69 Ribu Lebih Orang Buta Aksara di Sulbar

FIN.CO.ID, MAMUJU – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI merilis angka buta aksara 1,39 atau sebanyak 3,3 juta dari 260 juta jiwa. Sulbar sendiri masih berada di angka 4,64 persen atau sekitar 69.600 dari total 1,5 juta penduduknya.

Sulbar berada di posisi ke empat terbawah dibanding Papua 22,88 persen, Nusa Tenggara Barat 7,51 persen dan, Nusa Tenggara Timur 5,24 persen. Kemendikbud mengkategorikan buta aksara di atas empat persen tergolong tinggi. Termasuk Sulawesi Selatan angka buta aksara mencapai 4,63 persen dan Kalimantan Barat 4,21 persen. Semua didominasi oleh provinsi di Kawasan Indonesia Timur (KTI).

Kepala Dinas Pendidikan Sulbar, Arifuddin Toppo mengatakan keaksaraan sejak dikeluarkan dari indeks pembangunan manusia (IPM) cenderung tidak mendapat perhatian dari segi penganggaran. Sehingga sejak dua tahun lalu juga tidak ada intervensi langsung dari Disdik.

“Untuk dua tahun terakhir ini tidak ada anggaran untuk program provinsi fokus ke pengentasan buta aksara. Dari IPM sudah dikasi keluar keaksaraan sejak dua tahun lalu. Dulunya sempat diintervensi tetapi ada kecenderungan buta aksara kembali,” katanya, Selasa, 10 September.

Untuk pengentasannya sendiri dari Kemendikbud memang harus dilakukan dengan lintas sektor membangun kesadaran di masyarakat. Misalnya, Dinas Pertanian mengeluarkan brosur cara bertani yang baik, di sektor industri atau pertukangan membuat brosur juga cara-cara pertukangan. “Supaya berkesinambungan pemahaman tentang pentingnya aksara itu,” jelasnya.

Kendala lainnya, kata Arifuddin adalah APBD di Sulbar yang minim sehingga tidak ada alokasi untuk keaksaraan. “Untuk 2019 memang tidak ada karena dana kita terbatas sekali,” jelasnya.

Sedangkan program yang dicanangkan pusat, kata dia, pemerintah provinsi tidak terlibat penuh melainkan hanya diperbantukan. Seperti program nasional keaksaraan usaha mandiri (KUM) dan pendidikan multikeaksaraan.

Ketua Komisi IV DPRD Sulbar, Arman Salimin mengatakan angka buta aksara yang masih tinggi di Sulbar salahsatunya disebabkan akses ke dunia pendidikan karena berada di daerah terpencil dan terisolasi. Misalnya daerah penduduk di daerah pegunungan dan kepulauan. “Perlu perhatian serius pemerintah untuk menyentuh mereka yang terisolasi. Misalnya membuat program sosialisasi yang berkaitan meningkatkan minat baca,” katanya.

(*)