Foto Terlalu Cantik, Calon Anggota DPD Evi Apita Maya Digugat ke MK

(Foto: Kompas.com)

FIN.CO.ID, Jakarta- Nama Evi Apita Maya belakangan jadi perbincangan di jagat maya. Evi adalah calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI nomor urut 26 di daerah pemilihan (Dapil) Nusa Tenggara barat (NTB). Dia terpilih dengan perolehan suara terbanyak dengan total suara sebanyak 283.932. Dia menempati posisi pertama di NTB.

Perempuan berkerudung ini didugat ke MK, lantaran fotonya yang dipakai untuk kampanye, dinilai terlalu cantik. Evi dituduh memanipulasi foto, dengan cara diedit hingga terlihat cantik dari yang aslinya.

Orang yang memperkarakan hal itu adalah Farouk Muhammad. Farouk sendiri merupakan petahana yang suaranya hanya berkisar 188.678 suara. Dia berada di posisi ke 5. Ini berarti, Farouk tidak lolos berdasarkan Undang Undang No. 7 tahun 2017 tentang Pemilu, anggota DPD untuk setiap provinsi hanya empat kursi.

Happy Hayati Helmi, kuasa hukum Farouk Muhammad, menilai foto editan Evi Apita Maya yang dijadikan bahan kampanye sebagai “di luar batas kewajaran”. Ia menduga Evi tidak jujur dalam memperoleh suara.

“Dalam pelanggaran administrasi ini, dilakukan suatu tindakan berlaku tidak jujur bahwa calon anggota DPD RI dengan nomor urut 26 atas nama Evi Apita Maya diduga telah melakukan manipulasi atau melakukan pengeditan terhadap pas foto di luar batas kewajaran, ini akan dibuktikan dengan keterangan ahli,” kata Happy dalam sidang pendahuluan di MK, Jumat (12/07), seperti dilansir Bbc.

Selain itu, Evi Apita Maya juga ditengarai sengaja memajang foto dengan logo DPD RI dalam spanduk. Padahal, kata Happy, yang bersangkutan belum atau tidak pernah menjabat sebagai anggota DPD RI sebelumnya.

“Dengan demikian, atas perbuatan calon nomor urut 26 atas nama Evi Apita Maya, telah nyata mengelabui dan menjual lambang negara untuk menarik simpati rakyat NTB sehingga memperoleh suara terbanyak sebanyak 283.932,” kata Happy.

Happy juga mengklaim telah melacak pemilih dengan alasan foto atas nama Evy Apita Maya “cantik dan menarik”, walaupun pemilih tidak mengetahui siapa calon tersebut.

“Hal inilah kemudian, pemilih, pemohon beserta calon anggota DPD RI lainnya merasa tertipu dan dibohongi,” katanya.
Evi sendiri baru pertama kali maju sebagai Anggota DPD. Ia berasal dari Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Ia besar di Mataram bahkan menikah dan memiliki anak-anak yang lahir di Lombok.

Evi sempat menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro dan cukup aktif mengikuti organisasi. Bukan hanya itu saja, ia pun sempat mengikuti pendidikan singkat di Belanda. (bbc/dal/fin)