Dari Greemen Bank, Kini Bisa Salurkan Rp3,8 Triliun untuk Para Anggota

Presiden Direktur Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara menerima piagam kehormatan Wira Karya Satyalencana dari Presiden Joko Widodo, 10 Juli 2018. Penghargaan diberikan sebagai tokoh pergerakan koperasi di Banten.

TANGERANG – Berawal dari sebuah koperasi kecil di Pantai Utara Tangerang 16 tahun yang lalu, Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI) kini menjadi koperasi dengan anggota terbanyak se-Provinsi Banten. Jumlahnya mencapai 157.875 anggota. Proses memang tak pernah mengkhianti hasil.

Suasana malam di Kota Makassar sangat bersahabat. Angin laut dari Pantai Losari terasa sepoi-sepoi, pertengahan Juli 2017 silam. Sementara di salah satu sudut Ibukota Sulawesi Selatan yakni Hotel Karebosi Condotel terlihat berbeda. Ribuan orang dari seluruh Indonesia bertabur hingga membludak ke luar halaman hotel bintang empat tersebut.

Hari Selasa, 11 Juli 2017 menjadi puncak kegiatan Hari Koperasi Nasional (Har kopnas) ke-70 di hotel tersebut. Mereka yang datang merupakan anggota koperasi dari seluruh pulau dari Sabang sampai Marauke.

Kopsyah BMI juga memberikan Rumah Siap Huni (RSH) Gratis ke-74 bagi Marsiah warga Kampung Dukuh Gunung RT.01 RW.05 Desa Padasuka Kecamatan Maja – Lebak, Juli 2018 silam. Marsiah meruapakan anggota Kopsyah BMI yang memiliki rumah yang kondisinya seperti kandang kambing. Beritanya sempat viral di medio tahun kemarin.

Yel dan tepuk tangan saling mengadu di dalam ruangan. Ya, sebanyak 134 pegiat koperasi seluruh Indonesia mendapatkan bintang bakti koperasi. Setelah memberi sambutan kemudian, Menteri Koperasi dan UKM kala itu, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga melangkah tegap menyusuri panggung. Ia didapuk menyerahkan lencana kehormatan tersebut bagi para insipirator.

Mantan Wakil Gubernur Bali ini tidak sendiri, ia didampingi sang tuan rumah, Gubernur Sulsel Sahrul Yasin Limpo yang kini Menteri Pertanian bersama, Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Nurdin Halid, dan seluruh jajaran pejabat Kementerian Koperasi dan UKM. Bintang kehormatan tersebut ia sematkan satu persatu.

Tiba di urutan terakhir, langkahnya terhenti. Senyumnya mengembang. Sosok di depan AAGN Puspayoga adalah Presiden Koperasi Syariah BMI Kamaruddin Batubara. Sosok pria yang hampir setiap bulan mengajaknya melihat rumah layak huni bagi anggotanya di Banten.

Sesaat kemudian, bintang Bhakti ia sematkan dalam selipat baju batik kuning milik Kamaruddin. Tiba-tiba, suara yel-yel terdengar nyaring dari belakang disusul gemuruh tepuk tangan. Nurdin dan Sahril Limpo yang berada di samping menteri ikut terperanjat.

Mereka sontak kaget, sambutan kali ini berbeda dengan tokoh koperasi yang lain. “Banyak sekali pasukannya Pak?” tanya mereka. “Ya, kami bawa 75 orang langsung dari Banten,” jawab Kamaruddin. Puspayoga dan dua tokoh Bugis itu terbahak-bahak mendengarnya.

Setahun berlalu, pada perayaan Hari Puncak Hari Koperasi Nasional 2018, Kamaruddin kembali meraih penghargaan bergengsi. Ia mendapatkan kehormatan sebagai penerima Satya Lencana oleh Presiden Joko Widodo, Juli 2018.

