Miryam S Haryani dan Novel Baswedan Bantah Soal BAP

JAKARTA – Terpidana kasus pemberi keterangan palsu Miryam S Haryani dan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan memberikan kesaksian pada sidang kasus korupsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP)

di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (9/10). Keduanya menjadi saksi dengan terdakwa Markus Nari.

Dalam keterangannya, Miryam, yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum pada KPK, membantah pernah membicarakan perihal pencabutan keterangannya dalam Berita Pemeriksaan Acara (BAP) kasus e-KTP bersama kuasa hukumnya Elza Syarif. BAP tersebut berisi pernyataan yang menyebut Markus Nari menerima aliran dana korupsi e-KTP sebesar USD400 ribu.

“Izin Pak, waktu persidangan saya juga, saya tuh enggak pernah membicarakan e-KTP ke Ibu Elza. Tidak pernah (bahas pencabutan keterangan di BAP),” ujar Miryam di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (9/10).

Mantan Anggota Komisi II itu mengatakan, kedatangannya ke kantor advokat itu lantaran diminta langsung oleh Elza. Permintaan kedatangannya itu, beber dia, lantara Elza hendak meminjam uang kepadanya.

“Dan itu saya sudah jelaskan di pengadilan,” sambung Miryam.

Dalam surat dakwaan, Markus Nari disebut memerintahkan seseorang bernama Anton Tofik untuk memproses pencabutan keterangan Miryam dalam BAP. Masih dalam dakwaan, Anton menyerahkan fotokopi BAP Miryam yang didapatnya dari Panitera Penggati PN Jakarta Pusat Suswanti kepada Elza Syarif di kantor sang advokat. Kala penyerahan itu, Miryam tengah berada di kantor Elza. Lantas, Anton membujuk Miryam untuk menghapus keterangannya dalam BAP.

Saat dikonfirmasi jaksa, Miryam membantah telah melakukan pembicaraan dengan Anton di kantor Elza Syarif. Ia menjelaskan, Anton datang ke kantor dan hanya berbincang sedikit dengan Elza kemudian pergi.

“Seingat saya, waktu ada sosok Anton itu datang, langsung menyapa Bu Elsa. Karena saya enggak kenal jadi diam. Terus duduk, beliau bincang-bincang sedkit, terus pergi dia. Enggak tahu, saya sibuk saja dengan HP saya,” tutur Miryam.

Miryam mengaku tidak mengetahui bahwa maksud kedatangan Anton ke kantor Elza saat itu guna menyerahkan salinan BAP dirinya. Ia juga membantah saat itu melakukan komunikasi dengan Anton.

Ia juga membantah pernah diminta secara langsung oleh Markus Nari untuk mencabut keterangan dalam BAP sebagaimana dalam surat dakwaan. Pun, soal jaminan terhadap keluarga Miryam yang ditawarkan Markus jika dirinya menerima konsekuensi hukum atas pencabutan keterangan tersebut.

“Tidak pernah. Iya, tidak pernah. Tidak pernah sama sekali,” tegas dia.

Selain Miryam Haryani, Jaksa Penuntut Umum pada KPK juga menghadirkan penyidik senior KPK Novel Baswedan sebagai saksi. Pada keterangan lanjutannya, Miryam mengatakan sempat ditekan oleh Novel saat pemeriksaan guna kepentingan penyidikan korupsi e-KTP.

Mulanya, hakim bertanya kepada Miryam mengapa memutuskan mencabut BAP. Ia lantas menjawab lantaran mengalami tekanan saat proses penyidikan. Tekanan yang dimaksud Miryam adalah berasal dari Novel Baswedan.

Keterangan Miryam itu lantas dibantah oleh Novel. Ia membantah telah menekan Miryam saat pemeriksaan di KPK. Ia mengakui, saat itu dirinya menjadi koordinator tim penyidikan kasus e-KTP dan tidak sedang bertugas memeriksa Miryam hingga proses pemeriksaan keempat.

“Pertama kali yang periksa bukan saya. Dalam e-KTP saya koordinator penyidikan. Yang meriksa seingat saya itu tim saya bernama Irwan Susanto, tapi seingat saya pemeriksaan yang keempat saya yang memeriksa ibu Miryam,” jelas Novel.

Keputusan memeriksa langsung Miryam, dijelaskan Novel, lantaran Miryam sendiri yang menyatakan ingin bertemu dengan dirinya. Novel pun mengatakan, saat itu Miryam memberikan keterangan detail dan kooperatif terkait perkara e-KTP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here