Menkes Terbitkan Regulasi Cegah dan Atasi Kanker

    JAKARTA – Kanker payudara telah membunuh 22 ribu wanita Indonesia sepanjang 2018. Kementerian Kesehatan pun berusaha untuk menekan kasus kematian yang dinilai sangat tinggi tersebut.

    Menteri Kesehatan (Menkes) Dr Terawan Agus Putranto mengatakan angka kematian wanita penderita kanker payudara di Indonesia tergolong tinggi. 22 ribu penderita kanker meninggal pada tahun 2018. Ini sama saja dengan 17 per 100 ribu pasien kanker payudara.

    “Angka yang cukup tinggi,” kata Terawan yang diwakili Kasubdit Rumah Sakit Pendidikan Direktorat Yankes rujukan Ditjen Pelayanan Kesehatan Dr Tengku Jumala Sari saat Diskusi Publik Akses Pelayanan Pengobatan Berkualitas bagi Pasien Kanker Payudara HER2 Positif di Perpustakaan Nasional Jakarta, Selasa (29/10).

    Menkes dalam pesannya, tingginya jumlah kematian akibat kanker payudara tidak boleh diabaikan. Penanggulangan harus dilakukan meskipun membutuhkan biaya tinggi.

    “Penyakit kanker payudara dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup pada umumnya untuk harus segera diatasi,” katanya.

    Dijelaskan, terkait jenis kanker HER2 Positif, ia juga menyatakan kanker jenis ini merupakan jenis kanker payudara yang positif terhadap human epidermal growth factor receptor atau HER2, yaitu protein yang meningkatkan pertumbuhan sel kanker.

    “Kanker payudara HER2 Positif adalah jenis kanker payudara yang lebih agresif dan cenderung kambuh kembali,” terangnya.

    Untuk itu, ia mengimbau masyarakat untuk melakukan deteksi dini kanker payudara, khususnya terhadap kanker payudara HER2 Positif. Terlebih saat ini kemajuan ilmu pengetahuan dan terapi yang memungkinkan harapan kesembuhan bagi pasien jika ditangani secara optimal dan sejak stadium dini.

    “Upaya pencegahan dan promotif terhadap penyakit kanker, serta upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian karena kanker juga harus dilakukan oleh seluruh pihak yang terkait,” pintanya.

    Dalam hal itu, Kemenkes telah menerbitkan beberapa regulasi dalam upaya menanggulangi penyakit kanker secara umum. Mulai dari regulasi tentang fasilitas kesehatan, sistem rujukan, jaminan kesehatan, sumber daya manusia (SDM), kompetensi, tata kelola penyakit, serta regulasi tentang pengobatannya.

    “Tentu regulasi ini dibuat dengan tujuan untuk kepentingan masyarakat dan semua pihak yang terlibat di dalamnya,” katanya.

    Di tempat yang sama, ahli bedah Onkologi RSCM Dr Sonar Doni Panigoro mengatakan kanker payudara dapat dicegah dengan tiga cara, salah satunya adalah pencegahan primer dengan menghindari faktor risiko sebagai upaya pencegahan paling ideal.

    “Faktor risiko bisa dihindari sejak awal untuk mencegah terjadinya kanker,” katanya.

    Dia mengatakan hingga saat ini hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya kanker secara umum belum diketahui secara pasti. Namun, faktor risiko yang erat kaitannya dengan peningkatan insiden kanker payudara, antara lain jenis kelamin perempuan, usia lebih dari 50 tahun, riwayat keluarga dan genetik.

    “Riwayat penyakit payudara sebelumnya, riwayat menstruasi dini di bawah usia 12 tahun atau menstruasi pertama yang terlambat di atas usia 55 tahun juga menjadi bagian dari faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena kanker payudara,” bebernya.

    Selain itu, lanjut Sonar, riwayat reproduksi, masalah hormonal, obesitas, konsumsi alkohol, riwayat radiasi dinding dada dan masalah lingkungan juga termasuk ke dalam faktor risiko kanker payudara.

    Karenanya, untuk dapat mencegah terjadinya kanker payudara, dia menyebut ada tiga cara yang dapat dilakukan. Pertama dengan pencegahan primer, lalu sekunder dan ketiga adalah tersier.

    Karena belum diketahui secara pasti penyebab seseorang terserang kanker payudara, pencegahan primer menjadi sulit dilakukan. “Yang dapat dilakukan (dalam pencegahan primer ini) adalah mengendalikan faktor risiko,” katanya.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here