Kamaruddin menjadi orang satu-satunya dari Provinsi Banten yang menerima penghargaan tersebut. “Padahal saya orang Batak Mandailing lho,” katanya seraya tertawa saat dijumpai wartawan, kemarin.

Kopsyah BMI juga memberikan Rumah Siap Huni (RSH) Gratis ke-74 bagi Marsiah warga Kampung Dukuh Gunung RT.01 RW.05 Desa Padasuka Kecamatan Maja – Lebak, Juli 2018 silam. Marsiah meruapakan anggota Kopsyah BMI yang memiliki rumah yang kondisinya seperti kandang kambing. Beritanya sempat viral di medio tahun kemarin.

“Alhamdulillah, penghargaan yang kami dapat menjadi sebuah motivasi agar terus meningkatkan kinerja Kopsyah BMI. Sebenarnya ini berat. Ini amanah. Bisa tidak kita tetap istqamah meningkatkan kesejahteraan anggota tahun-tahun berikutnya,” tambah pria beranak tiga tersebut.

Dijelaskannya, sampai saat ini Kopsyah BMI masih menjadi pertahanan bagi usaha mikro yang pelayanannya mencakup seluruh wilayah Banten.
Lewat usaha simpan pinjam dan pembiayaan, semua sistem melalui pelayanan syariah.

Dirinya pun enggan disebut ikon yang berhasil membawa Kopsyah BMI moncer di panggung nasional. Baginya, dua penghargaan bergengsi itu ia persembahkan bagi pengurus dan anggotanya. Apalagi, akar koperasi itu tak bisa lepas dari sejarah Provinsi Banten dan Tangerang.

Ya, Kopsyah BMI memiliki ikatan batin yang kuat bagi warga Kabupaten Tangerang. Sejak berdiri tahun 2003 , koperasi ini masih bernama Lembaga Pembiayaan Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (LPP-UMKM).

Lewat kerja sama Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Ka bupaten Tangerang dengan Lembaga Sumberdaya Institut Pertanian Bogor (LSI-IPB), Kamaruddin dan beberapa pengurus lainnya mendirikan LPPUMKM di Desa Pekayon dan Sukadiri, Kecamatan Sukadiri, Tangerang.

Kawasan tersebut berada di Pinggiran Pantai Utara Tangerang. Kebanyakan dari warganya, berprofesi sebbagau buruh tani dan nelayan miskin. Setiap hari, mereka dihadapkan oleh pemandangan desa yang jauh dari kata sejahtera. Rumah warga masih berdinding bilik bambu dan berlantai tanah. Pekarangannya dipenuhi bangkai ikan membuat bau amis menyeruak isi perut. Tak ada jamban dan air bersih melengkapi kemiskinan warga di desa tersebut.

“Rata-rata warganya berpenghasilan rendah, saya terkadang ingin menangis kalau ingat dahulu. Banyak rumah yang masih gubuk. Setiap hari kita lihat janda tua renta tinggal di gubuk sendirian karena keterbatasan ekonomi,” bebernya

Kala itu, para pengurusnya hanya selintir pemuda pemudi usia 20 tahun-an. Hanya Kamaruddin yang lebih senior. Sebuah rumah sederhana di Kecamatan Sukadiri, mereka sewa untuk dijadikan kantor. Kemiskinan di Desa Pekayon menjadi motivasi mereka membangun koperasi ini.

Setiap minggu, para pengurus mengumpulkan anggota koperasi lewat rapat melalui kumpulan-kumpulan warga di tiap desa-desa wilayah kerja mereka. Rapat kumpulan itu lalu dinamai dengan istilah rembug.

“Waktu itu, banyak warga yang baru mengenal koperasi lalu kita perkenalkan konsep ekonomi Greemen Bank. Setiap minggu kita kumpulkan warga kita bangun kumpulan-kumpulan rembuk, satu orang Rp1.000 sebagai simpanan wajib,” terang Kamaruddin saat ditemui di Kantor Pusat Kopsyah BMI, Ruko Time Square, Gadingserpong, Tangerang

Sejak awal berdiri, Kamaruddin bersama pengurus lainnya ikut turun menemui calon anggota. Mereka menggelar pertemuan-pertemuan kecil untuk menyampaikan, pentingnya koperasi dalam membangun ekonomi warga.

