Enam Tokoh Dianugrahi Pahlawan Nasional

    JAKARTA – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo kembali menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh yang berjasa bagi bangsa dan negara.Pada 2019 sebanyak 20 nama diusulkan oleh Kementerian Sosial untuk dibahas oleh Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) namun hanya enam tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

    Para tokoh tersebut, yaitu Ruhana Kuddus dari Sumatera Barat, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo) dari Sulawesi Tenggara, Prof Dr M. Sardjito dan K.H. Abdul Kahar Mudzakkir dari Jogjakarta, Alexander Andries Maramis dari Sulawesi Utara, dan K.H. Masjkur dari Jawa Timur.

    Presiden Joko Widodo mengatakan, apresiasi atas jasa, pengorbanan kepada seluruh pahlawan yang selama ini telah memberikan dedikasi, maupun perjuangaannya dalam mencapai cita-cita kemerdekaan. Presiden juga menegaskan, bangsa besar adalah bangsa yang mau menghargai, menghormati jasa-jasa para pahlawan.

    ”Menjadi kewajiban kita bersama sebagai penerus untuk terus mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan, terutama perjuangan dalam memberantas kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kesenjangan dan yang lain-lain,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan usai menjadi Inspektur Upacara Ziarah Nasioal Dalam Rangka Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2019, di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama, Kalibata, Jakarta, kemarin (10/11).

    Terpisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan pemberian gelar pahlawan nasional bagi tokoh Muhammadiyah KH Kahar Mudzakkir merupakan bentuk pengakuan negara atas jasa almarhum. “Gelar tersebut membuktikan pengakuan atas jasa dan pengabdian terhadap tokoh kemerdekaan yang juga tokoh Muhammadiyah kelahiran Kotagede Yogyakarta tersebut,” kata Haedar dalam siaran pers yang diterima di Jakarta.

    Dia menyampaikan terima kasih Pimpinan Pusat Muhammadiyah kepada pemerintah dan sejumlah tokoh yang berjasa dalam memproses penganugerahan gelar pahlawan nasional tersebut. Dengan begitu, dia mengatakan telah ada sejumlah tokoh Muhammadiyah yang menjadi tokoh nasional seperti Ki Bagus Hadikusumo yang ditetapkan pada November 2015, Kasman Singodimedjo pada 2018 dan Kahar Mudzakkir pada 2019.

    “Alhamdulilah semua proses administratif telah dilakukan disertai ikhtiar silaturahim, lobi dan komunikasi yang didukung semua pihak telah berakhir baik dan menggembirakan untuk mengenang jasa tiga tokoh nasional yang berjasa besar bagi republik ini,” kata dia.

    Dia mengatakan ketiganya tentu tidak menuntut gelar pahlawan tetapi pemerintah dan semua komponen bangsa patut menghargai pengorbanan serta jejak perjuangan para tokoh bangsa itu. “Para pejuang kemerdekaan dan siapapun yang berjasa bagi negara sebelum dan sesudah Indonesia merdeka tentu sangatlah banyak. Ada yang tercatat dan mungkin masih terdapat mereka yang luput dari perhatian pemerintah,” katanya.

    Sementara itu, Universitas Gadjah Mada menyambut gembira penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Prof. Dr. M. Sardjito karena telah memperjuangkan pengusulan gelar itu sejak sembilan tahun silam. “Tahun 2011 tim mulai dan Juli 2012 sudah ada surat pengusulan,” kata salah satu anggota tim pengusul, Prof. Dr. dr. Sutaryo, melalui keterangan tertulisnya.

    Dia menjelaskan Sardjito yang juga Rektor pertama UGM merupakan sosok ilmuwan pejuang sekaligus pejuang ilmuwan. Sardjito fokus dan aktif waktu itu di bidang pendidikan seperti di Budi Utomo. Sardjito juga sebagai peletak Pancasila sebagai dasar perguruan tinggi di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai pendiri Palang Merah Indonesia (PMI) dan banyak meneliti obat-obatan bagi rakyat maupun pejuang kemerdekaan. “Ya sarjana komplet. Aktif di sosial, budaya, perdamaian dan seni rupa juga,” katanya.

    Rektor UGM Prof Panut Mulyono mengaku bangga dengan gelar Pahlawan Nasional bagi almarhum Prof. Sardjito. “Semoga kita dapat meneladani semangat dan ketulusan almarhum dalam berjuang bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Almarhum Prof. Sardjito adalah ilmuwan pejuang dan pejuang ilmuwan,” kata dia.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here