8 Nama Anggota Kabinet Indonesia Maju Terseret Korupsi

    FOTO: FAISAL R SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK.

    JAKARTA – Komposisi menteri kabinet Indonesia Maju pemerintahan periode kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuai sorotan. Khususnya terkait dugaan keterlibatan sang menteri dengan kasus korupsi yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat sedikitnya terdapat delapan nama menteri yang pernah diperiksa oleh KPK. Tiga di antaranya bahkan pernah disebut dalam persidangan tindak pidana korupsi. Meski belum terbukti terlibat, ICW berpendapat seharusnya hal ini dapat dijadikan pertimbangan bagi Jokowi.

    “Rekam jejak kasus korupsi penting dicermati dan dipertimbangkan mengingat jabatan sebagai menteri merupakan jabatan yang sangat strategis sekaligus rawan,” ujar Peneliti ICW Kurnia Ramadhana di Jakarta, Selasa (29/10).

    Tiga menteri yang dimaksud Kurnia antara lain pertama, Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H Laoly. Nama Yasonna pernah muncul dalam surat dakwaan dua mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Irman dan Sugiharto terkait korupsi proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP).

    Yasonna disebut menerima dana haram dari praktik korupsi tersebut senilai USD84 ribu. Tak hanya itu, menurut catatan ICW, Yasonna beberapa kali dipanggil oleh KPK untuk diperiksa sebagai saksi perkara serupa dengan tersangka saat itu Direktur Utama (Dirut) PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo.

    “Uang tersebut disebut diterima Yasonna saat masih menjabat sebagai anggota DPR 2009-2014,” kata Kurnia.

    Kedua, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali. Kurnia menjelaskan, Zainudin pernah menjadi saksi dalam kasus suap sengketa Pilkada. Dalam putusam atas terdakwa mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, Zainudin disebut pernah berkomunikasi dengan Akil melalui BlackBerry Messenger (BBM).

    Percakapan keduanya disebut seputar sengketa Pilkada di Jawa Timur. Saat itu, Zainudin merupakan Ketua Bidang Pemenangan pasangan Soekarwo dan Syaifullah Yusuf. Akil meminta disiapkan uang Rp10 miliar kepada Zainudin.

    “Akil dan Zainudin disebut akan bertemu di rumah Akil. Namun pertemuan dan penyerahan uang tidak jadi terlaksana karena Akil ditangkap KPK,” tutur Kurnia.

    Kurnia menambahkan, Zainudin juga pernah diperiksa oleh KPK dalam kasus Kementerian ESDM yang melibatkan mantan Menteri ESDM Jero Wacik. Ia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Sekjen Kementerian ESDM Waryono Karno.

    “Sebelumnya KPK juga melakukan penggeledahan di kediaman dan kantor Zainudin yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR,” tandasnya.

    Terakhir, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PAN-RB) Tjahjo Kumolo. Kurnia menyatakan, eks Mendagri itu pernah diperiksa sebagai saksi kasus suap perizinan proyek Meikarta pada 25 Januari 2019.

    Pada persidangan kasus Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung pada 14 Januari 2019, terdakwa Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin menyebut Tjahjo pernah meminta dirinya membantu perizinan Meikarta.

    “Ia mengakui bahwa ia menghubungi Neneng karena saat itu Kemendagri membahas proyek Meikarta dan pihak yang berwenang memberi izin adalah Bupati Bekasi,” kata Kurnia.

    Kurnia menilai, langkah Jokowi dalam pembentukan menteri kabinet tak konsisten dengan nawacitanya yang menegaskan akan memberantas korupsi di Indonesia. Ia pun lantas mempertanyakan apakah komitmen Jokowi telah memudar seiring berjalannya waktu.

    “Bagaimanapun korupsi adalah persoalan yang dapat mengancam pencapaian target-target pemerintah,” tutup Kurnia.

    Hasil penelusuran, lima menteri Kabinet Indonesia Maju lainnya yang juga terseret-seret kasus korupsi, yaitu Abdul Halim Iskandar. Dia pernah diperiksa sebagai saksi di KPK pada 31 Juli 2018. Abdul Halim ditelisik soal hubungannya dengan Bupati Nganjuk, Taufiqurrahman yang merupakan tersangka suap, gratifikasi, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here