Jangan Remehkan Pikun

TOKYO – Demensia atau orang Indonesia biasa sebut pikun, ternyata bukan permasalahan kecil. Jumlah penderitanya ternyata tidak kalah hebat, dengan penyakit lain, seperti HIV dan AIDS. Menurut data yang diungkap pemerintah Belanda, jumlah penderita pikun di tahun 2030 mendatang, tidak akan jauh berbeda dengan jumlah populasi manusia di Jerman.

Hal ini diungkap menteri kesehatan Belanda, Hugo de Jonge, dalam ajang World Dementia Council di Tokyo, Jepang, baru-baru ini. Menurutnya, selama ini demensia kerap terabaikan dan dianggap remeh.

“Dunia baru menyadari bahaya dari HIV/AIDS. Karena kondisi ini merenggut jutaan jiwa. Sejak saat itu munculah kesadaran. Dan 15 tahun setelah epidemi itu muncul, perawatan yang efektif dalam menangani kondisi ini pun berhasil ditemukan,” kata Hugo de Jonge dalam pidatonya seperti dikutip The Guardian, Sabtu (19/10).

Saat ini, lanjutnya, muncul epidemi lainnya. Bukan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh seperti HIV/AIDS. Namun otak manusia. “Daya ingat kita, kepribadian kita, dan diri kita. eperti halnya HIV/AIDS di awal-awal terhadulu, demensia juga kurang didanai penelitiannya,” ujar de Jong.

Jika digambarkan, lanjut de Jong, penderita demensia di dunia, maka butuh negara Eropa sebesar Spanyol, untuk dapat menampung semua penderitanya. Ia memprediksi jika kondisi ini nantinya, sebelas tahun dari sekarang, akan mampu mencapai angka 75 juta jiwa secara global. “Sebuah angka masif yang tidak boleh diabaikan begitu saja,” imbuhnya.

Apabila, de Jong menyebut kondisi ini akan memakan biaya yang luar biasa besar. Nilainya bisa mencapai USD 2 triliun untuk bisa menanganinya secara medis. “Tidak bisa dipungkiri jika demensia adalah salah satu kondisi kesehatan yang memakan biaya perawatan medis terbesar. Selain juga tantangan sosial yang akan dihadapi ke depannya nanti. Sementara di beberapa negara, kondisi ini sudah menjadi salah satu penyebab kematian utama,” ucapnya.

Terkait hal ini, Profesor Philip Scheltens, director dari Alzheimer Centre di rumah sakit UMC kota Amsterdam, dilaporkan telah melakukan lobi kepada pemerintahan Belanda. Tujuannya guna mendapatkan dukungan investasi studi demensia dari negaranya. Kendati demikian, dirinya meminta perhatian lebih dunia atas permasalahan ini.

“Urgensinya sangatlah tinggi. Hingga saat ini belum ada obat yang khusus untuk kondisi ini. Kita perlu memulai dari awal untuk bisa mengerti apa itu demensia. Seluruh dunia harus ambil bagian dalam pendanaan,” paparnya.

Pemerintah Belanda sendiri dikabarkan akan memanggil para menteri dari negara-negara, yang tergabung dalam G20 untuk terlibat dalam penelitian gabungan. Untuk agenda yang rencananya akan digelar pada pekan depan tersebut, kota Okayama adalah venue yang ditunjuk untuk melangsungkan pertemuan besar tersebut.

(ruf/fin/rh)