Brendan Rodgers, The Possible Man

LONDON, ENGLAND - AUGUST 11: Jamie Vardy (R) of Leicester City is congratulated by teammate Harry Maguire (L) after scoring his team's third goal during the Premier League match between Arsenal and Leicester City at the Emirates Stadium on August 11, 2017 in London, England. (Photo by Michael Regan/Getty Images)

LONDON – Kemenangan atas Arsenal Minggu (9/11) lalu, membuat Leicester City menjadi kandidat pemburu gelar juara Premier League musim ini, setelah Manchester City dan Liverpool.

Juru taktik Foxes-sebutan Leicester- Brendan Rodgers menunjukkan bagaimana ia sukses membawa kembali harapan ke klub yang baru saja melewati tragedi tersebut.

Di sudut ruangan Stadion King Power, kandang Leicester, Rodgers tengah duduk terpekur. Ia baru delapan setengah bulan, menjadi pelatih Leicester City saat menyaksikan anak asuhnya menjalani 90 menit paling berharga bagi tim tersebut. Ya, Jamie Vardy dan kawan-kawan baru saja mengalahkan Arsenal di pekan-13 Liga Premier. Anak asuh Unai Emery dibuat tak berdaya dengan skor 2-0.

Hasil itu mendongkrak posisi The Foxes ke posisi tiga, zona Liga Champions yang semakin sulit untuk diraih. Bak de javu, Jamie Vardy merasakan ada kemiripan dengan euforia saat menjadi kampiun Liga Premier musim 2015-2016.

“Saya seperti diajak untuk merasakan euforia dan emosi The Foxes bahwa mereka telah menang,” kata Rodgers kepada The Guardian, kemarin.

Empat bulan sebelum kedatangannya, Leicester baru saja melewati tragedi yang tak bisa dilupakan dalam sejarah klub tersebut. Sang pemilik Leicester, Vichai Srivaddhanaprabha, tewas dalam kecelakaan helikopter.

Saat itu, Leicester berada di bawah asuhan Claude Puel. Pelatih berpaspor Perancis belum mampu banyak berbicara di ranah Liga Inggris. Apalagi ia kerap beradu urat dengan Jamie Vardy yang enggan mengikuti gaya Puel yang lambat. Tak ayal, ia pun harus menerima kenyataan didepak dari kursi pelatih utama, akhir Februari lalu. Kekalahan 4-1 dari Crystal Palace menjadi puncak amarah Vardy saat ia memukul pintu ruang ganti saat pertandingan berakhir.

“Pasti sangat sulit bagi Claude Puel dan semua orang di sekitar tim, karena saya merasakan nilai-nilai hebat dan cahaya [Srivaddhanaprabha] yang membawa klub ini kembali jatuh setelah menjadi juara sebelumnya,” kata Rodgers.

“Saya merasa mungkin bisa masuk dan membawa cahaya itu ke dalam tim lagi, dan menjalankan tanggung jawab saya dengan cara yang benar-benar positif,” tambahnya.

Sejak menjadi juara di musim 2015/2016, Leicester City terlihat gamang mempertahankan kualitasnya sebagai tim papn atas. Musim selanjutnya, The Foxes rela mengakhiri musimnya di posisi antara 9 sampai 12 klasemen. Otomatis, mereka tak mendapat jatah perebutan gelar maupun tiket ke Liga Eropa.

Brendan Rodgers memulai musim pertamanya di Leicester City dengan berat. Ekspektasi manajemen kepada eks pelatih Liverpool itu memang diluar target, namun posisinya tetap dipertahankan. Musim 2018-2019, Leicester City mengakhiri musimnya di peringkat ke-9.

Di musim kedua, Brendan Rodgers langsung menggedor latihan fisik bagi anak asuhnya. Menurutnya, masalah utama dari skuatnya adalah daya tahan. Ia melihat pemainnya akan cenderung melakukan kesalahan saat menit-menit akhir pertandingan akibat daya daya tahan yang menurun.

Rodgers menyiapkan materi latihan fisik dengan waktu yang singkat namun dengan intensitas yang tinggi. Durasi rata-rata setiap latihan Leicester City tidak lebih dari 90 menit. “Itu saya terapkan
dua kali latihan setiap harinya, di pagi dan sore hari,” ujarnya.

Hasil latihan yang rutin bisa terlihat saat melawan Arsenal. Pemain Leicester bagai tak mengenal lelah. Determinasi pemain seperti tak ada habisnya. Kemenangan atas Arsenal itu diraih dengan cara yang meyakinkan. Gelar The Possible Man memang ditunjukkan Brendan Rodgers kepada anak asuhnya, bahwa peluang menang selalu datang meski peluangnya kecil sekalipun

Ya, dalam laga versus Arsenal, Jamie Vardy dan kawan-kawan mendominasi penguasaan bola hingga 51 persen dan melepaskan 19 percobaan. Sebanyak tujuh tembakan mengarah ke gawang dan dua berhasil dikonversi menjadi gol.

Brendan Rodgers mengatakan, kemenangan atas Arsenal terasa sangat hebat karena skuad asuhan Unai Emery itu bisa melukai siapa saja. Pria asal Irlandia Utara itu puas karena anak asuhnya mampu mengatasi ancaman yang dibawa The Gunners ke Stadion King Power dengan baik.

Poin penuh tersebut membawa Leicester City untuk sementara naik ke posisi dua klasemen Liga Inggris 2019-2020 dengan nilai 26. Mereka menggeser Manchester City yang kalah dari Liverpool, sang pemuncak papan klasemen.

“Kunci konsistensi kami adala untuk membuka pikiran para pemain dan berkata : Dengarkan, anda telah mencapainya [memenangkan liga], dan saya akan memberi tahu Anda mengapa Anda tidak melanjutkan dan mempertahankannya,” katanya.

“Tapi kami di sini untuk mencoba dan menciptakan sesuatu yang terus ingin kita raih, dan itu tentang pikiran anda serta kualitas anda,” beber Rodgers.

Meraih posisi dua, merupakan hasil terbaik setelah menjadi juara di musim 2015-16. Harapan itu benar-benar kembali, baik untuk The Foxes dan Rodgers.

(fin/tgr)