Mengenal Lipodistrofi Kulit Keriput Sejak Balita

FIN.CO.ID, MAKASSAR – Baru-baru ini viral anak dengan kulit keriput seperti lansia. Rupanya, kejadian ini tidak langka melainkan umum terjadi pada anak yang ibunya mengonsumsi obat HIV.

Seorang gadis Kamboja bernama Bo Rakching menjadi perhatian warganet. Kondisinya tidak biasa, di usianya 11 tahun, ia tampak seperti nenek 60 tahun. Diduga, ia terkena penyakit yang dalam dunia medis disebut lipodistrofi.

Spesialis Kulit dan Kelamin, Rumah Sakit Hikmah, dr Alwi Andi Mappiasse menuturkan, lipodistrofi merupakan suatu penyakit di mana terjadi penyusutan kulit sehingga kulit terlihat keriput. Pada anak-anak hal ini kebanyakan disebabkan oleh konsumsi obat HIV oleh sang ibu. Umumnya, ibu yang mengonsumsi obat tersebut juga akan mengalami hal yang sama, lipodistrofi.

Pada kasus ini, penderitanya akan mengalami keriput di bagian tubuh tertentu, seperti wajah, lengan, paha. Namun di beberapa bagian saja. Pada kejadian ini, kulit dapat dikembalikan normal dengan menyuntikkan jaringan lemak yang ada di dalam tubuhnya ke kulit yang kendor sehingga berefek permanen. “Harus dihentikan konsumsi obatnya dalam jangka panjang jika ingin mengembalikannya permanen. Penyutikan lemak harus menggunakan lemaknya sendiri, karena menggunakan lemak yang lain akan membuat tubuh menolak,” terangnya.

Penyakit lain yang juga bisa menyebabkan anak terlihat keriput yakni cutis laxa. Penyakit langka satu ini menyebabkan jaringan kulit menjadi mengendor karena tidak adanya jaringan lemak. Namun, berbeda dengan lipodistrofi, penyakit ini justru menyebabkan keriput di seluruh bagian tubuh. Bahkan mengganggu jaringan saraf dan sendi pada anak.

Terkadang anak mengalami kejang. Sistem sendi pun akan lebih longgar, sehingga sendinya terlihat lunak saat digerakkan layaknya orang yang telah berumur. “Bisa terjadi gangguan pendengaran, bahkan menginvasi ke organ lain seperti jantung, paru-paru, usus, dan pembuluh darah, sehingga harus dilakukan pemeriksaan ketika anak mengalami penyakit ini,” ungkapnya.

Penyebabnya belum diketahui pasti, tetapi beberapa penelitian membuktikan pembawaan genetik. Namun adapula anak yang memiliki gen bawaan, namun mengalaminya dalam usia yang remaja karena dipicu konsumsi obat-obatan yang menyebabkan pembengkakan kulit. Mengonsumsi obat kanker pun dapat menimbulkan munculnya cutis laxa.

Pada kasus ini, jaringan kulit yang longgar tersebut tidak akan sembuh meski dilakukan operasi penyuntikan jaringan lemak atau penanganan lainnya. Pengobatan hanya berefek dalam jangka pendek dan kulit akan kembali seperti semula, karena penyakit ini bekerja secara progresif seiring pertambahan usia anak. “Untuk mendeteksi anak mengalami cutis laxa atau tidak harus memang dilakukan pemeriksaan kromosom. Paling banyak kasus ini mengenai perempuan,” ujarnya.

Sementara itu, Spesialis Anak, Rumah Sakit Siloam, Dr dr Bob Wahyudin SpA(K) mengatakan, penyusutan kulit bisa disebabkan penyakit cutis laxa adalah yang mengakibatkan orang kehilangan jaringan lemak pada bagian-bagian tubuh.

Tidak tampak lemak di tubuhnya sehingga anak tersebut akan terlihat layaknya orang yang telah berumur. Lemak itu menumpuk pada organ-organ lain seperti hati, atau otot.

Penimbunan lemak yang berlebihan di dalam hati yang lama kelamaan bisa merusak organ. Jika mengalami kerusakan organ, maka pengobatan juga akan berfokus pada pemulihan organ anak.

(*)