Mendikbud Beri Alasan Kualitas Pendidikan Belum Baik

FIN.CO.ID, JAKARTA – Selama 10 tahun terakhir alokasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan tiap tahun jumlahnya meningkat terus. Tercatat anggaran pendidikan mengalami peningkatan mencapai 221% dari tahun 2009 sebesar Rp 153 triliun menjadi Rp 492,5 triliun di tahun 2019.

Sayangnya, jumlah anggaran yang demikian besar tak menunjukan hasil yang signifikan. Kualitas pendidikan Indonesia berdasarkan PISA (Programme for International Student Assesment) Test, masih dibawah Vietnam.

Terkait hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, banyak penyebab yang membuat besarnya anggaran pendidikan belum memberikan hasil yang maksimal, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Banyak itu (penyebabnya), makanya ini sedang kita bicarakan dengan Menteri Keuangan,” kata Muhadjir di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (14/8).

Namun, sayangnya Muhadjir tak menyebutkan salah satu penyebabnya. Meski demikian, Muhadjir mengaku sudah menyiapkan strategi agar anggaran pendidikan lebih efektif di tahun berikutnya.

Dikatakannya, strategi pemanfaatan anggaran pendidikan sudah dirancangnya bersama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

“Iya, sudah dua kali kita bertemu dengan Kementerian Keuangan, dipimpin langsung oleh Menteri Keuangan dan saya mendampingi untuk merapikan struktur anggaran pendidikan, agar betul-betul tepat sasaran dan tidak salah guna,” jelasnya.

“Artinya tidak salah pemanfaatannya. Mudah-mudahan tahun depan sudah dirapikan,” sambungnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengkritik kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menkeu mengatakan anggaran pendidikan belum memberikan hasil signifikan, meskipun anggaran yang digelontorkan demikian besar.

“10 tahun mengadopsi 20%, namun hasilnya tidak seperti di Vietnam, dari berbagai macam tes yang kita dapatkan tidak memuaskan seperti yang kita harapkan, anggaran tetap dialokasikan,” kata Sri Mulyani.

Kualitas pendidikan Indonesia berdasarkan PISA, kalah dengan negara tetangga seperti Vietnam. Padahal, posisi alokasi anggarannya sama-sama 20% dari total APBN.

Pada tahun 2019 jumlah anggaran untuk pendidikan mencapai Rp 492 triliun, anggaran bidang kesehatan Rp 123 triliun, dan juga berbagai kebijakan yang menyangkut SDM, apakah menyangkut dana desa dan dari kementerian lembaga lain.

Demi meningkatkan kualitas pendidikan, Sri Mulyani mengaku pemerintah terus membahas mengenai singkroninasi sistem pendidikan nasional.

Salah satu sinkronisasi yang dilakukan, lanjut Sri adalah menyamaratakan kualitas pendidikan, kualitas guru, kualitas anggaran.

“Ini isu kebijakan sektor pendidikan yang perlu dibahas terus menerus,” jelas dia.

“Karena menghadapi berbagai tantangan fundamental dengan sumber daya manusia (SDM),” katanya.

(gw/fin)