Shankly Dixie

Oleh Dahlan Iskan

Untung saya terusir dari hotel. Tidak bisa lagi tambah satu malam. Padahal acara saya masih belum selesai. Di Kota Liverpool ini.

Semula saya masgul. Kok harus pindah hotel lagi. Padahal hotel kedua ini sudah pas. Lokasinya enak banget. Di komplek Liverpool One. Satu kawasan pusat kota yang ditata sangat menyenangkan.

Hotel pertama saya juga enak. Di daerah marina Liverpool. Tapi harus jalan kaki 15 menit ke pusat kota. Saya pun pindah ke hotel yang kedua. Di down town. Dua malam lagi. Saya pikir cukup. Ternyata tidak.

Sebenarnya saya bisa tambah satu malam lagi. Tapi kamar yang ada hanya suite. Taripnya Rp 10 juta/malam.

Ya sudah, pindah hotel lagi. Cari yang di sekitar Liverpool One. Semua penuh.

Akhirnya saya dapat di pinggirannya. Nama hotelnya belum pernah saya dengar: The Shankly Hotel.

Begitu masuk lobi saya terperangah: kok seperti sport bar. Lobi itu penuh hiasan foto sepak bola: dindingnya, lantainya, langit-langitnya.

Ketika saya ke toilet, ups, penanda pria-wanitanya juga khas: pria atau wanita yang lagi nyepak bola.

Lantas saya ingat wajah yang fotonya bertebaran di situ. Lho itu kan fotonya Bill Shankly. Ia manajer legendaris Liverpool FC. Zaman dulu. Prestasi Jürgen Klopp sekarang ini masih di sumur dibanding Shankly yang di langit.

“Apakah hotel ini milik Bill Shankly?” tanya saya.

“Milik cucunya. Ia punya sebagian saham di sini,” jawab petugas Hotel Shankly.

Sang cucu mengajak beberapa investor. Untuk mengenang jasa sang kakek.

“Saya dilahirkan untuk Liverpool. Liverpool dilahirkan untuk saya,” bunyi tulisan besar di belakang reception itu. Itulah kutipan kalimat Bill Shankly.

Di lantai lobi itu ada lubang yang ditutup kaca terang. Besarnya sekotak sepatunya Saskia Gotik. Di dalamnya ada lampu yang terus menyala. Terlihatlah di lubang itu sebuah kunci besar berwarna emas. Dengan penjelasan: inilah kunci asli pintu gerbang stadion Anfield, Liverpool.

Di lobi samping terlihat kotak besar. Isinya bola tua –10 buah. Saya buka kotak itu. Saya ambil satu bola. Tebakan saya: bola ini pasti masih pakai sistem dipompa. Ternyata benar. Lihatlah foto bola yang saya pegang itu.

Bill Shankly sebenarnya lahir di Skotlandia. Ia menangani Liverpool ketika tim itu lagi terdegradasi ke divisi dua.

Baru tahun kedua di tangannya Liverpool bisa naik lagi ke divisi satu.

Tahun pertama divisi satu di tangan Shankly, Liverpool hanya di papan tengah. Tahun kedua urutan lima. Baru tahun ketiga bisa juara. Lalu juara lagi. Dan juara lagi. Tiga tahun berturut-turut. Lalu juara FA pula.

Hotel ini penuh dengan benda peninggalan Bill Shankly. Termasuk sepatunya, bajunya, kausnya, surat-suratnya dan apa saja.

Di kamar saya pun penuh nuansa Bill Shankly. Di langit-langit kamar saya tertulis kesaksian seorang pemain.

Waktu itu Liverpool away ke Amsterdam. Menghadapi Ajax. Stadion Ajax lagi berkabut tebal. Shankly sering masuk lapangan –bicara ke pemain. Tidak terlihat oleh wasit.

Liverpool kalah 5-1.

Itulah zaman mudanya Johan Cruiff. Jaya-jayanya Ajax.

“Kita belum kalah,” kata Shankly pada pemain. Shankly selalu pintar membuat pemain bersemangat. “Di kandang nanti kita akan bisa menang 7-0. Saya pun percaya ucapannya,” kata pemain itu.

Ternyata di kandang Anfield pun Liverpool kalah 3-7

Kisah itu tertulis di langit-langit kamar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here