Canggih! Identifikasi Tumor Otak Hanya Lewat Tes Darah

GLASGOW – Sebuah studi di Inggris, mengklaim menemukan cara baru mengenali tumor otak. Cara itu dapat dilakukan hanya dengan prosedur yang cukup sederhana. Yakni tes darah. Terobosan baru ini pertama kalinya diperkenalkan ahli medis kepada dunia.

Seperti dilansir The Guardian, Sabtu (12/10), hanya satu kali proses, mereka yang mengidap kanker di bagian otak, dapat terdeteksi secara akurat. Para ahli mengklaim tingkat akurasinya mendekati 90 persen. Temuan penting itu dirilis Dr Matthew J. Baker dan kolega dari Department of Pure and Applied Chemistry di University of Strathclyde Glasgow, Inggris Raya, pada jurnal Nature Communications.

“Temuan ini merupakan publikasi pertama dari studi yang pernah kami keluarkan. Sekaligus demonstrasi pertama tentang bagaimana cara uji coba darah ini bekerja. Dengan terobosan ini, diharapkan pengaplikasian tes darah untuk mengenali keberadaan kanker pada otak dapat menghemat waktu,” kata Baker.

Dr. Paul Brennan, dosen senior dan juga konsultan bedah saraf di University of Edinburgh menjelaskan, diagnosa tumor otak bukanlah sebuah proses yang mudah. Hal ini masuk dalam kategori pekerjaan yang rumit.

“Yang menjadi masalah adalah gejala yang ditimbulkan tumor otak terbilang non spesifik. Seperti sakit kepala atau masalah ingatan. Ini membuat para dokter kesulitan apakah seseorang menderita tumor otak atau tidak,” jelas Brennan.

Dengan adanya terobosan ini, Baker dan kolega berharap jika penggunaan lampu inframerah untuk menciptakan bio-signature dari darah yang diujicobakan dapat diaplikasikan.

“Pengaplikasian sistem kecerdasan buatan untuk memindai tanda-tanda kanker pada otak, akan memangkas permasalahan yang selama ini dihadapi dunia medis,” imbuhnya.

Mereka menegaskan teknologi ini sangat simpel. Tanpa label, non invasif dan non destruktif, di mana ada sebuah cara yang baru yang mampu menganalisa profil biokimia dari sampel darah, tanpa harus melakukan persiapan ekstensif sebelumnya.

“Dengan cara ini, kami berhasil menunjukan kita bisa menolong para dokter. Terutama dalam melakukan identifikasi tumor otak lebih cepat. Ini membantu mereka menentukan pasien mana yang terlebih dahulu diprioritaskan,” pungkasnya. (ruf/fin/rh)