Kredit Jamban untuk Warga Miskin

Setelah dua minggu berselang, kamar mandi lengkap dengan tower air telah berdiri di rumah Eem. Sang pemilik berfoto di depan toilet barunya.

JAKARTA – Bagi 100 ribu warga Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, problem jamban masih menjadi prioritas nomor sekian. Meski rumah memiliki perabotan lengkap, lantai keramik atau atap rumah sudah tertutup baja ringan, namun urusan membuang hajat masih di luar pekarangan rumah.

Jika sudah kepepet, terkadang warga harus menggali lubang di kebun. Atau bisa saja ke empang dan kali. Kebisaaan itu masih terpatri di benak warga kabupaten yang lokasinya tak jauh dari ibu kota tersebut. Sedikit demi sedikit, kebiasaan itu mulai terkikis dengan adanya kesadaran dan tuntutan dari keluarga.

Sudah berpuluh-puluh tahun, Eem (65) dan keluarganya terbiasa membuang hajat di kebun. Bagi warga Desa Cisoka, Kacamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten itu, kebisaan itu disebut modol di kebon (buang air di kebun) atau yang disingkat dolbon. Ya, galian tanah yang kerap dimanfaatkan warga sebagai pengganti toilet. Biasanya, lubang-lubang itu berada di kebun belakang rumah atau tanah kosong.

Proses pembuatan sanitasi layak milik Anggota Kopsyah BMI Eem (65) setelah mendapatkan dana pembiayaan mikro tata sanitasi di Desa Cisoka, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, pertengahan 2017 silam.

Wanita berprofesi tukang urut itu menganggap jamban bukan prioritas penting. Asalkan ada cangkul dan jauh dari keramaian, urusan membuang sampah biologis dapat tuntas dengan cepat. Apalagi kedua anaknya juga tidak pernah protes soal rumah yang tidak dilengkapi dengan toilet sebagaimana mestinya. “Kebiasaan warga udah begini mau bagaimana lagi, saya ikut aja, kadang kalau nggak menggali lubang, ya ke kali,” katanya ditemui di rumahnya.

Sesekali mereka ke kali terdekat hanya untuk membuang hajat, baik siang maupun malam.”Kalau malam, ya, kami harus menggunakan lampu minyak atau lilin ke kebun, empang, atau kali,” kata Eem.

Lambat laun, hatinya mulai minder. Eem baru menyadari betapa pentingnya toilet setelah rumahnya banyak didatangi pasien urutnya. Sehingga tidak heran jika rumahnya sederhana kerap ramai dikunjungi orang saban hari.

Kebanyakan, para pasien kerap menanyakan letak toilet karena ingin numpang buang air kecil atau besar. Eem pun harus menjawabnya dengan senyum getir karena rumahnya tidak memiliki sanitasi yang memadai. “Kadang saya harus ngetuk pintu tetangga, kalau ada pasien yang ingin buang hajat,” paparnya.

Berawal dari malu inilah, Eem memutuskan memiliki sanitasi yang representatif. Lengkap dengan jamban, sistem pembuangannya serta septic tank. Rumah perempuan yang memojok di pinggir kebun tersebut,terbilang sederhana. Dindingnya terbuat dari bata merah tanpa diplester. Lantainya belum dikeramik, masih berupa adukan semen yang licin.

Perabotan elektronik yang terlihat hanya televisi tabung ukuran 14 inci dan kipas angin. Furniture di rumahnya jauh dari sederhana. Hanya seperangkat meja kursi lawas, satu buah lemari besar dan kursi plastik. “Banyak tamu yang minta tolong diurut, tapi pas niat numpang ke kamar mandi. Saya malu karena teu boga (nggak punya),” bebernya dengan logat Sunda yang kental.

Berangkat dari malu itulah membuat nenek lima cucu itu nekat untuk membangun toilet. Dana yang dibutuhkan tentu jutaan rupiah. Penghasilannya dari tukang urut tentu tidak cukup untuk mendirikan satu unit toilet lengkap dengan jamban dan aneka perangkatnya.

Setelah dua minggu berselang, kamar mandi lengkap dengan tower air telah berdiri di rumah Eem. Sang pemilik berfoto di depan toilet barunya.

Meminjam dana menjadi solusi terakhir bagi Eem menuntaskan rasa malunya tersebur. Pasangan ini lantas mengajukan kredit kepada Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) untuk pembangunan toilet, yang dinamakan pembiayaan Mikro Tata Sanitasi (MTS). “Awalnya saya nggak yakin, kalau Kopsyah BMI mau kasih pinjaman, kan saya tukang urut, Alhamdulillah, sekarang akhirnya bisa dibangun juga,” katanya.

