Rupiah Melemah Efek Gesekan Timur Tengah

FIN.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar (kurs) rupiah kemarin (23/7) melemah 42 poin atau 0,3 persen menjadi Rp13.985 per dolar AS dari sebelumnya Rp13.943 per dolar AS.

Faktor utama, dipicu kenaikan harga minyak dunia. Termasuk dipicu aksi ambil untung. Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah terjadi seiring konflik yang terjadi di Timur Tengah. “Dampaknya demikian. Dinamika di Timur Tengah membuat pelaku pasar memilih aset aman seperti dolar AS,” ujar Ibrahim.

Tidak bisa dipungkiri, gesekan antara Iran dengan AS dan sekutunya semakin terlihat. Teheran kini mengawasi pergerakan setiap kapal AS yang berada atau keluar-masuk Kawasan Teluk. Bahkan Iran menyebutnya sebagai kapal musuh.

“Jika tensi terus tinggi seperti ini, bukan tidak mungkin ada pihak yang khilaf. Risiko konflik bersenjata alias perang tidak bisa dihapus begitu saja. Ini tentu membuat pelaku pasar was-was dan ogah mengambil risiko,” kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, pelaku pasar memanfaatkan situasi saat ini untuk mengambil keuntungan dengan cara keluar posisi (profit taking). “Nah untuk saat ini pelaku pasar menunggu informasi tentang The Fed di akhir bulan ini,” ujarnya.

Rupiah sendiri pada pagi hari sudah melemah Rp13.957 dolar AS. Rupiah bergerak di kisaran Rp13.955 per dolar AS hingga Rp13.986 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp13.973 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp13.963 per dolar AS.

Grafiknya pun dinamis. Dan pada pukul 9,27 WIB, rupiah melemah 30 poin atau 0,21 persen menjadi Rp13.973 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp13.943 per dolar AS.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, harga minyak dunia naik karena gangguan suplai. “Harga minyak dunia naik dalam beberapa hari ini karena kekhawatiran terhadap suplai yang terganggu seiring dengan tensi geopolitik yang menguat di Selat Hormuz,” ujar Lana.

Pada Jumat (19/7) lalu, Iran menangkap kapal tanker Inggris. Sementara dari Libya dikabarkan telah menutup salah satu ladang minyak terbesar di Libya yang menyebabkan turunnya produksi sebesar 290.000 barel per hari.

Kendati demikian, Baltic Dry Index yaitu indeks yang mengindikasikan perdagangan dunia, mencatatkan kenaikan sebesar satu persen pada Senin kemarin menjadi 2.191, tertinggi sejak Desember 2013. Indeks ini sebagai tolak ukur dari pergerakan bahan mentah utama melalui laut.

“Indeks ini bisa menjadi indikator membaiknya perdagangan dunia yang implisit juga indikasi permintaan dunia,” kata Lana. Dan iamemperkirakan hari ini rupiah akan bergerak melemah di kisaran Rp13.950 per dolar AS sampai Rp13.970 per dolar AS.

(ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here