Jokowi Redam Diskriminasi CPO Uni Eropa

JAKARTA – Setelah meminta bantuan Malaysia, kini pemerintah Indonesia meminta bantuan Negara Belanda untuk menyelesaikan kasus diskriminasi Uni Eropa (UE) terhadap minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia.

Dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte di Istana Kepresidenan Bogor, Senin (7/10), Presiden Joko Widodo (Jokowi), berharap Pemerintah Kerajaan Belanda untuk menghadapi kebijakan UE terhadap kelapa sawit.

“Saya juga menghargai kerja sama yang baru saja ditandatangani oleh Indonesia dan Belanda di New York, tanggal 26 September 2019 yang lalu, mengenai pengembangan kapasitas petani sawit untuk menghasilkan kelapa sawit yang baik,” ujar Jokowi seperti dikutip dari laman Setkab, Selasa (8/9).

Selain itu, Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga meningkatkan kerja sama dengan Belanda di mana saat ini kondisi perekonomian global tengah melambat.

Kerja sama itu diantaranya di bidang perdagangan, di bidang infrastruktur maritim dan pengelolaan air. “Di bidang perdagangan kita sepakat untuk terus meningkatkan perdagangan yang terbuka dan fair,” kata Jokowi.

Menanggapi harapan Indonesia terhadap Belanda untuk menyelesaikan masalah diskriminasi minyak kelapa sawit, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah, meragukannya akan berhasil.

“Saya tidak yakin Belanda bisa membantu kita terkait kebijakan Uni Eropa atas kelapa sawit. Itu menyangkut kepentingan petani di Eropa, ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (8/10).

Sebelumnya, Malaysia yang merupakan negara eksportir CPO di dunia, sepakat untuk menyelesaikan isu negatif minyak kelapa sawit.

Sekadar informasi, meski ada diskriminasi oleh UE, ekspor Minyak sawit menunjukkan tren memuaskan. Data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), menyebutkan volume ekspor CPO dan turunannya hingga Juli 2019 mencapai 17,76 ton.

Sementara di periode yang sama 2018 (year on year/yoy) tercatat 16,97 juta ton atau mengalami kenaikan 4,7 persen. Kenaikan ekspor disumbang oleh Cina sebesar 46,7 persen (yoy), disusul negara-negara di Afrika sebesar 20,11 persen (yoy) dan beberapa negara Asia, khususnya Jepang dan Malaysia.

Sementara penurunan ekspor masih terjadi di India sebesar 19,86 persen (yoy), Amerika Serikat 14,3 persen (yoy), serta Pakistan dan Bangladesh.

(din/fin)