Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III/2019 Diprediksi Melambat

Sinergi Fiskal Moneter, Jurus Ampuh Antisipasi Resesi Ekonomi

JAKARTA – Ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2019 mengalami perlambatan. Hal itu dilihat dari kurang geliatnya ekspor Indonesia sehingga maksimal kisaran berada di angka 5,0 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor turun 1,29 persen dari 14,28 miliar di Agustus menjadi 14,10 miliar pada September 2019. Nilai ekspor turun lebih tajam secara tahunan sebesar 5,74 persen.

“Jika melijat perkembangan ekonomi beberapa bula ke belakang, baik secara nasional maupun global, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III tahun ini melambat, yakni di kisaran 4,95-5,0 persen,” ujar Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia (EconAct), Ronny P Sasmita, kemarin (19/10).

Kondisi demikian, lanjut dia karena diselimuti rapor merah ekspor ekspor-impor dan necraca dagang. Pelemahan itu terjadi tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. “Di seluruh dunia pasar ekspor nasional lagi tertekan. Begitu pula dengan harga komoditas yang fluktuatif,” kata dia.

Soal konsumsi rumah tangga, dia melihat investor masih menunggu kepastian hukum dan politik. “Dari sisi investasi asing, Indonesia harus bersaing secara ketat dengan negara-negara tetangga untuk mendapat berkah investasi imbas dari perang dagang,” ucap dia.

Selanjutnya dari sisi belanja negara, dia memprediksi, pertumbuhannya akan sedikit turun karena imbas dari ketidakpastian pendapatan negara dari sektor pajak.

“Sampai dengan akhir kuartal II tahun ini tanda-tanda penerimaan negara terlihat belum sesuai target. Kondisi demikian akan membuat pemerintah sedikit konservatif dalam berbelanja,” papar dia.

Sebelumnya Menteri Keuangan, Sri Mulyani meyakini pertumbuhan ekonomi di kuartal III/2019 akan tembus 5 persen. Meski di tengah tekanan dan ketidakpastian perekonomian global.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu meramal pertumbuhan ekonomi hingga tahun ini mampu mencapai 5,08 persen. Prediksi ini jauh dari target pemeirntah 5,3 persen pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019.

Menurut dia, konsumsi rumah tangga masih akan menjadi penolong pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. Oleh karenanya pemerintah berupaya mengendalikan dan menjaga konsumsi tetap tinggi.

“Kalau konsumsi kita harap dengan adanya stabilitas harga bahkan ada deflasi kita mengharap konsumsinya posisi indeks confidence-nya dari konsumen cukup kuat. Jadi kita berharap akan tetap bisa terjaga di 5 persen,” uja dia.

(din/fin)