Mesin Gol PSM Masih Lesu

Dua penyerang PSM Makassar, Guy Junior (kiri) dan Ferdinand selebrasi usai mencetak gol ke gawang PS Tira pada Liga 1 Gojek di Stadion Andi Mattalatta, Sabtu, 21 April. PSM Makassar unggul 4-3 melawan PS Tira. ABE BANDOE/FAJAR

MAKASSAR – Tersisa sepuluh laga lagi yang harus dijalani PSM. Namun, mesin gol masih lesu.

CEO PSM, Munafri Arifuddin menekankan Pasukan Ramang harus bisa lebih produktif lagi. Sebelum musim Liga 1 2019 benar-benar berakhir.

Pria yang akrab disapa Appi itu ingin striker yang berada di lini depan lebih memaksimalkan performanya di setiap laga. Tak hanya bersemangat mencetak gol di laga kandang. Tetapi juga di laga tandang.

“Tugas striker kita memang mencetak gol. Harus banyak gol. Mau laga kandang atau tandang,” kata Appi, Kamis, 7 November.

Sejauh ini, Pasukan Ramang telah membukukan 34 gol ke gawang lawan. Dari 34 gol itu, sebanyak 27 gol dari laga kandang. Sisanya, tujuh gol dari hasil lawatan. Selain itu, PSM juga kebobolan 29 gol.

Produktivitas gol PSM memang sedikit lebih banyak musim ini. Itu jika dibandingkan dari musim lalu. Namun sejauh ini, PSM belum pernah menang di kandang lawan. (lihat grafis)

Appi menilai, belum terjadi sinkronisasi yang padu. Sehingga para mesin pencetak gol belum bisa menunjukkan performa maksimalnya.

Misalnya saja, Ferdinand Sinaga yang dua musim sebelumnya bisa mencetak hingga 12 gol. Musim ini baru tujuh gol saja. Amido Balde serta Zulham Zamrun yang menjadi top skor Piala Indonesia, masing-masing baru mencetak tiga dan empat gol.

Berharap dari rekrutan anyar, Ezra Walian juga belum bisa. Sebab, penyerang naturalisasi itu meski dipasang sebagai starter masih selalu ditarik keluar oleh Darije Kalezic. Sebab kondisinya yang masih belum fit 100 persen.

Memasuki putaran kedua musim, Pelatih PSM, Darije Kalezic masih sering mengotak-atik lini serangnya. Belum mematenkan pos-pos pemain di baris depan.

Pada posisi sayap, ada Zulham, Rahmat, Rizky Eka, serta Ezra yang menjadi opsi bagi pelatih yang gemar formasi 4-3-2-1 itu.

“Tidak selalu pemain dalam kondisi terbaik. Mereka bukan robot. Pemain yang paling siap, itu yang main,” tegas pelatih berdarah Bosnia itu.

(gsa/yuk)