Bermodalkan kredit Rp 8,5 juta dari Kopsyah BMI, Eem dapat membangun jamban dan kamar mandi dengan cicilan Rp25 ribu -Rp50 per minggu selama dua tahun. ” Maklum saya kan cuma tukang urut, kalau lagi ramai bisa enam orang tapi sering juga sepi,” ujarnya.

Kini, bangunan bangunan berukuran 3 meter x 4 meter ini terlihat baru. Dinding bercat biru dan atap seng masih kinclong. Di pinggir toilet, sebuah tower air berdiri yang airnya disalurkan dari sumur rumah tersebut.

“WC dan kamar mandi ini baru dibangun dua tahun lalu, lihat tuh dinding dan kamar mandinya malah lebih keren dari rumah saya,” ujar Eem seraya tertawa.

Eem adalah salah satu warga Desa Cisoka yang terpaksa mencicil untuk membangun jamban di rumah. Sebagai anggota Kopsyah BMI, ia boleh mendapat jaminan kredit jamban dan air bersih setelah setahun menjadi anggota.

Desa Cisoka bukanlah areal yang jauh dari keramaian ibu kota. Sebuah stasiun KRL Rangkasbitung- Tanah Abang tersedia untuk warga yang hilir mudik ke Tangerang atau Jakarta. Di sisi lain, gunungan sampah dan kemiskinan menjadi pandangan umum. Padahal, desa ini tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang, yakni berjarak tidak sampai 5 kilometer.

Listrik dan telepon sudah masuk ke area ini. Sebagian besar infrastruktur jalan dan irigasu sudah beton. Termasuk jalan menuju kediaman Eem yang sudah menggunakan paving block. Di desa ini, banyak rumah warga yang sudah mapan. Lantai keramik dan permanen. Sepeda motor dan mobil bukan hal yang asing bagi warga desa. Termasuk smartphone lengkap dengan earphone bluetooth-nya menjadi hal yang lumrah penduduk di sini. Televisi LED pun jamak menghiasi ruang tamu warga, berganti musik dangdut yang kerap memekakkan telinga ketika malam tiba.

Namun padang ilalang, semak, empang, dan kali masih menjadi tempat favorit warga desa untuk membuang hajat. Kondisi itu terus terjadi meski lambat laun mulai terkikis.

Masalah jamban tidak berhenti sampai di sana. Warga Desa Cisoka terbilang krisis soal ketersediaan air bersih. Jika musim kemarau tiba, warga harus menunggu berjam-jam mendapatkan jatah dari PDAM Kerta Raharja, sebuah perusahaan air minum Pemkab Tangerang yang setiap waktu membagikan air bersih ke warga.

Peluang itu dimanfaatkan Kopsyah BMI untuk menyalurkan kredit bernama Mikro Tata Air (MTA) bagi warga yang selalu kekurangan air di kala kemarau.

Ernawati (45), tetangga Eem pun memilih mengambil kredit pompa air untuk mendapatkan air bersih. Ia mengambil kredit untuk mesin penyedot air tanah dengan kedalaman 40 meter. Ia mendapatkan pinjaman Rp 7 juta dengan periode pengembalian dua tahun. Semua diberikan tanpa agunan.

Pertengahan 2016 silam, sumur lengkap dengan sumur bornya bisa dinikmati oleh Erna dan keluarganya. “Saat ini, saya nggak nebeng lagi ke tetangga, malah bisa berbagi dengan yang lain,” katanya

Setiap minggunya, ia harus mengangsur Rp64 ribu setiap minggunya. Medio Mei 2018 lalu, pinjamannya sudah selesai. Ia pun ingin mengajukan pinjaman ke Kopsyah BMI untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

Camat Cisoka, Ahmad Hapid, mengatakan, sebagian besar warga Desa Cisoka adalah petani dan buruh, di beberapa kawasan industri, seperti di Balaraja dan Cikupa.

Ia mengatakan, sejauh ini pihaknya belum melakukan program pembangunan WC dan kamar mandi untuk warga Desa Cisoka. Karena itu, ia sangat mendukung jika ada pihak lain yang bisa membantu warga desa meningkatkan kesejahteraan dan kebersihan lingkungan.

Akan tetapi, kata Ahmad, sejauh ini warga Desa Cisoka sudah banyak memiliki jamban di rumahnya. Kesadaran memiliki jamban sudah bangkit dengan sendirinya. “Di sini sudah enggak ada lagi warga yang dolbon. Tidak ada lagi warga yang buang hajat di empang atau di kali. Mereka sudah memiliki jamban sendiri,” tuturnya.

Presiden Direktur Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara mengatakan, pihaknya menyediakan dana untuk kredit mikro tata kelola sanitasi (MTS) dan kredit mikro tata air bersih (MTA) skala rumah tangga sejak tahun 2015.

