Enam Polisi Kendari Jalani Sidang Disiplin

JAKARTA – Enam anggota Polres Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) menjalani proses sidang disiplin. Mereka disidang karena melanggar standar operasional prosedur (SOP) dalam pengamanan aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Sultra, pada 26 September 2019.

Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhart mengatakan enam anggota Polres Kendari akan menjalani sidang disiplin di ruang Bid Propam Polda Sultra, pada Kamis (17/10).

“(Sidang) Direncanakan besok (hari ini -red),” kata AKBP Harry, Rabu (16/10).

Keenam polisi berinisial DK, DM, MI, MA, H, dan E yang kini telah dibebastugaskan tersebut disidang karena diduga melanggar SOP dengan membawa senjata api saat mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Halu Oleo di depan Kantor DPRD Sultra.

Salah seorang di antaranya, yaitu DK merupakan perwira pertama yang menduduki jabatan reserse di Polres Kendari. Sementara lima lainnya adalah bintara dari satuan reserse dan intelijen.

Sementara itu, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Yati Andriyani meminta agar oknum polisi penembak dua mahasiswa Universitas Halu Oleo hingga tewas harus diproses hukum. Jangan hanya disidang etik dan prosedur.

Yati mengecam langkah Polri yang terkesan lambat. Alasannya karena hingga lebih dari dua pekan setelah penembakan terhadap La Randi (20) dan Muh Yusuf Kardawi (19) terjadi, belum terdapat penetapan tersangka pelaku penembakan.

“Kami menyatakan akuntabilitas Polri dalam penanganan kasus ini tidak hanya mengedepankan pengungkapan pelanggaran etik dan prosedur, Kapolri harus memprioritaskan akuntabilitas kasus ini melalui ranah pertanggungjawaban pidana,” ujarnya.

Bukti-bukti jatuhnya korban jiwa dalam penggunaan senjata api dinilainya cukup untuk segera dilakukan penetapan tersangka penembakan mahasiswa. Walaupun, selongsong peluru yang ditemukan saksi tidak diketahui kelanjutan prosesnya.

Langkah Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mencopot Kapolda Sulawesi Tenggara dinilainya tidak cukup. Sebab pelaku penembakan masih belum terungkap.

Dari investigasi yang dilakukan, KontraS menyimpulkan terjadi dugaan tindakan di luar prosedur dalam pengamanan unjuk rasa oleh aparat kepolisian dengan menggunakan kekuatan tidak proporsional dan terukur.

Yati mengatakan berdasarkan keterangan saksi peristiwa, diduga penembakan dengan senjata api sejak awal digunakan untuk tujuan pembubaran massa mahasiswa Universitas Halu Oleo.

“Dalam pengamanan unjuk rasa, kepolisian punya prosedur operasional standar dalam tahapan tertentu, tapi dalam hal ini kami menduga penggunaan senjata api sejak awal,” katanya.

(gw/fin)