Pengangguran di Banten Tertinggi Lagi

SERANG – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Banten pada periode Agustus 2019 sebesar 8,11 persen. Angka itu melebihi rata-rata nasional sebesar 5,28 persen dan menjadikan Banten sebagai provinsi dengan TPT tertinggi se-Indonesia.

Hal tersebut terungkap dalam ekspose keadaan ketenagakerjaan Banten yang digelar di Kantor BPS Provinsi Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Selasa (5/11).

Berdasarkan informasi yang dihimpun dalam ekspose, TPT Banten berada di atas Jawa Barat yang berada di peringkat kedua sebesar 7,99 persen. Kemudian Provinsi Maluku diperingkat ketiga dengan 7,08 persen, Kepulauan Riau diperingkat empat dengan 6,91 persen. Sementara untuk DKI Jakarta berada di peringkat ketujuh dengan prosentase 6,22 persen.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, gambaran ketenagakerjaan Provinsi Banten periode Agustus 2018 hingga Agustus 2019 terdapat peningkatan jumlah penduduk bekerja sebesar 230.350 orang, dari 5,33 juta menjadi 5,56 juta orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami peningkatan dari 63,49 persen menjadi 64,52 persen.

Kenaikan TPAK itu merupakan indikasi adanya kenaikan suplai tenaga kerja.Berdasarkan status pekerjaan, sebagian besar penduduk bekerja di Banten berstatus buruh atau karyawan sebanyak 3,12 juta orang. Jumlah pekerja formal di Banten lebih tinggi dibanding pekerja informal. Persentase pekerja formal mencapai 58,74 persen

“Angka pengangguran menunjukkan penurunan dari 8,52 persen pada Agustus 2018 menjadi 8,11 persen pada Agustus 2019. Tapi memang effort in (upayanya-red) ternyata masih kurang canggih dibanding provinsi lain. Kelihatan kita terbesar se-Indonesia, dari 34 provinsi kita nomor satu (untuk tingkat) pengangguran,” ujarnya.

Dari catatan Banten Raya, dengan prosentase sebesar 8,52 pada Agustus 2018, pada saat itu Banten juga menempati peringkat tertinggi TPT dibanding 33 provinsi lainnya di Indonesia.

Ia menjelaskan, jika dirinci per kabupaten/kota maka Kabupaten Serang menjadi daerah dengan TPT tertinggi yaitu sebesar 10,65 persen. Lalu disusul Kota Cilegon 9,68 persen, Kabupaten Tangerang 8,91 persen, Kabupaten Pandeglang 8,71 persen. Kota Serang 8,08 persen, Kabupaten Lebak 8,05 persen, Kota Tangerang 7,13 persen dan Kota Tangerang Selatan 4,79 persen. Jika dikalkulasikan, jumlah pengangguran yang ada di Banten adalah sebanyak 490,8 ribu orang.

“Pengangguran atau pencari kerja terbanyak terdapat di Kabupaten Tangerang yaitu sebanyak 164 ribu orang. Namun jika dilihat dari TPT yang tertinggi adalah Kabupaten Serang dengan 10,65 persen meski turun dari tahun sebelumnya sebesar 12,58 persen,” katanya.

Diungkapkan Adhi, tingginya angka pengangguran di Bantendia disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama dilandanya Banten dengan musim kemarau berkepanjangan sejak Februari hingga September. Petani terpaksa menganggur karena kondisinya tak bisa menanam.

“Kedua, terjadi beberapa hal di industri di Banten. Krakatau Steel kemarin merumahkan yang (pekerja) oursourcing. Kemudian ada peralihan industri di Tangerang Selatan, (PT) Sandratex itu pindah atau tutup yang mengakibatkan pengangguran meningkat,” ungkapnya.

Lebih lanjut dipaparkannya, tingginya TPT di Banten juga disebabkan oleh banyaknya lapangan pekerjaan yang menarik migran untuk masuk ke Banten. Banyaknya migran masuk mencari pekerjaan tidak semuanya terserap oleh pasar kerja.

Dilihat dari komposisi pencari kerja menurut pendidikan, pencari kerja di Provinsi Banten didominasi oleh mereka yang berpendidikan menengah (SMA/K). Pengangguran menurut tingkat pendidikan SD ke bawah terdapat 18,50 persen. Kemudian SMP 16,36 persen, SMA 31,73 persen, SMK 23,51 persen. Diploma I/II/III 2,88 persen dan tamatan universitas 7,03 persen.

“Di lain pihak, migran masuk yang berpendidikan tinggi lebih mudah memperoleh pekerjaan di Banten,” tuturnya.

Terkait hasil ekspose, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten Al Hamidi belum bisa dimintai keterangannya. Yang bersangkutan tak merespons upaya konfirmasi yang dilayangkan wartawan.

(dewa)