“Saya sebagai komandannya ikut turun, ikut ngajak anggota aktif lewat rembug. Dari desa ke desa kita bawa sepeda motor mendatangi warga, dan itu kami jalankan selama 10 tahun, hingga akhirnya bisa berkembang seperti ini,” jelasnya.

Dikatakannya, sistem pelayanan pembiayaan yang mereka terapkan adalah modifikasi pola Grameen Bank yang didirikan oleh Prof Dr Muhammad Yunus, seorang ekonom asal Bangladesh.Konsep yang dibangun adalah memberikan pinjaman lunak tanpa jaminan kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Lambat laun, para peminjam tersebut mampu mengembalikan pinjaman pada waktu yang telah ditentukan.

“Grameen bank memacu para anggotanya memiliki tanggung jawab secara bersama-sama, maka terbentuk kesadaran dari tiap anggotanya untuk melunasi pinjaman sesuai dengan waktu yang telah ditentukan,” papar alumni Institut Pertanian Bogor tersebut.

Kendati demikian, untuk menjadi penerima pembiayaan, Kopsyah BMI memberikan banyak syarat yang terbilang ringan. Para anggota Rembug dapat mengakses pinjaman dan pembiayaan setelah melalui tahapan standar prosedur keanggotaan.

“Mulai dari uji kelayakan, latihan wajib rembug, hingga keaktifannya mengikuti agenda rembug di kumpulannya. Setelah kita nilai dan assesment-nya keluar, baru kita proses pembiayaannya,” ujar pria yang telah merantau ke Jakarta sejak tahun 1993 tersebut.

Meski demikian, besaran pembiayaan harus mempertimbangkan kemampuan anggota untuk mengembalikan (capacity to repay). Pemberian jumlah pembiayaan yang diluar kemampuan anggota, justru akan menyengsarakannya dikemudian hari.

“Jangan sampai orang miskin yang gajinya hanya untuk makan sehari, kita paksa dengan tenor yang kita tentukan, makanya ada rembug, ini menyangkut kemampuannya, bukan kemauan kita,” jelasnya.

Pola itu membuat koperasi ini menjalar ke seluruh Kabupaten Tangerang. Pembangunan ekonomi mikro terbangun di sana-sini. Hingga akhirnya, pada November 2015, LPP-UMKM berubah menjadi Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Benteng Mikro Indonesia dengan Akte Pendirian Nomor : 01 Tanggal 14 September 2015 dengan Badan Hukum Tanggal 04 Nopember 2015 Nomor : 213/PAD/M.KUMKM.2/XI/2015.

Kini Kopsyah BMI telah memiliki 500 pegawai pada lima kantor cabang dan 37 kantor cabang pembantu. Kopsyah BMI menempatkan diri sebagai salah satu koperasi syariah ter besar di Indonesia. Di awal tahun 2015, mereka merilis pembiayaan kredit jamban dan air bersih yang dinamakan mikro tata sanitasi (MTS) dan mikro tata air (MTA).

Kendati telah besar, mereka tetap memakai pola rembug seperti yang dilakukan enam belas tahun silam.
“Hingga sekarang, pola yang kita bangun adalah sistem operasional simpanan, pinjaman dan pembiayaan menggunakan pola syariah model rem bug pusat untuk kemaslahatan atau kesejahteraan anggota,” paparnya.

“Tujuannya yakni mencapai sistem syariah yang ideal berdasarkan Alquran, Al-Hadits, dan Fatwa MUI. Ini dibuktikan dengan keberadaan tiga pengawas syariah kami yang bergelar Doktor Syariah,” paparnya.

