Satu CJH Wafat Akibat Serangan Jantung

    FOTO: KEMENAG FOR FIN LELAH YANG TERBAYARKAN: Rona bahagia terpancar dari wajah para jemaah saat memasuki pelataran hotel Oaks di Mahbas Jin, kemarin. Lelah akibat lama perjalanan yang ditempuh mulai dari Madinah,miqat di Bir Ali, hingga Makkah ini seolah menguap setibanya mereka di Makkah.

    FIN.CO.ID, MAKKAH – Alhamdulillah. Sebanyak 449 jemaah haji Indonesia yang tergabung dalam kelompok terbang pertama asal Embarkasi Surabaya (SUB-01), tiba di Kota Makkah, kemarin (15/07). Diangkut dengan sepuluh bus, jemaah asal Magetan, Jawa Timur ini menjadi rombongan jemaah pertama yang memasuki Kota kelahiran nabi ini.

    Rona bahagia tak bisa disembunyikan dari wajah para jemaah saat memasuki pelataran hotel Oaks di Mahbas Jin. Lelah akibat lama perjalanan yang ditempuh mulai dari Madinah,miqat di Bir Ali, hingga Makkah ini seolah menguap setibanya mereka di Makkah.

    “Alhamdulillah malam ini kita menyambut kloter pertama yang bergerak dari Madinah ke Mekkah, kloter SUB 1 dan semuanya berjalan secara lancar sukses,” ujar Konsul Jenderal RI Hery Saripudin yang hadir menyambut kedatangan para jemaah ini.

    Hadir pula Ketua PPIH Endang Jumali, Kepala Daerah Kerja Makkah Subhan Cholid, Ketua Muasasah Asia Tenggara Indra Giri, dan Ketua Sektor 6 Makkah Ali Fikri bersama jajaran PPIH Daker Makkah.

    Penyambutan jemaah, berlangsung meriah. Gema shalawat berkumandang menyambut para jemaah sejak tiba di halaman hotel Oaks, di kawasan Mahbas Jin, yang menjadi tempat tinggal jemaah. Turun dari bis, para jemaah pun disambut dengan karpet tebal dan taburan kelopak mawar.

    Di lobi, berjajar pria-pria mengenakan kaos putih dan celana jeans dengan baki berisi air zamzam, sirup, serta kurma yang disediakan bagi para jemaah. Sesekali, para petugas juga membantu jemaah meminum minumannya.

    Jemaah dengan kursi roda mendapatkan giliran terlebih dahulu untuk memasuki hotel tersebut. “MasyaAllah, Alhamdulillah saya sudah sampai di sini. Langsung dapat minum, dan kurma, macam-macam,” tutur Ahmad Baidowi sambil menyesap air zamzam yang ada di gelasnya.

    Pria berusia 69 tahun ini, mobilitasnya selama di tanah suci terpaksa dibantu dengan menggunakan kursi roda atau tongkat, karena cedera yang dialami. “Saya baru kecelakaan sebelum berangkat haji mba. Ini saya baru operasi tulang belakang, sudah mendingan tapi ya kaki masih lemah, jadi masih harus pelan-pelan aktivitasnya,” ujarnya sebelum diantar ke kamar oleh petugas PPIH.

    Lain lagi dengan Mujiati (57), seorang petani tebu asal Magetan. “Alhamdulillah mba, terharu saya. Tadi sampe di bawah disebar-sebarin bunga, dikasih kurma itu. Eh di atas dibagi nasi juga itu,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

    Hatinya makin senang begitu tahu koper yang ia bawa diantar langsung ke lantai hotel tempat dia menginap. “Sebentar saya masukkan koper ke kamar ya mba, itu sudah ada koper nya,” ujar Mujiati begitu mendengar namanya dipanggil oleh ketua rombongan. Usai istirahat selama kurang lebih dua jam, para jemaah kemudian bersiap umrah dengan menggunakan bus shalawat yang sudah siap beroperasi.

    Sementara itu, seorang calon haji Embarkasi Pondok Gede asal Cilegon, Provinsi Banten meninggal dunia di Rumah Sakit Haji Jakarta Timur akibat serangan jantung yang dideritanya.

    “Ya almarhum atas nama Erfin usia 52 tahun kelompok terbang 12 meninggal sekitar pukul 10.00 WIB,” kata Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Pondok Gede, Ade Erma di Jakarta, kemarin (15/7).

    Ia menjelaskan awalnya almarhum mengalami sakit ketika akan bertolak ke Bandara Soekarno-Hatta. Melihat kondisi tersebut, petugas langsung merujuk ke Rumah Sakit Haji yang berdekatan dengan embarkasi setempat.

    Setelah dirujuk ke rumah sakit, almarhum sepenuhnya diserahkan kepada PPIH karena tim medis hanya sebatas pelayanan kesehatan di embarkasi setempat. Selain Erfin, petugas kesehatan Embarkasi Pondok Gede juga merujuk tiga calon haji kloter 13 ke Rumah Sakit Haji Jakarta Timur karena dalam kondisi tidak sehat.

    Ia menambahkan berdasarkan SKB tiga menteri, JCH dalam kondisi hamil hanya dibolehkan berangkat ke Tanah Suci apabila usia kandungan 14 sampai 26 minggu. Jika di bawah 14 atau di atas 26 minggu maka dilarang. Alasannya, usia kandungan 14 minggu masih terlalu muda dan di atas 26 minggu sudah terlalu tua serta dikhawatirkan bisa keguguran.

    Selain itu, ujar dia, saat ini kondisi cuaca di Tanah Suci dalam kondisi sangat panas antara 45 hingga 50 derajat celsius. Oleh karena itu JCH diminta agar banyak minum air putih dan istirahat yang cukup. “Kita mengimbau jika waktu beribadah telah siap, maka disarankan istirahat agar lebih menghemat energi,” katanya.

    Selain itu, JCH juga diminta banyak mengonsumsi buah-buahan untuk menjaga stamina tubuh serta menjauhi unta karena salah satu hewan penular virus Mers-VOC. Sekretaris PPIH Embarksi Pondok Gede, Tabroni membenarkan salah seorang calon haji batal berangkat tahun ini karena meninggal dunia. Bagi JCH yang dirawat di Rumah Sakit Haji masih bisa berangkat dengan kloter selanjutnya. Namun kepastian bertolak ke Tanah Suci harus berdasarkan rekomendasi dokter.

    “Saat ini memang masih ada yang sedang dirawat di Rumah Sakit Haji dan akan diberangkatkan pada kloter berikutnya,” kata dia. Khusus JCH asal Provinsi Banten yang dalam kondisi hamil juga dipastikan batal bertolak ke Tanah Suci dan baru berangkat pada 2020.

    (ful/fin)