Satu Kereta, Sate Senayan

FOTO-FOTO: FAISAL R. SYAM

NICE! Sabtu, 13 Juli 2019.

Dan hari ini, saya hari harus mengucapkan Prabowo hebat.

Statmennya Ketua Umum Partai Gerindra itu hebat.

”Saya katakan, saya ini bagaimana pun ada ewuh pakewuh, ada toto kromo. Jadi kalau ucapan maunya langsung tatap muka. Maka hari ini saya ucapakan, selamat pak,” tegas Prabowo seraya menyodorkan tangan, menyalami Presiden Joko Widodo.

Keduanya berjabat tangan dalam satu kereta. Meski banyak yang memaknai. Dalam satu kereta, berangkat bersama. Tapi belum tentu turun di stasiun yang sama.

Dari bahasa tubuh dan mikroekspresi. Tentu ini punya makna.

Jokowi menyukai hal-hal simbolik.

 

MRT menggambarkan sebuah persatuan. MRT terdiri dari beberapa gerbong yang disatukan oleh lokomotif menuju ke satu tujuan. Ini gaya bahasa non-verbalnya pak Jokowi.

Sementara, sate yang dipilih oleh Jokowi untuk acara makan bersama, juga merupakan sebuah simbol yang maknanya serupa dengan kereta MRT.

Sate terdiri dari potongan-potongan daging atau ayam yang kemudian disatukan, ditusuk, dimakan jadi nikmat.

Itu juga perlambangnya sama dengan gerbong kereta tadi. Sate khas Senayan juga yang dipilih.

 

Pertemuan santai antara Jokowi dan Prabowo itu juga dianggap sebagai simbol perdamaian dengan cara yang sederhana dan sangat menunjukkan ke-Indonesian kedua tokoh politik itu.

Ya, apa pun itu maknanya. terserah saja.

Yang pasti. Kegembiraan hari ini harus pula dibarengi dengan keiklasan.

Iklas karena pertemanan. Iklas karena kebangsawanan.

Kalau pun hari ini, keduanya tersenyum dalam bingkai merah putih, tentu harus pula dibarengi dengan kerendahan hati.

Menerima kekalahan. Mengakui kemenangan.

Perbedaan sudah tak ada. Susun bata yang berserak. Lanjutkan lagi perjuangan. Biarkan sejarah yang mencatat itu semua.

 

mas_ipul