Gempa Bali di Zona Megathrust

FIN.CO.ID, JAKARTA – Gempa mengguncang Bali beberapa kali dalam sehari. Salah satu gempa terjadi di zona megathrust. Masyarakat pun diminta untuk waspada.

Pada Rabu (24/7), gempa bumi mengguncang Bali sebanyak tiga kali. Gempa pertama terjadi pukul 09.29 Wita dengan magnitudo 4,6. Pusat gempa terletak pada koordinat 8,98 LS dan 114,17 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 84 kilometer barat daya Jembrana pada kedalaman 71 kilometer.

Gempa kedua pukul 18.53 Wita, dengan magnitudo 4,1. Episenter gempa terletak pada 8,86 LS dan 114,50 BT, atau berlokasi di laut pada jarak 57 kilometer barat daya Jembrana pada kedalaman 66 kilometer. Gempa ketiga pukul 20.17 Wita dengan kekuatan 5,3 Magnitudo. Episenter terletak di 10.57 LS, 115.00 BT berada di Samudra Hindia pada jarak 198 km arah baratdaya Nusa Dua dengan kedalaman 10 km.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa ketiga merupakan jenis gempa tektonik dangkal di zona megatrust relatif dekat dengan front subduction. Dengan memperhatikan mekanisme sumber yang berupa pergerakan naik (thrusting) maka hiposenter gempa ini terletak pada bidang kontak antar Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

“Gempa semacam ini populer disebut sebagai interplate earthquake,” ujar Kepala bidang informasi gempa bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono melalui siaran persnya, Kamis (25/7).

Pusat gempa ini meskipun lokasi sangat jauh dari Bali dan Lombok, tetapi beberapa warga di Lombok merasakan guncangan gempa ini dalam skala intensitas II MMI.

Ditinjau dari kedalaman hiposenternya maka baik gempa pertama dan kedua adalah gempa dengan kedalaman menengah di zona Benioff. Sedangkan jika dilihat dari karakterikstik kedalaman dan mekanisme sumbernya, gempa pertama dan kedua berkaitan dengan gempa pada 16 Juli 2019 dengan kekuatan magnitudo 6,0 pada kedalaman 75.6 km. Sedangan gempa yang ketiga merupakan gempa baru di zona megathrust.

Untuk itu BMKG meminta agar masyarakat waspada. Namun, diingatkan juga agar gempa yang terjadi di zona megathrust ini tak membuat masyarakat rresah.

“Dengan terjadinya peristiwa 3 gempa bumi di selatan Bali dalam sehari ini marilah kita bersama meningkatkan kewaspadaan, tetapi kita tidak perlu resah dan khawatir. Tingkah laku gempa masih sulit dikenali polanya, selain itu aktivitas gempa bumi belum dapat diprediksi kapan, dimana, dan berapa kekuatannya,” kata Daryono.

Apakah rentetan gempa di selatan Bali ini merupakan tipe gempa pembuka?

“Jawabnya adalah sangat sulit untuk menentukan sebuah gempa disebut sebagai gempa pembuka atau bukan,” katanya.

(gw/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here