Pemerintah Lambat Gaet Investasi

Ilustrasi investasi

JAKARTA – Pemerintah padahal sudah mengetahui penyebab investasi melambat, namun Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkesan bergerak lambat dalam memanfaatkan peluang di tengah gejolak ekonomi global akibat perang dagang antara Amerike Serikat dan Cina.

Akibatnya, investor asing terutama dari Cina banyak yang merelokasi pabriknya ke Vietnam, ketimbang di Indonesia. Dengan kondisi demikian, Indonesia telah gagal memanfaatkan momentum perang dagang.

Kendati demikian, dalamKabinet Indonesia Maju ini masih ada kesempatan untuk memperbaiki semua regulasi yang ada, terutama masih investor asing menunggu penggabungan UU menjadi satu peraturan atau omnibus law.

Direktur Riset Centre of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, bahwa permasalahan investasi di Indoenesia adalah belum optimalnya merealisasikan investasi.

“Izin prinsip yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) kurang dari separuh yang direalisaikan. Ini menunjukkan investasi di Indonesia sangat menarik tapi banyak kendala investor ketika akan memulai merealisasikannya,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Senin (18/11).

Lanjut Piter, hambatan investasi di Indonesia sangat banyak mulai dari persoalan lahan, perburuhan, koordinasi antara pusat dan daerah, hingga tidak konsistennya kebijakan di pusat. Mengenai perizinan adalah salah satu permasalahan tersebut.

“Oleh karena itu omnibus law walaupun memang sangat perlu disegrakan tapi belum mengatasi semua masalah,” tutur Piter.

Menurut Piter, untuk meningkatkan konsumsi dan investasi, maka pemerintah harus melonggarkan pajak untuk menngkatkan belanja. Artinya, pemerintah harus bernai tidak populer dengan melembarkan defisit fiskal.

“Pelonggaran pajak akan menurunkan penerimaan pajak dalam jangka pendek. Tapi akan mendorong konsumsi dan juga investasi yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka panjang akan kembali meningkatkan penerimaan pajak,” ucap Piter.

Sementara itu, Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia mengakui bahwa Indonesia memang belum bisa memanfaatkan peluang terhadap situasi perang dagang, terutama dari sektor investasi. “Negara kita belum menjadi surga bagi investasi, sehingga larinya ke Vietnam,” ujar dia di Jakarta, kemarin (18/11).

Bahlil menyebutkan kondisi global yang bergejolak tidak selamanya merugikan. Justru bisa membuat untuk bagi Indonesia. Namun dia mempertanyakan Indonesia yang belum bisa memanfaatkan kesempatan baik itu. “Ada apa dengan kita?” ujar Bahlil.

Laporan yang diterimanya, sebanyak 44 persen pasar ASEAN ada di Indonesia dari total 600 juta penduduk ASEAN. Dia menyebutkan, saat ini ada 24 perusahaan siap berinvestasi sebesar Rp708 triliun ke Indonesia. Perusahaan tersebut siap masuk ke berbagai sektor usaha. Sayangnya, investasi tersebut hanya berakhir pada level komitmen, karena investor banyak menemukan hambatan di Indonesia.

“Dengan rumitnya regulasi sektoral, berbelit-belit, membuat banyak investor ini balik badan kembali ke negaranya masing-masing. Dia bertahun-tahun susah dapat selembar surat. Jangankan pengusaha luar, investor dalam negeri pun bisa lari,” ujar dia.

Oleh karena itu, untuk menggaet investasi secara optimal pihaknya akan melakukan pembenahan mulai dari kewenangan perizinan sektoral, perpajakan, dan pengadaan lahan, higga menyelesaikan masalah koordinasi di daerah.

(din/fin)