Kabut Asap Menyebar ke Thailand – Filipina

FOTO: ABDUL QODIR/AFP ASAP SELIMUTI KOTA: Warga mengenakan pelindung saat menggelar doa meminta hujan akibat kabut yang terus menyelimuti Kota Palembang dan sekitarnya kemarin (18/9). Sementara itu BNPB, TNI dan aparat terkait terus berupaya melakukan pemadaman pada titik api di sejumlah kawasan hutan di Riau.

FIN.CO.ID, BANGKOK – Kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia dan Malaysia dilaporkan juga menyelimuti Thailand bagian selatan. Penduduk setempat mengeluhkan kondisi udara yang tidak sehat dan harus menggunakan masker sepanjang hari.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (20/9), lembaga penelitian Pemantau Kabut Asap Selatan Thailand sudah menerbitkan peringatan bagi warga setempat. Mereka menyatakan penduduk di wilayah Songkhla, Satun, Yala dan Pattani supaya untuk sementara waktu tidak berkegiatan atau mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Mereka juga meminta, warga supaya selalu mengenakan masker jika terpaksa bepergian. Menurut mereka, tingkat polusi udara akibat kabut asap sudah mencapai tingkat berbahaya.

“Saya sudah penyakitan, jadi kondisi seperti ini sangat menyulitkan saya. Saya jadi merasa mudah lelah dan tidak enak badan. Keadaan itu semakin buruk dari hari kemarin,” kata seorang warga setempat, Yindee Suktumna.

Menurut pemerintah setempat, tingkat polusi udara akibat kabut asap semakin meningkat sejak 5 September lalu. Kondisinya semakin buruk dalam beberapa hari belakangan.

Menurut Direktur Biro Lingkungan Wilayah 16 di Songkhla, Thananchai Wannasuk, kandungan polutan di udara akibat kabut mencapai 100 mikrogram per meter kubik. Jumlah itu dua kali lipat dari batas yang ditetapkan Thailand.

“Kandungan partikel polutan di Songkhla berjumlah 104 mikrogram pada pukul 13.00 waktu setempat. Satu jam kemudian nilainya turun mencapai 100 mikrogram,” katanya.

“Sedangkan kandungan polutan di Yala mencapai 106 mikrogram pada pukul 13.00 waktu setempat. Sedangkan satu jam kemudian nilainya turun menjadi 98 mikrogram,” sambungnya.

Wannasuk menyatakan, kabut asap itu diperkirakan terbawa aliran angin. Jika angin masih berembus ke arah timur laut, dia menyatakan ada kemungkinan kabut asap akan semakin pekat dan kualitas udara di wilayah setempat bakal semakin memburuk.

Sementara itu, kabut asap dilaporkan juga sudah menyebar hingga Filipina. Wilayah yang terdampak paling parah adalah Cebu.

Seperti dilansir The Manila Times, Jumat (20/9) Biro Manajemen Lingkungan (EMB) di Central Visayas, memperingatkan warga untuk tidak bepergian jika Anda tidak mempunyai urusan mendesak.

“Selalu tutup jendela dan pintu rumah Anda. Jangan melakukan jogging di luar ruangan karena tubuh akan menyerap lebih banyak polutan jika aktif berkegiatan,” demikian isi peringatan EMB, Jumat (20/9).

Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam di Central Visayas juga meminta, penduduk di Cebu untuk terus mengenakan masker atau kaca mata, untuk melindungi diri dari paparan kabut asap yang berbahaya.

“Pada Selasa lalu, seorang lelaki dilaporkan dibawa ke rumah sakit karena batuk parah diduga akibat terpapar kabut asap. Kabut asap bisa memicu penyakit pernapasan dan jantung,” kata EMB.

Dari data yang dilansir EMB pada Rabu lalu, tercatat kandungan partikel polutan di udara mencapai 56 mikrogram per kubik meter. Nilai itu sudah melewati batas aman 50 mikrogram per kubik meter. (der/fin)

Malaysia yang juga merasakan terpaan kabut asap dari Indonesia mulai resah. Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengisyaratkan akan menggagas pembuatan undang-undang untuk menghukum perusahaan-perusahaan Malaysia yang bertanggung jawab atas kebakaran lahan di luar negeri.

Mahathir membuka kemungkinan ini setelah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Siti Nurbaya, menyebut bahwa setidaknya empat perusahaan Malaysia bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang menyebabkan kabut asap di kawasan.

(der/fin)