Gereja Bar

Namanya Billy Ripley.

Umur 13 tahun.

Hari itu ia dapat hadiah ulang tahun yang menggetarkannya. Juga menggetarkannya seisi stadion Anfield, Liverpool.

Saya menyaksikan adegan itu. Sabtu lalu. Tempat duduk Billy di depan-kanan-bawah tempat duduk saya.

Saya pun terbengong. Sampai tidak mengabadikannya.

Begitu wasit meniupkan peluit tanda pertandingan selesai, Sadio Mane mencopot kaus Liverpoolnya yang nomor 10 itu.

Ia pun lari ke arah tribun saya. Rupanya ia melihat sesapuan. Ada anak mengacungkan poster. Bunyinya: hari ini saya berulang tahun, adakah pemain yang mau memberikan hadiah untuk saya?

Kurang lebihnya begitu.

Mane pun ke arah anak itu. Memberikan kausnya. Lalu merangkul anak itu.

“Ini hadiah ulang tahun terindah bagi saya,” kata Billy ke media di Liverpool. “Saya sampai bergetar dan bingung,” tambahnya. “Mane adalah pujaan saya,” kata Billy lagi.

Hari itu Billy nonton bersama bapaknya. Jatah Billy hanya tiga kali setahun nonton langsung di stadion.

Hari itu Mane cetak gol dua kali. Moh Salah satu. Liverpool menang 3-1 lawan Newcastle.

Tapi Liverpool kalah dari Chelsea. Soal lokasi stadionnya.

Untung hari itu saya tidak naik subway.

Letak stadion Chelsea benar-benar strategis: di mulut stasiun kereta bawah tanah. Mulutnya buaya. (Adakah yang lebih panjang dari mulut buaya?).

Letak stadion Liverpool FC begitu jauh dari stasiun. Mungkin 2000 buaya disambung-sambung pun masih kurang panjang. Dari stasiun itu masih perlu jalan kaki 40 menit.

Tapi banyak juga yang pilih naik kereta bawah tanah. Saya membayangkan begitu pulalah suporter Bonek. Yang banyak juga harus jalan kaki. Jauh sekali. Sejak dari pertigaan Jalan Veteran di Kabupaten Gresik. Ke stadion Gelora Bung Tomo di wilayah Surabaya Barat. Yang di tengah tambak garam itu.

Untung, saya tadi naik bus. Turunnya tepat di mulut buaya –bahkan di gigi taringnya.

Sepagi itu, pukul 9.30, sudah banyak yang tiba di stadion Liverpool. Pertandingan baru mulai jam 12.30.

Pedagang kaki lima juga sudah menggelar dagangan mereka –jersey Liverpool yang tidak asli. Mereka berdagang di seberang jalan depan stadion.

Di halaman stadion saya bertanya ke lebih 20 orang yang sudah datang sepagi itu – -semua mengaku baru sekali itu ke stadion Liverpool. Ada yang dari Hongkong. Dari Jepang. Shanghai. Islandia. Rumania. Ghana. Mesir. Amerika. Mereka menggunakan jersey lengkap: kaus, jaket, dan sal.

Selama masa penantian 3 jam itu mereka foto-foto. Begitu banyak obyek yang bisa jadi latar belakang foto. Apalagi ada kejutan. Ada yang begitu miripnya dengan Jürgen Klopp –pelatih Liverpool. Atau mirip Mohamed Salah.

Tampilannya pun dimirip-miripkan Klopp atau Salah: rambutnya, kaca matanya, gayanya. Mereka pun jadi obyek selfie.

Tapi saya tadi belum sempat sarapan.

Banyak sekali bar di sepanjang jalan depan stadion. Apalagi kalau mau belok kiri. Saya menelusuri jalan itu. Melewati pedagang-pedagang kaki lima lainnya.

Saya harus cari sarapan yang cocok dengan selera.

Saya pun tertarik pada bangunan yang di kiri jalan itu. Yang sangat mirip gereja itu. Banyak orang masuk ke situ. Saya kira mereka lagi mau kebaktian pagi.

Tapi ini kan hari Sabtu. Di Inggris tidak banyak pengikut Advent –yang kebaktiannya di hari Sabtu.

Dan lagi semuanya mamakai jersey suporter bola. Mana ada kebaktian pakai jersey sepak bola.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here