Selasa , 16 Juli ,2019
Breaking News

Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Anjlok di Angka 4 Persen 2019

FIN.CO.ID, JAKARTA – Ekonom senior, Rizal Ramli menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi di angka 4 persen. Hal tersebut realita yang terjadi saat ini.

Apalagi kondisi ekonomi global yang tidak stabil, ditambah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina belum juga mereda, meski tensi perang sudah menurun.

Atas indikator itu, Rizal Ramli mengatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan bergerak di angka 5 persen, bahkan kemungkinan besar bisa sampai di angka 4 persen.

“Pertumbuhan ekonomi kita 5 persen, atau bahkan bisa 4 persen hingga akhir tahun 2019,” ujarnya di acara Indonesia Lawyer Club (ILC), kemarin (10/7).

Mantan menteri koordinator bidang Kemaritiman itu pun memastikan Indonesia akan kembali berutang dengan bunga tinggi. Sementara negara lain bunganya rendah.

“Mohon maaf, dibilang menteri terbaik (Menteri Sri Mulyani), menteri terbalik ujung-ujungnya berutang lagi,” sindir Rizal.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), mencatat pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir April 2019 sebesar 389,3 miliar dolar AS, atau sekitar Rp5.528 triliun (kurs Rp14.200 per dolar AS). ULN ini tumbuh lebih tinggi dibanding Maret 2019.

ULN tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 189,7 miliar dolar AS, dan utang swasta termasuk BUMN sebesar 199,6 miliar dolar AS.

Pernyataan miring Rizal Ramli tak lepas dari semakin melorotnya neraca perdagangan Indonesia pada November 2018, yang defisit hingga 2 miliar dolar AS.

Berbeda dengan Rizal, Ekonom Indef, Nailul Huda menyakini bertumbuhan ekonomi 2019 masih bertengger di angka 5 persen.

“Kalau saya pribadi yakin masih di angka 5 persen walau untuk di atas itu masih sulit paling tumbuh menjadi 5,1 persen,” kata Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (10/7).
Menurutnya konsumsi masyarakat akan tetap terjaga dengan baik seiring dengan tingkat inflasi yg relatif stabil.

Paling yang mengkhawatirkan adalah investasi yang belum membaik serta ekspor impor yang masih belum stabil.
“Karena daya beli masyarakat yang terjaga, maka pertumbuhan ekonomi akan tetap di angka 5 persen,” ujarnya.

Meskipun ia mengakui dari sisi penerimaan pajak memang menurun, namun hal itu tidak akan membuat pertumbuhan ekonomi jeblok di angka 4,5 persen.

Beberapa waktu lalu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro mengemukakan, tingkat pertumbuhan ekonomi bisa maksimal jika melakukan sesutu secara 100 persen, maka pertumbuhan ekonomi bisa di angka 5,3 persen. Diakui, saat ini memang ada perlambatan ekonomi karena masalah regulasi dan institusi.

(din/fin)

About Redaksi FIN

Check Also

Harga Gas di Indonesia Paling Stabil

FIN.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) menyatakan harga gas di Indonesia terbilang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com