Jokowi: Silahkan jadi Oposisi, Asal jangan Tebar Kebencian dan Caci Maki

    FIN.CO.ID, Jakarta– Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, dalam sistem demokrasi, menjadi bagian dari oposisi adalah tugas mulia. Namun, kata Jokowi, menjadi oposisi jangan sampai menimbulkan dendam dan menebar kebencian

    “Menjadi oposisi itu juga sangat mulia. Silahkan. Asal jangan oposisi menimbulkan dendam. Asal jangan oposisi yang menimbulkan kebencian. Apalagi disertai dengan hinaan, disertai dengan cacian, disertai dengan makian-makian.” kata Jokowi dalam pidato Visi Indonesia yang digelar di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat itu, pada Minggu (14/7) malam.

    Jokowi mengatakan, Indonesia memiliki norma-norma agama, etika, tatakrama, memiliki budaya yang luhur.

    “Kita harus ingat ini, Pancasila adalah rumah kita bersama, rumah bersama kita sebagai saudara sebangsa,” kata Presiden RI dua periode itu.

    Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamza menilai, pernyataan Jokowi tentang oposisi bisa memicu persoalan yang harus diperdebatkan.

    “Presiden memuji oposisi dengan ‘syarat’. Inilah yang kelak akan menjadi persoalan dan harus diperdebatkan,” kata Fahri dilansir FIN dari akun twitternya, Senin (15/7).

    Fahri Hamzah mengatakan, pemerintah apapun alirannya, tidak boleh membuat syarat sepihak atas konsensus demokrasi. Ia harus berlandas hukum.

    “Inilah makna negara hukum yang demokratis dalam konstitusi kita. Pancasila, agama, adat ketimuran bukan milik pemerintah, ia milik bersama,” ujar Politikus NTB ini.

    Dia mengatakan, dulu, orde baru  Pancasila sering dipakai untuk menyerang kiri dan kanan, juga menggunakan nilai “ketimuran” dan agama serta sopan santun untuk membungkam para pembicara yang kritis kepada pemerintah. “Ada trauma di generasi tertentu pada terminologi yang dulu kita lawan.” Katanya.

    “Inilah yang sekali lagi harus dibicarakan. Maka, saya mendorong para juru bicara pasangan Jokowi – KH. Ma’ruf Amin untuk menjelaskan secara lebih luas makna pidato singkat itu. Sebab ia harus dapat menjadi bahan perdebatan kita semua.” imbuh Fahri. (dal/fin).

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here