Bansos Tekan Angka Kemiskinan 0,25 Persen

FIN.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan periode Maret 2019 9,41 persen. Angka ini turun 0,25 persen dibandingkan September 2018 dan turun 0,41 persen dari Maret 2018.

Turunnya angka kemiskinan di Indonesia disebabkan adanya bantuan sosial (bansos) dan juga beras sejahtera (rastra). Penurunan kemiskinan terjadi di desa dan kota.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, angka Garis Kemiskinan (GK) periode Maret ini sebesar Rp425.250 per kapita per bulan. Angka ini naik 5,99 persen dibandingkan periode Maret 2018 sebesar 5,99 persen.

Adapun penghitungan tingkat kemiskinan tersebut memperhatikan komponen GK terdiri dari GK Makanan dan GK Bukan Makanan.

Dia menjelaskan, peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Besarnya sumbangan GKM terhadap garis kemiskinan pada Maret 2019 73,66 persen.

“Beras masih memberi sumbangan 20,595 di perkotaan dan 25,97 persen di pedesaan. Lalu rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua,” kata Suhariyanto di Jakarta, kemarin (15/7).

Lanjut dia menjelaskan, dikatakan miskin jika pendapatannya di bawah Rp1,99 juta per bulan. “Untuk mendapatkan Rp1,99 juta itu bukanlah hal yang mudah memang,” ucap dia.

Suhariyanto menuturkan dengan penghitungan metode ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari pelaku ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan.

Terpisah, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Pieter Abdullah mengatakan, program-program pemerintah yang digulirkan untuk masyarakat dapat menurunkan tingkat kemiskinan.

“Peran program-program pemerintah dalam bentuk berbagai kartu sakti serta bantuan sosial sangat membantu. Penurunan jumlah kemiskinan tentunya harus kita apresiasi,” ujar Pieter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (15/7).

Kendati demikian, Pieter mengingatkan agar terlalu gembira karena ke depan sebaliknya kemiskinan bisa kembali bertambah.

“Karena umumnya yg terjadi adalah lebih ke pergeseran dari miskin menjadi hampir miskin atau mendekati miskin. Jadi masih sangat rentan miskin. Apabila terjadi syok mereka akan kembali miskin,” pungkas Pieter.

(din/fin)