Maskapai AirAsia Raup Untung Rp11 M

FIN.CO.ID, JAKARTA – Di tengah sekaratnya industri penerbangan namun tidak membuat maskapai AirAsia Indonesia merugi. Sebaliknya maskapai penerbangan berbiaya murah (low cost carrier/LCC) itu meraup laba bersih sebesar Rp11 miliar jika dibandingkan dengan rugi bersih sebesar Rp203 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Perseroan juga membukukan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp80 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu rugi sebesar Rp 194 miliar. Peningkatan ini didukung oleh kenaikan permintaan, meningkatnya efisiensi biaya dan kenaikan harga rata-rata tiket pada musim libur sekolah dan Lebaran.

Pendapatan Perseroan pada kuartal II 2019 naik 67 persen menjadi Rp1,66 triliun dari Rp993 miliar pada periode yang sama tahun 2018. Pendapatan dari hasil penjualan tiket pesawat meningkat 80 persen menjadi Rp1,39 triliun. Pencapaian ini didorong oleh peningkatan jumlah penumpang sebesar 58 persen menjadi 1,82 juta dan peningkatan harga rata-rata tiket sebesar 14 persen.

Dengan demikian, peningkatan ini berkontribusi terhadap pertumbuhan revenue per available seat kilometre (RASK) sebesar 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal ini Perseroan juga meluncurkan pusat operasi (hub) ke-5 di Lombok dan melayani rute baru Lombok-Perth dan Lombok-Kuala Lumpur.

“Hasil kuartal kedua ini sangat menggembirakan, dan momentum positif ini akan terus kami jaga untuk memastikan tahun ini akan menjadi tahun yang menguntungkan. Kami berkomitmen untuk menambah rute domestik dan internasional baru yang potensial,” ujar Direktur Utama PT AirAsiaIndonesia Tbk, Dendy Kurniawan dalam keterangannya, kemarin (1/9).

Lebih jauh dia mengatakan, dari sisi kapasitas, terjadi peningkatan jumlah available seat per kilometre (ASK) sebesar 58 persen menjadi 3,071 juta yang disebabkan oleh bertambahnya armada menjadi 25 pesawat dari tahun sebelumnya 15 pesawat.

Adapun tingkat keterisian penumpang/load factor (LF) pada kuartal ini juga meningkat 1 poin menjadi 82 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Biaya keseluruhan dilihat dari unit biaya cost per available seat kilometre (CASK) dan CASK di luar bahan bakar turun masing-masing sebesar 17 persen dan 25 persen.

Penurunan biaya ini disebabkan oleh turunnya harga bahan bakar dan biaya pemasaran, sejalan dengan inisiatif grup usaha Perseroan untuk beralih dari metode pemasaran konvensional ke digital.

“Pada kuartal ini Perseroan mencatat laba operasi sebesar Rp42 miliar, berbanding terbalik dengan kerugian sebesar Rp241 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu,” kata dia,

Terpisah, Pengamat Penerbangan, Gerry Soejatman mengatakan, keuntungan yang diperoleh Maskapai AirAsia adalah sesuatu yang wajar dan memang seharusnya demikian. “Seharusnya mereka bisa untung lebih banyak, dan seharusnya penumpang jauh lebih banyak dari nilai sekarang,” ujar Gerry kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (1/9).

Menurut Gerry, Maskapai AirAsia mencatatkan keuntungan bukan berati tarif batas atas (TBA) bisa diturunkan. Sebab maskapai bisa untung kaena menjual dekat TBA.

“Nah Kkalau mau tiket murah kembali, TBA harus dinaikkan agar maskapai bisa memberikan tiket murah yang disubsidi silang oleh tiket mahal. Dengan nilai TBA yang sekarang, maskapai tidak bisa memberikan tiket murah banyak-banyak karena kemampuan subsidi silangnya sangat terbatas,” pungkas dia.

Sebelumnya CEO Grup Airasia Tony Fernandes menilai pemerintah Indonesia tidak perlu mengatur harga tiket pesawat. Pasalnya, kompetisi yang sehat akan membuat maskapai dengan sendirinya memutar ota agar bisa menawarkan tarif terbaik bagi konsumen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here