Kota Malang Jadi Barometer Bulutangkis Dunia

MALANG – Perhelatan Indonesia Masters 2019 sudah selesai digelar pada Minggu (6/10) kemarin. Kota Malang tepatnya di GOR Ken Arok, Malang, Jawa Timur menjadi tempat yang sukses menyelenggarakan kejuaraan yang menyediakan total hadiah USD 75.000 tersebut. Sebagai induk cabang olahraga blutangkis di Tanah Air, Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) memberikan apresiasi terhadap Kota Malang atas terselenggaraang kejuaraan BWF Worfd Tour Super 100 itu.

“Selama perjalanan Indonesia Masters 2019, sampai hari terakhir bisa dikatakan berjalan dengan baik, lancar dan sukses Mulai dari persiapan sampai pelaksanaannya sudah sesuai dengan yang kami programkan sebelumnya,” ungkap Ketua pelaksana Indonesia Masters 2019, Achmad Budiharto, kemarin (8/10).

“Meskipun di awal kami menghadapi beberapa kendala, tapi setelah bekerja sama dengan semua pihak baik pemerintah daerah maupun sponsor, semua kendala itu bisa diatasi,” sambung Budiharto.

Lebih lanjut, pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jendral (Sekjen) PP PBSI itu berharap Kota Malang bisa kembali menjadi tuan rumah turnamen-turnamen bulutangkis level internasional lainnya.

“Kita berharap dari PP PBSI ini bukan yang terakhir di Malang, melihat antusiasme penonton dan para pejabat di kota ini mereka sangat bagus sekali menyambut turnamen ini. Kami berharap di masa yang akan datang Malang bisa kembali menjadi tuan rumah,” tegasnya.

Dari segi prestasi, Budiharto mengakui jika pencapaian prestasi atlet Indonesia ada penurunan di tahun ini dengan hanya meraih gelar di sektor ganda putri, sedangkan pada tahun lalu di turnamen yang sama yang digelar di Bangka Belitung, Indonesia sukses membawa dua gelar juara yaitu dari sektor ganda campuran dan tunggal putra.

“Kalau dari segi hasil pencapaian atlet Indonesia kita lihat memang ada penurunan prestasi. Tahun lalu kita mendapat dua gelar dan tahun ini hanya satu gelar. Tetapi kita bisa memaklumi, karena tahun ini kualitas peserta pun meningkat. Ini tentu menjadi hal positif bagi pemain muda kita,” pungkas Budiharto.

Ya, pada tahun ini, Indonesia hanya meraih satu gelar dari sektor ganda putri yakni, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Ribka Sugiarto yang berhasil memberikan kejutan di ajang tersebut.

Pasangan peringkat 92 dunia tersebut sukses menduduki podium tertinggi atau merah gelar juara usai mengalahkan pasangan-pasangan unggulan sejak babak pertama berlangsung.

Apalagi, Fadia/Ribka berhasil meraih gelar juara usai mengalahkan seniornya, yang merupakan unggulan keempat, Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta dua set langsung dengan skor 23-21 dan 21-15 dalam waktu 37 menit.

Jelas, pasangan yang baru dipasangkan kurang lebih tiga bulan yang lalu itu sendiri tak menyangka mereka mampu meraih gelar juara. Fokus dan percaya diri di setiap pertandingannya diakui mereka jadi kunci keberhasilannya. “Kami nggak nyangka bisa juara untuk pertama kalinya di sini. Tadi kita mainnya nothing to lose saja, dan terus berdoa agar mendapatkan hasil terbaik,” tutur Ribka.

“Aku juga nggak nyangka bisa ngalahin senior di final. Kunci kemenangannya di sini karena kami sudah percaya diri, dan siap bertanding,” sahut Fadia. Sementara itu, empat gelar di sektor lainnya, kali ini diborong oleh para wakil Cina.

Keempatnya adalah, Sun Fei Xiang (tunggal putra), Wang Zhi Yi (tunggal putri), Zou Xuan Yi/Zhang Nan (ganda putra) dan Gou Xin Wan/Zhang Shu Xian (ganda campuran).

(gie/fin/tgr)