Didongkrak Ekspor, Neraca Perdagangan Surplus 200 Juta Dolar AS

FIN.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Juni surplus 200 juta dola AS. Hal ini didongkrak nilai ekspor yang lebih tinggi dibanding impor.

Adapun ekspor Juni sebesar 11,78 miliar atau turun 8,98 persen. Sedangkan impor 11,58 miliar dolar AS atau naik 2,80 persen.

Menanggapi surplus 200 juta dolar AS, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani mengatakan bahwa kondisi itu dipengaruhi oleh beberapa faktor musiman maupun terjadi tren surplus.

“Kita lihat kan tiap tahun ada yang sifatnya berpengaruh dari musiman. Ada juga yang sifatnya adalah tren,” ujar dia di Jakarta, kemarin (15/7).

Terkait ekspor sumbang surplus, mantan direktur pelaksana bank dunia itu mengingatkan kepada seluruh kementerian/lembaga (K/L) seperti yang diminta Presiden Joko Widodo agar mengoptimalkan ekspor.

“Presiden meminta seluruh menteri untuk menggenjot ekspor. Hal ini untuk menangangi masalah neraca perdagangan ini,” ujar dia.

Kemenkeu sendiri, kata Sri, berupaya menjalin kerjasama dengan isntansi lain guna mendukung ekspor.

“Di kemenkeu bicara tentang perpajakan, pajak, bea cukai dan peraturan-peraturan lain yang bisa mempengaruhi kinerja ekspor. Dan kita juga bekerja sama dengan instansi lain guna mendorong ekspor dan menciptakan industri dalam negeri yang lebih kuat,” ucap dia.

Terpisah, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Pieter Abdullah mengatakan, neraca perdagangan surplus lebih disebabkan oleh penurunan impor secara month to month (mtm) yg lebih besar dibandingkan penurunan ekspor.

“Impor menurun 20.70 persen mtm. Sementara ekspor menurun 20.40 persen mtm,” ujar Pieter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (15/7).

Menurut Pieter, penurunan ekspor masih disebabkan oleh kondisi eksternal di mana harga dan permintaan barang komoditi khususnya batu bara dan Crude Palm Oil (CPO).

“Sementara penurunan impor lebih bersifat musiman dan masih ada potensi untuk kembali meningkat,” kata dia.

“Oleh karena itu, ada risiko neraca perdagangan pada bulan Juli ini akan kembali defisit,” sambung dia.

Sementara Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Tauhid mengatakan, penurunan umumnya karena faktor harga komoditas, seperti minyak mentah, minyak sawit, batu bara, maupun komoditas lainnya.

“Saya kira kita harus beralih ke ekspor yang memiliki nilai tambah tinggi dan umumnya tidak mengandalkan sumber daya alam, seperti mesin, peralatan elektronik, tekstil dan pakaian jadi, kapal dan sebagainya,” pungkas dia.

(din/fin)