Program ini mereka bentuk karena melihat masih banyak warga yang belum memiliki jamban sehingga perlu pertolongan dalam segi pembiayaan. “Kami ingin anggota merasakan fungsi koperasi sebagai salah satu lembaga yang bisa diandalkan rakyat, yaitu untuk menyejahterakan dan juga menyehatkan para anggotanya,” ujarnya.

Mengingat akses sanitasi dan air adalah kebutuhan pentinh, maka setiap anggota dapat langsung mengakses pembiayaannya sejak awal. Skim MTS diperuntukkan bagi anggota yang ingin memiliki fasilitas sanitasi sehat dan nilai pembiayaan maksimal sebesar Rp10 juta. Akad yang digunakan adalah Istishna dan Murabahah.
“Secara garis besar, Istishna adalah akad jual-beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan  (pembeli) dan penjual (pembuat),” ujarnya.

Sementara, Murabahah adalah murabahah adalah bentuk jual-beli yang menuntut penjual untuk memberi informasi kepada calon pembeli tentang harga dan biaya di baliknya. Selain harga jual, calon pembeli juga berhak tahu tentang nilai pokok barang serta jumlah keuntungan yang diambil penjual.

“Jadi kita transparan kepada anggota berapa plafonnya dan apa saja manfaat yang diberikan dari skim pembayaran MTA dan MTS,” ujar pria Kelahiran Mandailing Natal, 44 tahun lalu itu.

Kamaruddin menjelaskan, desain skim MTA juga diberikan kepada anggota yang ingin memiliki fasilitas air bersih dengan pembiayaan maksimal sebesar Rp10 juta. “Baik MTA dan MTS, tenor maksimal 10 tahun, cicilan per minggu,”

“Kami ingin memastikan masyarakat berpenghasilan rendah juga mendapatkan kesempatan memiliki jamban dan septic tank yang layak,” tambah Alumni Magister Ekonomi Islam Universitas Ibnu Khaldun tersebut.

Setelah dua minggu berselang, kamar mandi lengkap dengan tower air telah berdiri di rumah Eem. Sang pemilik berfoto di depan toilet barunya.

Disinggung margin kredit, Kamaruddin mengaku Kopsyah BMI memberikan setara 15 persen pertahun untuk masyarakat miskin dalam program tersebut. Apalagi, skim MTA dan MTS juga ditindaklanjuti dalam proses rancang bangunnya yang harus menarik sehingga menjadi kebanggan para penerima dan pemiliknya.

“Untuk mendapat bangunan dan fasilitas yang baik, kami pun bekerjasama dengan mitra kontruksi mulai dari target penyelesaian dan konsistensi kualitas bangunan,” ujar peraih penghargaan Satyalancana Wira Karya bidang Koperasi oleh Presiden Joko Widodo, Juli 2018 silam itu.

Hingga akhir 2018, sekitar 10 ribu anggotanya telah terlayani akses sanitasi dan air bersih. Pasalnya, tidak ada lembaga keuangan besar yang mau menggarap sektor ini.

Sebelum program ini diluncurkan awal 2015 silam, Kospyah BMI terlebih dahulu melakukan riset pasar (Marketing Research). Riset ini digunakan untuk mengukur kemampuan dan kemauan anggota koperasi menerima skim pembayaran tersebut.

Dalam riset yang dilakukan pada 2014 silam itu, ada 4.269 anggota yang menjadi responden yang juga belum memiliki akses air dan sanitasi. Responden diambil dari 17 kecamatan di Kabupaten Tangerang.

“Hasilnya dari 2.488 anggota atau 57 persen responden menyatakan minatnya, namun 1.821 atau 43 persen belum menyatakan minatnya dengan alasan bervariasi, melihat hasilnya maka program kami jalankan,” ujarnya.

Sudah tiga tahun mereka membantu pembiayaan masyarakat miskin dari sisi kesehatannya. Kamaruddin menilai apa yang mereka lakukan berhasil.

Saat ini, Kopsyah BMI sudah memiliki 157.875 anggota dari empat kabupaten se-Provinsi Banten. Selain di Tangerang, program pembiayaan MTA dan MTS juga dirasakan anggota BMI di Lebak, Kabupaten Serang dan Pandeglang.

Targetnya, pembiayaan air bersih dan sanitasi layak untuk semua anggota yang belum memiliki sanitasi dan air berseih Berbeda dengan lembaga keuangan besar, pihaknya mau mengerahkan personel untuk melakukan jemput bola menjaring anggota lewat rembuk-rembuk dan menyadarkan pentingnya sanitasi dan air bersih.

(Togar/Fin)