Guyonan Jokowi Teguran untuk Surya Paloh

JAKARTA – Sambutan Presiden Joko Widodo saat membuka peringatan HUT ke-55 Partai Golkar menjadi sorotan publik. Terlebih ketika menyapa Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh. Ucapan Jokowi dinilai tak hanya sekadar kelakar.

Pakar Komunikasi Politik Emrus Sihombing mengatakan, sapaan Jokowi kepada Surya Paloh bukan bercandaan semata. Namun, sarat makna mendalam sebagai teguran kepada Surya Paloh. Yakni untuk tetap konsisten sebagai bagian dari koalisi pemerintahan.

“Ketika memberi sambutan, Jokowi menyapa para ketua umum. Saat itu belum menyebut nama-nama ketua umum partai. Namun, sapaan langsung ditujukan kepada Surya Paloh. Dari sapaan tersebut, bisa kita menangkap maknanya. Presiden ingin menyampaikan pesan bahwa Surya Paloh sudah lebih dekat dengan Presiden PKS Sohibul Iman,” kata Emrus kepada Fajar Indonesia Network (FIN) di Jakarta, Kamis (7/11).

Diketahui, kepemimpinan Jokowi – Ma’ruf, mengakomodasi tiga menteri dari Nasdem. Yaitu di Kementerian Pertanian, Kementerian Komunikasi & Informatika dan Kementerian Kehutanan & Lingkungan Hidup. Bahkan pemerintahan Kabinet Kerja, Jokowi juga menaruh kepercayaan luar biasa kepada Nasdem dengan mempercayakan jabatan strategis kepada kader Nasdem menjadi Jaksa Agung.

“Untuk itu, saya menyarankan kepada Surya Paloh agar segera memperbaiki relasi koalisi dan komitmen dengan pemerintahan Jokowi. Jangan sampai hubungan terganggu. Apalagi semakin jauh. Sementara ada tiga kader Nasdem di kabinet,” bebernya.

Menurut akademisi Universitas Pelita Harapan ini, memang ada keinginan mengambil posisi checks and balances. Namun, konsekuensinya harus berada di luar pemerintahan dengan menarik kadernya dari kabinet. “Sebab, berada di luar pemerintahan, sama mulianya dengan di dalam kekuasaan. Sepanjang berbasis pada ideologi Pancasila, UUD 1945 dan NKRI,” imbuhnya.

Ketegasan sikap politik sangat perlu agar tidak dimaknai seolah bermain dua kaki. “Jangan sampai Nasdem berada di persimpangan jalan. Politik itu perlu komitmen. Apalagi mengambil jalan oposisi. Karena tidak ada partai yang menjadi oposisi. Ini kurang produktif,” tambahnya.

Menanggapi hal ini, Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya menilai jika ucapan Jokowi hanya berkelakar. Ia meyakini hubungan Jokowi dan Surya Paloh sangat dekat dan erat. “Kalau kita lihat, sama Pak Jokowi kan sudah biasa bercanda. NasDem sama Pak Jokowi bukan hubungan sehari dua hari. Apalagi Pak Surya, cukup panjang hubungannya. Sudah seperti kakak dan adik,” papar Willy.

Menurutnya, candaan Jokowi kepada sang ketum itu menunjukkan hubungan emosional keduanya sudah di atas rata-rata. Mereka dinilai sudah memiliki chemistry yang sama. Dikatakan, dalam berkomunikasi, Jokowi kerap menggunakan pantun dan guyon. Hal tersebut menjadi suatu tradisi yang lebih baik karena mampu merespon satu sama lain. “Nggak sehat kalau sesuatu terjadi kemudian diam-diaman. Itu lebih nggak sehat,” tutupnya.

(khf/fin/rh)