PURBALINGGA– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga mengimbau agar masyarakat di wilayah rawan bencana semakin waspada. Karena pekan kedua November ini sampai awal tahun cuaca ekstrim. Curah hujan yang tinggi dan angina kencang membuat potensi ancaman bencana semakin tinggi.

“Hujan semakin merata dan angin kencang berpotensi terjadi. Hanya saja bisa beda waktu antara wilayah satu dengan lainnya,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga, Much Umar Faozi, Minggu (17/11).

Warga yang dekat pemukimannya dengan pohon- pohon besar yang sudah tua dan dinilai mudah patah atau roboh juga harus selalu waspada saat hujan datang disertai angin kencang. Seperti terjadi baru- baru ini di beberapa wilayah.

“Pada Minggu (17/11) kami dan relawan juga menangani kembali bencana angin di Desa Karangreja Kecamatan Kutasari dan di wilayah Kecamatan Purbalingga. Di Kutasari satu rumah rusak sedang tertimpa pohon dan di kota pohon di area pemakaman ternama tertimpa pohon,” paparnya.

Pihaknya juga mengimbau warga di wilayah rawan bencana tanah longsor harus semakin intensif melihat lingkungan mereka. BPBD Purbalingga memiliki catatan dan peta wilayah rawan bencana alam tanah longsor. Sebanyak 68.942 Kepala Keluarga (KK) atau 278.358 jiwa berada di desa- desa rawan tanah longsor itu. Musim penghujan ini, mereka diminta waspada dan peka terhadap perubahan lingkungan sekitar.

Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tercatat, setidaknya 66,67 persen wilayah di Kabupaten Purbalingga rawan terjadi pergerakan tanah dan bencana tanah longsor. Dari persebaran tingkat kerawanan, wilayah utara Purbalingga menjadi areal yang tingkat kerawanannya lebih tinggi dibanding yang lain.

Pasalnya, topografi di wilayah itu berupa pegunungan dan lembah. Sehingga potensi gerakan tanah dan longsor sangat berpotensi terjadi. “Wilayah itu meliputi ?Kecamatan Karangjambu, Karangreja, Bobotsari, Karanganyar, Kertanegara, Karangmoncol dan Rembang,”  rincinya.

Pihaknya juga meminta warga yang dekat dengan tebing tidak asal melakukan pengeprasan. Terutama di musim hujan seperti sekarang. Pasalnya, akan berpotensi melemahkan kondisi tanah yang ada. Jika terpaksa harus mengepras tebing, maka harus dilakukan analisa dari ahli geologi atau akademisi soal kondisi dan jenis tanah.

“Meski banyak di wilayah utara Purbalingga yang rawan tanah longsor, jangan buru- buru mengeprasnya,” ungkapnya. (amr)