Setelah Panas Diterpa Hujan, Jemaah Alami Dehidrasi Hingga Heatstroke

FOTO SISKOHAT FOR FIN JEMAAH KELELAHAN: Setelah sebelumnya diterpa cuaca panas yang begitu terik, akhirnya hujan deras mengguyur Mina, Makkah. Sementara petugas siaga di pos masing-masing terus mamantau keberadaan jemaah, kemarin (13/8).

FIN.CO.ID, MAKKAH – Hujan deras mengguyur kawasan Mina, Makkah, kemarin (13/8) pukul 15.30 waktu setempat. Kepala Satuan Operasional (Kasatops) Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna) memastikan kondisi di tenda jemaah haji Indonesia saat ini aman terkendali. Sementara dari hasil laporan yang diterima satu jemaah wafat di dalam terowongan Muasim di Mina.

“Petugas siaga di pos masing-masing untuk memastikan kondisi aman dan layanan kepada jemaah berjalan sebagaimana biasanya,” tegas Jaetul Muchlis dalam rilis yang diterima Fajar Indonesia Network (FIN).

Saat ini, lanjut dia hujan berangsur-angsur reda. Pergerakan jemaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia, dari tenda Mina ke tempat lontar jumrah (Jamarat) atau sebaliknya juga berjalan. Ribuan jemaah memanfaatkan payung untuk melindungi diri saat hujan. “Dampak hujan berupa sampah di jalanan karena kantong-kantong sampah hanyut dan sekarang dalam tahap pembersihan,” tuturnya.

Untuk layanan katering di dapur tetap berjalan. “Petugas haji terus memantau agar distribusi makan malam untuk jemaah berjalan normal,” sambungnya. Muchlis memastikan, petugas haji Indonesia siaga di pos masing-masing untuk membantu jemaah. “Sementara ini, jemaah haji Indonesia yang masih di Mina, diminta untuk menahan diri tidak ke jamarat. Selain cukup padat oleh jemaah dari negara lain, kondisi jalan juga masih basah dan licin,” terangnya.

Direktur KKHI Madinah, Amsyar Akil menambahkan, sebelumnya diguyur hujan, cuaca panas begitu terik. Sementara kondisi perjalanan yang cukup jauh dari tenda menuju lokasi pelemparan jumrah di Mina membuat banyak jemaah haji Indonesia kelelahan. Berimbas pada penurunan kondisi kesehatan hingga banyak jemaah yang ambruk, di hari pertama fase Mina.

Dehidrasi hingga heatstroke jadi penyebab terbanyak jemaah asal Indonesia harus dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Mina. Bahkan tercatat enam orang meninggal dunia hingga Minggu (11/8), pada fase Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). “Dari pintu sini (KKHI) ke Jamarat mencapai sekitar 2kilometer. Total bolak-balik sekitar 5kilometer. Jarak terjauh adalah Mina Jadid, bisa 10 kilometer bolak-balik,” ungkapnya.

Pada pukul 23.00 waktu Arab Saudi (WAS), KKHI di Mina terlihat banyak pasien dirawat. Beberapa terbaring lemah dan masih dalam perawatan. Tim kesehatan yang terdiri dari perawat dan dokter tampak terus menangani pasien. “Sampai malam ini ada 182 jemaah dirawat di posko, 21 dirujuk ke rumah sakit,” ujar Juru Bicara Pos Kesehatan Mina, Nila Gading.

Untuk Jemaah haji sakit dirujuk ke Rumah Sakit Mina Al Wadi. Sementara yang masih dalam perawatan KKHI yang berlokasi di Maktab 50 sebanyak enam orang. Untuk sisanya diperbolehkan pulang ke maktab karena dinilai membaik. “Keluhan paling sering dehidrasi hingga heatstroke,” dia menambahkan.

Tercatat untuk jemaah yang wafat, menurut data sekretariat operasional Armuzna, enam jemaah meninggal dunia dalam dua hari terakhir hingga kemarin (13/8) 116 orang. Sebagian besar yang meninggal dunia adalah jemaah usia tua antara 60-90 tahun.

Jemaah tersebut menderita serangan jantung, stroke, atau gangguan pernapasan. Hal ini terjadi karena mereka kelelahan berjalan dari tenda menuju lokasi lontar jumrah. “Seorang haji dilaporkan meninggal dunia di dalam Terowongan Muasim di Mina. Berdasarkan sertifikat kematian, penyebab kematian jemaah berusia 72 tahun asal Bandung itu adalah syok kardiogenik atau terganggunya kinerja jantung sehingga pasokan darah tidak mencukupi,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin sempat meninjau langsung kondisi Mina, sempat mendapati jemaah haji asal Madiun, yang ambruk di tengah jalan dan sedang dalam perawatan petugas kesehatan. Dia pun langsung mendekati dan menanyakan kondisi jemaah perempuan tersebut dan mendoakan segera pulih.

Sebelumnya, ia juga telah bertemu Gubernur Makkah Khalid al Faisal bin Abdulaziz. Pertemuan berlangsung kurang lebih lima belas menit di Jamarat-Makkah, Mina. “Saya meminta penambahan daya tampung tenda-tenda dan toilet di Mina bagi jemaah Indonesia dengan cara meningkatkan bangunan tenda dan toilet,” terangnya.

Pertemuan ini merupakan kali pertama antara Gubernur Makkah dengan Menteri Agama Indonesia. Gubernur Makkah adalah penasihat raja dan Rais Lajnatul ‘Ulya dalam penyelenggaraan ibadah haji. Kepada Gubernur Makkah, Menag juga mengusulkan agar layanan fast track diperluas. Tahun ini, layanan tersebut hanya diberlakukan bagi embarkasi Jakarta. “Saya melihat fast track amat berhasil. Saya berharap ini bisa diberlakukan ke semua embarkasi, tahun depan,” tuturnya.

Menag tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Mekkah atas peningkatan kualitas layanan kepada jemaah haji Indonesia. Gubernur Makkah merespon positif usulan Menag. Menurutnya, layanan sudah mulai dikembangkan, dari sebelumnya hanya Indonesia dan Malaysia, tahun ini diberlakukan juga Pakistan, Bangladesh, dan India. Terkait pemberlakuan di seluruh embarkasi di Indonesia, masih dikaji karena menyangkut ketersediaan SDM.

Berkenaan renovasi Mina, Gubernur Makkah mengatakan bahwa saat ini sudah dibentuk Lembaga atau Dewan Khusus proyek Mina dan Arafah. Dewan ini diketuai langsung oleh Putra Mahkota, Pangeran Muhammad bin Salman.

Sehari sebelumnya, Menag bertemu dengan Menteri Haji dan Umrah Muhammad bin Salih Banten. Dalam pertemuan tersebut, Menag juga menekankan semakin mendesaknya kebutuhan memperbanyak daya tampung kapasitas tenda-tenda dan toilet di Mina. Menag berharap tenda dan toilet di Mina dapat dibangun bertingkat.

Menteri Haji dan Umrah berjanji akan memperhatikan usulan Indonesia. Menurut Mohammad bin Salih Banten, Pemerintah Arab Saudi benar-benar menaruh perhatian serius kepada Indonesia karena jumlah jemaahnya terbesar di dunia.

(ful/fin)