Jaringan Kelompok Teroris JI Makin Kuat

FIN.CO.ID, JAKARTA – Polri terus mendalami kekuatan ekonomi kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) pimpinan Para Wijayanto. Perekonomian yang begitu mumpuni membuat jaringan teroris ini semakin kuat dan telah menguasai beberapa wilayah Indonesia.

Pengamat Terorisme, Al-Chaidar mengakui bahwa JI adalah kelompok teroris yang memiliki kekuatan basic ekonomi yang mapan. Basic perekonomian ini sudah dibangun sejak lama. Bukan cuma perkebunan kelapa sawit tapi beberapa bisnis lain, seperti perhotelan dan pabrik herbal yang cukup besar.

“Ya, mereka tak cuma punya industri sawit, tetapi juga bisnis perhotelan yang berlokasi di sejumlah tempat wisata, sejak tahun 2007 lalu. Dan hotel itu dibangun dengan konsep hotel pada umumnya, bukan yang syar’i,” kata Al-Chaidar kepada wartawan, Minggu (14/7).

Adapun untuk bisnis industri obat herbal yang dimiliki kelompok terlarang di Indonesia ini, diakui Al-Chaidar, pabriknya cukup besar dan ada di beberapa daerah untuk didistribusikan ke kota-kota besar di Tanah Air.

“Pabrik-pabrik obat herbal ini menjadi salah satu basic ekonomi mereka untuk bertahan dan juga mendanai sejumlah kegiatan organisasi, bahkan kini bisnis itu sudah mapan sekali ya,” ucapnya.

Terpisah, Karopenmas Divisi Humas Polri mengakui, hasil pengembangan dan investigasi tim Densus 88 terhadap para terduga teroris jaringan JI yang ditangkap diketahui, ternyata kelompok ini memiliki perkembangan organisasinya semakin bagus dan kuat.

“Ya, pengembangan tim sementara diketahui organisasi ini semakin bagus, mereka punya deputi umum, sekretaris dan juga bendahara yang kemarin berhasil diamankan di Magetan, Jawa Timur. Kemudian, beberapa kurir yang sudah masuk ke dalam kategori terpapar paham JI,” kata Dedi.

Selain itu, diakui Dedi, kelompok JI yang dipimpin oleh mantan ahli intelejennya, sekaligus cukup mengenal tokoh-tokoh utama JI seperti, Dr Azhari, Nurdin M Top, dan sebagainya juga telah banyak menyiapkan rencana dan strategi guna membesarkan kelompok tersebut.

Menurut Dedi, sejumlah rencana dan strategi baru yang sedang coba dibangun, antara lain upaya membuat Tamkin atau penguasaan beberapa wilayah di Indonesia dengan perkuat pembentukan organisasi lebih modern yang di dalamnya ada struktural khusus penyandang dana.

“Penyandang dana atau pencari dana ini tentu memiliki basic ekonomi yang mumpuni dengan bisnis-bisnisnya, seperti perkebunan kelapa sawit dan bisnis lainnya yang hingga kini masih didalami dan dikembangkan tim Densus 88,” jelasnya.

Di sisi lain, lanjut Dedi, kelompok JI ini juga memiliki pola rekruitmen yang lebih tertutup melalui bisnis maupun media lainnya. Dan para rekruitmennya itu kemudian dilatih dengan diberikan kesempatan untuk ke luar negeri mengikuti langsing praktek perang di Syria dan Irak.

“Ya pernah saya sampaikan, sudah ada enam gelombang diberangkatkan ke Syria dan Irak untuk praktik perang. Totalnya, sekitar 12 orang dan diantaranya, ada yang sudah bolak-balik lebih dari dua kali, dan ada yang belum sempat kesana tapi hanya sampai Turki kemudian dideportasi,” tutur Dedi.

Hal lain, Dedi menyampaikan, kelompok JI juga berusaha lakukan propaganda-propaganda dengan menggunakan media, baik media sosial maupun media yang akan dibuatnya sendiri. Dan ini semata-mata dalam rangka membentuk satu opini tentang kelompok tersebut.

Lebih jauh, kata Dedi, yang perlu diperhatikan masyarakat, kelompok JI ini kerap lakukan pendekatan terhadap tokoh-tokoh agama dan masyarakat untuk melakukan metamorfosa, dan mempersiapkan diri secara rahasia atau silent teror, mempersiapkan managemen chaos.

“Untuk managemen chaos ini, mereka lakukan dengan melihat dinamika di masyatakat ketika terjadi demo, mereka bisa lakukan upaya serangan secara silent dan membuat chaos, kemudian setelah itu strategi berikut melakukan polarisasi umat, hingga pembentukan daulah-daulah di sejumlah daerah,” terangnya.

Dedi mengungkapkan, adapun terkait wilayah yang menjadi target atau sudah dikuasai kelompok JI ini terakhir, daerah Jawa. Sedangkan untuk wilayah pendukung perekonomian, antara lain Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan NTB.

“Wilayah Jawa detailnya tidak bisa kami sampaikan, ini bagian teknis penyidikan karena memang tim masih melakukan pendalaman dan pengembangan lebih lanjut terhadap kelompok ini. Dan fokus kita di sini sedang memastikan aliran dananya, dan itu bisa terungkap jika Deputi-Deputinya tertangkap,” pungkas Dedi. (Mhf/gw/fin).