Pendidikan Karakter Jadi Prioritas

    Mendikbud Nadiem Makarim. Foto: Faisal R Syam

    JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memaparkan fokus program kerjanya pada 2019-2024, yang akan memprioritaskan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan karakter.

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, sesuai arahan visi dan misi Presiden Joko Widodo, dirinya menginterpretasikan ke dalam lima kelompok yaitu pendidikan karakter, deregulasi dan debirokratisasi, meningkatkan investasi dan inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan teknologi.

    Pertama, Nadiem mengemukakan soal pendidikan karakter. Kemendikbud, kata Nadiem, akan memprioritaskan pendidikan karakter yang berbasis pengalaman, dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, pemuda Indonesia akan memiliki integritas.

    “Saya tidak memiliki visi misi sendiri, hanya ada satu visi misi yaitu visi Pak Presiden. Karena itu, salah satu prioritasnya adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter, ada yang sifatnya kognitif, ada yang sifatnya moral atau akhlak dan profesional,” kata Nadiem, Kamis (7/11)

    Nadiem mengungkapkan, banyak diantara perusahaan besar di Indonesia yang mengeluhkan ketiadaan profesionalisme pada pemuda Indonesia di dalam pekerjaan.

    “Profesionalisme yang dimaksud adalah karakter, apakah itu menghormati atasan, menghormati waktu, memperbaiki diri, maupun menghormati rekan kerja. Hal itu berdampak pada ekonomi Indonesia,” tuturnya.

    Selain itu, terkait pendidikan karakter intoleransi. Nadiem melihat saat ini bermunculan tren politik identitas dan juga kekurangan intoleransi dalam berbagai instansi.

    “Ini terjadi karena tidak adanya kebersamaan identitas, identitas yang bersifat nasional dan juga saling mengerti, kasih sayang sesama suku bangsa dan agama,” imbuhnya.

    Kemudian poin yang kedua, lanjut Nadiem, yakni deregulasi dan debirokratidasi. Nadiem ingin memotong semua regulasi yang menghambat terobosan dan peningkatan investasi, terkait pendidikan di Indonesia.

    “Regulasi dan birokrasi pendidikan yang berbelit di Indonesia menghambat inovasi,” ujarnya.

    Ketiga, Nadiem menginginkan peningkatan investasi dan inovasi kebijakan pemerintah harus kondusif untuk menggerakkan sektor swasta, agar meningkatkan investasi, terutama di sektor pendidikan.

    Keempat, Nadiem menginginkan pendidikan Indonesia dengan kerangka penciptaan lapangan kerja. Semua kegiatan program pendidikan pemerintah, berorientasi pada penciptaan lapangan kerja.

    “Utamakan pendekatan pendidikan dan pelatihan vokasi yang baru dan inovatif,” ucapnya.

    Poin Kelima, Nadiem berbicara soal pemberdayaan teknologi. Nadiem menginginkan teknologi menjadi penunjang sumber daya manusia. Ia menginginkan, pendidikan berfungsi untuk memperkuat teknologi sebagai alat pemerataan.

    “Baik di daerah terpencil, maupun kota besar mendapatkan kesempatan dan dukungan yang sama untuk pembelajaran,” katanya.

    Sementara itu, Pengamat Pendidikan Darmaningtyas, mengatakan bahwa dengan keanekaragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, seharusnya pendidikan karakter pada era sekarang ini harus berlandaskan kepada kebudayaan yang ada di daerah setempat.

    “Ini agar para anak-anak generasi milenial ini bisa mengerti mengenai apa yang menjadi budaya yang ada di daerahnya masing-masing. Sehingga, pendidikan karakter itu nantinya akan kembali tumbuh pada jiwa para generasi milenial itu,” ujar Darmaningtyas.

    Namun menurut Darmaningtyas, anak-anak muda sekarang ini sudah kurang begitu berminat kepada nilai-nilai yang sifatnya normatif. Karena pendidikan karakter itu mau tidak mau sifatnya itu normatif.

    “Sementara para generasi milenial ini menolak hal-hal yang sifatnya normatif, apalagi eksistensi para generasi milenial ini berasal dari dunia global,”ujarnya.

    Selain itu, lanjut Darmaningtyas, kelemahan yang menjadi problem yang ada pada bangsa sekarang ini, terkait membicarakan tentang pendidikan karakter selalu identik dengan pendidikan Agama. Yang mana, sekarang ini penyelesaiannya lebih kepada menambahkan mata pelajaran Agama.

    “Padahal seharusnya tidak demikian. Karena seperti kesenian, sastra, olahraga, pramuka itu mestinya bisa menjadi media untuk dijadikan sebagai wahana pendidikan karakter. Ini yang saya kira banyak tantangan dan kendalanya,” pungkasnya.

    (der/fin)