Indonesia Kembalikan 135 Ton Sampah ke Australia

FOTO: AFP

FIN.CO.ID, JAKARTA – Otoritas bea cukai Indonesia kembali menemukan seratus kontainer berisi sampah impor asal Australia.

Temuan ini merupakan hasil penindakan dan pemeriksaan pihak berwenang pertengahan Agustus lalu terhadap ratusan kontainer berisi limbah plastik yang diimpor oleh 3 perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat di wilayah Tangerang, Banten.

Dalam sidak yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Perak, Batam, Tanjung Priok dan Tangerang itu petugas mendapati 156 kontainer terkontaminasi sampah dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Sebanyak 100 kontainer diantaranya diimpor dari Australia, dengan rincian 13 kontainer ditemukan pada limbah yang diimpor oleh PT HI, 80 kontainer oleh PT NHI dan 10 kontainer diimpor oleh PT ART, tanpa dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi menagatakan, seluruh kontainer bermasalah itu akan dipulangkan ke negara asalnya secara bertahap, diawali dengan memulangkan 9 kontainer seberat 135 ton ke negara asalnya, Australia pada Kamis (19/9).

“Sembilan 9 kontainer itu diimpor oleh PT HI. Awalnya PT HI mengimpor 102 kontainer plastik lembaran dan plastik buatan. Kita lantas melakukan pengecekan pada 14,15, dan 29 Agustus. Hasilnya, 23 kontainer terkontaminasi sampah atau limbah B3, dengan 13 kontainer bermasalah itu berasal dari Australia,” terangnya, Jumat (20/9)

Selain dari Australia, ratusan kontainer limbah plastik impor yang terkontaminasi sampah rumah tangga dan B3 itu juga berasal dari Amerika Serikat (AS), Spanyol, Belgia, Inggris dan Selandia Baru.

“Ini bukan pertama kalinya Indonesia memulangkan sampah impor asal Australia. Pada awal Juli 2019 lalu, pejabat pabean Indonesia juga telah mengirim kembali delapan kontainer berisi limbah kertas ke Australia,” katanya.

Sementara itu, temuan terbaru ini menambah daftar panjang penindakan impor limbah tercampur sampah/limbah B3.

Hingga 17 September 2019, Bea dan Cukai mengklaim telah berhasil mencegah kurang lebih 2.041 kontainer di Pelabuhan Tanjung Perak, Batam, Pelabuhan Tanjung Priok, dan Tangerang.

“Namun dari jumlah itu, total yang sudah dipulangkan atau dire-ekspor ke negara asalnya baru 331 kontainer saja, sedangkan yang masih dalam proses pemulangan sebanyak 216 kontainer,” tuturnya.

Sementara itu, Manajer Kampanye Perkotaan dan Energi Walhi Dwi Sawung, menilai upaya pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap sampah impor patut diapresiasi.

Namun, penindakan yang dilakukan sejauh ini menurutnya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan arus limbah impor yang terus masuk ke Indonesia.

“Setiap hari itu sekitar 400 ton sampah plastik yang masuk ke Indonesia, setiap tahunnya tidak kurang dari 3 juta ton,” katanya.

Untuk itu, Walhi dan pegiat lingkungan lainnya mendesak pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh kebijakan dan regulasi importasi sampah dan reja, khususnya plastik dan kertas.

“Desakan kita seharusnya praktek impor sampah ini dihentikan sama sekali, idealnya akhir tahun ini sudah tidak ada lagi impor sampah seperti ini, karena kalau pengelolaan sampah di dalam negeri benar, kita gak perlu impor kok.” tegasnya.

Walhi juga mempertanyakan, ketegasan Indonesia untuk menegur negara-negara yang sudah kedapatan membuang sampah di Indonesia, termasuk Australia.

“Tidak seperti Malaysia dan Filipina yang para mentarinya melakukan teguran keras ke negara yang mengimpor sampah ke negara mereka, Indonesia belum,” pungkasnya.

(der/fin)