Faktor Manusia, Penyebab Terbesar Karhutla

    FOTO: AFP

    SISAKAB ABU: Salah satu petugas BNPB memandangi lahan gambut dan pepohonan lebat yang terbakar dia kawasan Kampar, Riau. Pemerintah harus lebih tegas dalam menyikapi aksi koorporasi, jika tetap membandel dalam aksi pembakaran hutan dan lahan.

    JAKARTA – Penyebab terbesar terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) adalah faktor manusia. Mulai dari putung rokok hingga sengaja membakar lahan.

    Hal tersebut dikatakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya. Meski demikian, dia juga menyebut tidak sedikit karhutla terjadi akibat faktor alam.

    “Ada yang akibat buang puntung rokok sembarangan, ada juga karena pembakaran untuk membuka ladang dan kebun,” katanya di Cibubur, Selasa (29/10).

    Siti menyebut pemerintah telah melakukan upaya pemadaman serta kontrol ketat pengelolaan lahan untuk mencegah kejadian karhutla.

    “Petugas terus bekerja di lapangan, BPBD juga aktif. Pemerintah masih waspada hingga pertengahan November,” katanya.

    Menteri KLHK juga mengatakan di awal jabatannya pada periode kedua ini, dia akan berusaha untuk meminimalisir bencana karhutla dengan melakukan edukasi. Terutama ke sekolah-sekolah.

    “Di sekolah untuk berbagi inspirasi dan mengajak siswa bersama-sama menjaga lingkungan hidup dan kehutanan,” katanya.

    Data dari Sistem Monitoring Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah titik panas (hotspot) pada Selasa (29/10/2019), berdasarkan pantauan satelit Terra/Aqua (dengan tingkat kepercayaan ? 80 persen) sebanyak 52 titik.

    Jumlah ini telah turun jauh dibandingkan pekan lalu yang tercatat lebih dari 600 titik.

    Terpisah, Bareskrim Polri memastikan penyidikan tiga korporasi tersangka karhutla di Provinsi Riau terus berlanjut. Tiga korporasi tersebut adalah PT Adei Plantation and Industry, PT Gelora Sawit Makmur, dan PT Wahana Sumber Sawit Indah.

    Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Mabes Polri Brigjen Pol Fadil Imran mengatakan, penyidikan PT Adei Plantation and Industry, perusahaan perkebunan sawit asal Malaysia itu dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi.

    “Untuk PT Adei masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi,” kata Fadil.

    Polri menyegel lahan perkebunan kelapa sawit asal Malaysia, PT Adei Plantation and Industry, yang terbakar seluas 4,25 hektare di Divisi II Desa Batang, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau, pada medio September 2019 lalu.

    Fadil mengatakan, tindakan itu untuk memastikan keseriusan kepolisian menindak tegas terhadap lahan perkebunan perusahaan yang terbakar.

    Selain menyegel dan menangani langsung PT Adei Plantation and Industry, Polri juga menyegel lahan PT Gelora Sawit Makmur (GSM) dan PT Wahana Sumber Sawit Indah (WSSI). PT GSM merupakan perusahaan perkebunan sawit yang lahannya turut disegel oleh tim SatgaS Penegakan Hukum Terpadu KLHK dan Mabes Polri di Kabupaten Siak, Riau.

    PT GSM secara lokasi berdampingan dengan PT WSSI yang juga berada di Kabupaten Siak. Lahan di dua perusahaan itu terbakar pada Juli 2019 lalu dengan luas puluhan hektare.

    Bareskrim Polri secara langsung menangani tiga perusahaan tersebut, selain turut memberikan asistensi kepada Polda Riau dalam menangani perusahaan terlibat karhutla lainnya.

    Fadil mengatakan, penyidik masih terus mengumpulkan bukti dalam menangani dua perusahaan di atas. “Untuk dua yang lain masih nunggu hasil laboratorium baku mutu tanah. Penyidikan semuanya terus berjalan,” tegasnya.

    Selain Mabes Polri, jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau juga telah menetapkan sejumlah perusahaan sebagai tersangka. PT Sumber Sawit Sejahtera (SSS) menjadi perusahaan pertama yang terseret kasus karhutla.

    PT SSS adalah perusahaan perkebunan sawit yang berlokasi di Kabupaten Pelalawan. Lahan perusahaan itu terbakar pada Februari 2019 lalu. Kebakaran diduga kuat akibat kesengajaan untuk memperluas perkebunan.

    Pada Agustus 2019, polisi menetapkan PT SSS sebagai tersangka secara korporasi. Selanjutnya, pada awal Oktober ini, penyidik melakukan gelar perkara dan menetapkan Direktur Utama PT SSS berinisial EH sebagai tersangka secara korporasi.

    Tak hanya itu, polisi kemudian menetapkan penjabat sementara manajer operasional PT SSS berinisial AOH sebagai tersangka. Dia disebut sebagai pihak paling bertanggung jawab dalam kebakaran itu. AOH pun saat ini telah ditahan.

    Terakhir, Polda Riau meningkatkan status penyidikan PT Tesso Indah pada medio Oktober ini. Pada 16 Oktober, SPDP juga telah dikirim ke Kejati Riau.

    “Saat ini ada PT SSS yang tersangkanya sudah dilakukan penahanan, dan ini menyusul nanti PT TI,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau AKBP Andri Sudarmadi.

    (gw/fin)