Infrastruktur yang memadai belum juga mengerek kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sejumlah destinasi wisata di Indonesia. Pasalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah wisman pada Oktober 2019 hanya mencapai 1,35 juta jiwa atau turun 3,28 persen dari bulan sebelumnya.

Meskipun terjadi penurunan tipis, namun secara tahunan atau year on year (yoy) kunjungan wisman justru naik sebesar 4,86 persen.

“Secara yoy ini terbesar dari berasal dari Lombok, ini bisa dipahami 2019 meningkat karena tahun sebelumnya ada gempa bumi sehingga secara yoy tahun ini naik,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto di Jakarta, Senin (2/12).

Lanjut Suhariyanto, jumlah wisman yang berasal dari angkuta udara pada Oktober 2019 sebesar 63 persen atau sekitar 856.400 jiwa, disusul jalur laut sebesar 25 persen atau 336.000 jiwa, dan terkecil melalui jalur darat sebesar 12 persen atau sekitar 162.000 jiwa.

Wisman terbanyak ke Tanah Air yang terbanyak berasal dari Malaysia sebesar 241.100 kunjungan atau sekitar 18 persen, disusul wisman dari Cina sebesar 11,9 persen, Singapura sebesar 10,7 persen, disusul wisman dari Australia sebesar 9,7 persen, dan wisman dari Timor Leste sebesar 6,8 persen.

“Dibandingkan Oktober tahun lalu, wisman yang meningkat besar berasal dari Rusia sebesar 49,89 persen (yoy). Sedangkan penurunan wisman terbesar berasal dari Hongkong sebesar 54,58 persen (yoy),” kata Suhariyanto.

Sedangkan, dibandingkan dengan bulan sebelumnya, wisman yang meningkat signifikan berasal dari Thailand sebesar 25,46 persen (mtm), dan penurunan terbesar berasal dari wisman Afrika Selatan sebesar 26,94 persen (mtm).

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda mengatakan, masih banyak kendala di sektor pariwisata, yakni belum optimalnya infrastruktur.

“Selain soal infrastruktur, juga terjadinya resesi global yang akan menekan sektor pariwisata. Sehingga hingga akhir tahun sektor pariwisata masih belum bergairah,” ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Senin (2/12).

Direktur Riset Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah menilai menurunnya jumlah wisman ke Indonesia lantaran pemerintah kurang melakukan branding terkait faktor keamanan di dalam negeri. Hal ini membuat takut wisman berkunjung ke Indonesia.

“Kendala lainnya, biaya transportasi menuju destinasi yang masih sangat mahal, dan kita masih minim atraksi, padahal banyak destinasi di Indonesia,” tukas Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (2/12).

(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here