Ia menitikberatkan bahwa anggotanya adalah pemilik koperasi lewat kepemilikan simpanan pokok dan simpanan wajib. “Semakin besar simpanan eajib dan pembiayaan, maka makin besar perolehan sisa hasil usaha (SHU),” jelasnya.

Para anggota juga memiliki kesempatan pemasaran produk. Ditambah, anggota menerima keuntungan tiap tahun “Alokasinya 40 persen dari laba bersih tahun berjalan,” ujar Kamaruddin.

Kopsyah BMI juga memberikan Rumah Siap Huni (RSH) Gratis ke-74 bagi Marsiah warga Kampung Dukuh Gunung RT.01 RW.05 Desa Padasuka Kecamatan Maja – Lebak, Juli 2018 silam. Marsiah meruapakan anggota Kopsyah BMI yang memiliki rumah yang kondisinya seperti kandang kambing. Beritanya sempat viral di medio tahun kemarin.

Disinggung mengenai kecenderungan maraknya koperasi berorientasi laba semata, Kamaruddin mengatakan bahwa konsep BMI dalam berusaha adalah maqosid syariah yakni sebuah usaha bagi kesejahteraan dunia dan akhirat. Tak jarang di lapangan, mereka harus berhadapan dengan rentenir yang berkedok koperasi.

“Ini perbedaan kami, dana anggota adalah amanah. Makanya, selain mengejar laba kami juga padukan dengan berbagai kegiatan-kegiatan sosial,” katanya.

Program sosial yang dimaksud di antaranya santunan yatim, sunatan masal, lalu meluluskan sekitar lebih dari 2.000 siswa Paket C secara gratis.Peserta program Paket C merupakan anak anggota Kopsyah BMI.

Dalam program ini, Koperasi memberikan subsidi sebesar Rp1,5 juta per siswa dari total biaya Rp2 juta. Sehingga setiap siswa hanya membayar Rp500 ribu hingga mendapatkan ijazah. Program ini bekerja sama dengan beberapa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ada di wilayah kerja BMI.

“Beberapa lulusan Paket C sudah diterima menjadi karyawan Kopsyah BMI dengan berbagai posisi. Ada yang menjadi Satpam, administrasi dan lainnya,” jelas Kamaruddin.

Kegiatan sosial ini bersumber dari pemberdayaan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) yang berasal penyisihan keuntungan keuntungan koperasi. Kemudian, pembangunan fasilitas air dan sanitasi gratis untuk duafa berdasarkan lisensi luar negeri seperti IUWASH USAID. Termasuk rumah layak huni gratis.

“Hingga bulan ini kami telah membangun 208 rumah layak huni. Ada yang untuk pembiayaan anggota dan ada pula yang gratis bagi warga tidak mampu. Kami gelontorkan dana mencapai Rp30-50 juta per unit. Dengan total gelontoran dana mencapai Rp1 miliar,” paparnya.

Enam belas tahun kemudian, kini Kopsyah BMI memiliki Kantor Pusat di kawasan elit, Ruko Time Square, Gadingserpong. Kantor mentereng seharga Rp4,5 miliar itu merupakan hasil jerih payah anggotanya yang kini mencapai 157.875 orang. Meski elit, catatan keuangannya pun patut diacungi jempol.

Dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2018 yang dihelat Januari 2019 lalu, kinerja keuangannya juga membiru dengan capaian aset Rp499,3 miliar, naik 22,3 persen dibanding tahun 2017 sebesar Rp 408,2 miliar.

Ekuitas tumbuh 22,2 persen dari  Rp166,2 miliar di tahun 2017 menjadi Rp203,2 miliar  tahun 2018. Sedangkan Sisa Hasil Usaha tercatat sebesar Rp 16,1 miliar, naik 28,3 persen  dari tahun 2017 sebesar Rp12,5 miliar. Itu belum ditambah dengan akumulasi penyaluran hingga Rp3,8 triliun. Ini menjadi sebuah bukti, bahwa proses dan kerja keras tak pernah mengkhianati hasil.

(Togar/Fin)