Selasa , 16 Juli ,2019
Breaking News

E-Commerce Bukan Penyebab Toko Ritel Tutup

FIN.CO.ID, JAKARTA – Beberapa waktu lalu konsumen Indonesia dikejutkan dengan sejumlah toko ritel pada tutup. Berbagai kalangan menyebutkan biang keladinya adalah keberadaan E-commerce atau perdagangan melalui teknologi digital.

Ketua Umum DPP Aspsiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N Mandey angkat suara, bahwa fakta sebenarnya tidak demikian. Sebab pertumbuhan minimarket masih melesat.

Catatan Aprindo, Minimarket tumbuh 800-900 per tahun, Supermarket tumbuh 10-15 per tahun, dan Hypermarket: tumbuh 2-3 per tahun. Melihat data tersebut, artinya industri ritel Indonesia masih bertumbuh dan konsumsi masih meningkat.

Roy mengklaim, angka Indeks Kepercayaan Konsumen terhadap ritel masih tinggi yakni di atas 100. Juga Indeks Penjualan Riil yang juga di atas 100 atau inflasi terkendali di kisaran 3,1-3,2 persen.

“Ritel tutup karena mereka ingin efisiensi, mengubah business model dan merelokasi dari daerah yang tidak strategis,” tutur Roy.

Dia mengungkapkan, bahwa omzet ritel pada tahun lalu mencapai Rp235 triliun. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan E-commerce. Sementara untuk target tahun ini sebesar Rp240 triliun.

“Pengusaha ritel akan ekspansi di timur Indonesia yang menawarkan peluang cukup besar,” ucap dia.

Kesempatan yang sama. Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat sepakat dengan yang dikatakan Roy, bahwa ritel tutup bukan disebabkan masalah ekonomi namun pengusaha tengah mencari produk yang paling produktif.

“Tutup itu masalahnya macam-macam, ada yang mereka melihat merek itu tak jalan saat ini, mending dibuka baru,” ujar Ellen.

Ellen mencontohkan, Lotus milik MAP yang sempat tutup gerai, akan tetapi MAP justru tetap berkibar dan menambah brand lainnya. Jadi memang pengusaha tengah berpikir kreatif bagaimana produk-produknya diminati konsumen.

Terpisah, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto mengatakan, gugurnya sejumlah ritel modern karena kalah bersaing dengan minimarket yang menjemput bola kepada konsumen.

“Secara umum memang super market besar yang tutup karena kalah bersaing dengan minimarket yang semakin mendekat ke konsumen,” ujar Eko kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (11/7).

Eko menjelaskan, kecendrungan konsumen di zaman sekarang segala sesuatunya ingin efisien. Maka, mereka lebih memilih yang terdekat untuk melakukan transaksi.

“Dengan produk yang dijual relatif sama, sementara kecenderungan selera konsumen belanja lalu segera pergi (hemat waktu), maka super market besar sulit bersaing jika tidak disertai diferensiasi produk yang signifikan,” pungkas Eko.

Seperti diketahui, enam gerai Giant dikabarkan akan tutup lapak hingga 28 Juli sempat membuat heboh. Yaitu, Giant Express Cinere Mall, Giant Express Mampang, Giant Express Pondok Timur, Giant Extra Jatimakmur, Giant Mitra 10 Cibubur, dan Giant Extra Wisma Asri.

(din/fin)

About Redaksi FIN

Check Also

Wow… GIIAS Jakarta 2019 Banjir Program Menarik, Simak Apa Saja

FIN.CO.ID-Setelah sukses menjadi sponsor utama Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 dan GIIAS Surabaya ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com